Chapter 5

1.6K 297 112
                                        

King Naru memulai aktivitas paginya dengan berolahraga. Berlari di atas treadmill seraya menikmati irama lagu random yang memanjakan telinganya. Sinar mentari pagi menyeruak bebas memayungi halaman samping di kediaman si Rubah Seksi. Terdapat kolam renang luas berbentuk elips di sana. Adapula sepasang kursi pantai lengkap dengan tenda payung berikut meja bundar berbahan kayu di tengah-tengahnya.

Peluh berjatuhan membasuh tubuh kekar bak binaragawan itu. Wajahnya dingin, berlawanan dengan sorot mata hangat dari safir biru seindah samudera miliknya. Tampan, keren, kaya, terkenal pula dikelilingi jutaan penggemar yang tergila-gila karena pesonanya. Bila ada satu penilaian terhadap tangga kehidupan yang ia tempuh saat ini, makan jawabnya sudah pasti it's perfect. A man with a perfect life, that's precisely.

Dia seorang aktor yang tengah naik daun. Banyak produser menawarkan peran dengan bayaran mahal demi merayu si Rubah Seksi agar mau berakting dalam projek film maupun drama yang digarap. Ketenaran lantas tak pula membawa dia pada sebuah ambisi yang menggebu-gebu. Naru adalah aktor profesional, mengedepankan kualitas daripada kuantitas dalam sepak terjangnya. Tak semua projek ia terima mentah-mentah meskipun kerap diiming-imingi bayaran menggiurkan.

Pernyataan itu bukanlah hanya bualan semata. Pasalnya hal tersebut memang begitu adanya. Seperti sekarang, si Rubah Seksi masih terikat kontrak dengan sebuah PH ternama di Tokyo. Totalitasnya dalam memerankan tokoh patut diacungi dua jempol. Ia tak akan menolak bila label tempatnya bernaung mengharuskan ia mengubah penampilan fisiknya. Beberapa bulan yang lalu ia bahkan sudah mengecat rambut pirang yang merupakan ciri khas baginya.

Terlahir dari kedua orang tua yang berasal dari daratan Eropa, jelas ciri visualnya mencolok dari orang-orang di Jepang pada umumnya, terutama rambut blonde dan bola mata langka berwarna biru. Itulah keistimewaan yang kini jadi kebanggannya, walau sempat mengalami sedikit rasisme dalam sosial. Terjadi 7 tahun lalu ketika pertama kalinya ia memantapkan tekad dan menetap di negara berjulukan matahari terbit itu.

Naru mengelap keringat yang bercucuran dari pelipis sampai lehernya, kaus singlet dan training yang ia kenakanpun turut basah. Satu jam berlalu, Treadmill itu berhenti secara otomatis, sebelumnya ia dengan sengaja mengatur timer pencapaian pada digital monitor alat tersebut.

Helaan napas panjang ia buang ke udara, mewakili rasa lelah bersama denyut jantung yang sekarang berpacu sangat cepat. Naru mengistirahatkan diri di kursi santai. Ia duduk sembari menyeruput habis segelas jus jeruk dingin. Pelayan selalu menyediakan minuman penyegar tersebut setiap kali pria itu berolahraga pagi.

Merasa detak jantungnya mulai kembali normal, ia bersandar di kursi dan menggunakan kedua lengannya sebagai penyanggah kepala. Sesaat kemudian kelopak matanya terpejam seakan sedang melamunkan sesuatu yang masih tersembunyi di benaknya. Dalam hitungan menit ia mendengus gusar. Wajahnya ditekuk, kernyitan di dahinya samar-samar muncul. Naru pun meraup oksigen sebanyak ia butuhkan demi memperbaiki suasana hatinya yang kini menjadi buruk. Sekiranya apa atau siapa penyebab, takkan ada yang tahu. Ia bukanlah sosok penyendiri, tapi phobia yang dia derita secara tak langsung membatasi keberadaan dirinya bersama orang lain, pula tentu tak ada ruang untuk berbagi cerita.

Kegelisahan itu membuat Naru kian gerah hingga berujung ia melepas seluruh pakaian, hanya menyisakan boxer briefs yang membalut benda tabunya, mungkin berenang tidaklah buruk dan bisa sedikit mengurangi panas di kepala. Bunyi kecipak air terdengar begitu ia melompat ke kolam. Naru menendang-nendang permukaan air dan sesekali ia menenggelamkan sejenak kepalanya.

Tendangan kaki pria itu semakin cepat namun tetap konstan bersama dayungan kedua lengannya. Raut wajah Naru berubah, ia kembali bersemangat. Senyum kelegaan tergambar jelas di bibir pria itu. Nyatanya, ia cukup senang sebab masih bisa menikmati kesendiriannya tanpa harus berperang dengan segala kerumitan oleh mysophobia yang ia derita.

.
.
.

"Roti isi, sudah. Kopi, teh dan susunya juga sudah. Ehm... apa lagi yang kurang?" ujar Hinata sendirian sembari menaruh semua yang ia sebutkan tadi ke nampan. "Astaga! Aku hampir lupa, harus pakai sarung tangan kalau mau menemui si mulut samyang." ucapnya lagi lalu mengenakan sarung tangannya.

Hinata mengembuskan napasnya ke udara. Berurusan dengan Naru sungguh membuat dia kebingungan. Boros kata-kata, ia harus punya seribu satu jurus pembalasan bila saja si pria mysophobia itu menjejalinya dengan berbagai kalimat intimidasi yang luar biasa menjengkelkan. Belum lagi teori objektif yang entah dari mana dia dapat, tapi selalu berhasil membuat Hinata cengo tak berdaya. Ketus dibalas cuek, aneh dibalas kegilaan. Ia memutuskan untuk tetap maju melawan si Rubah Seksi. Tak ada cara lain jika dia masih ingin berada di istana mewah ini, bila mengalah artinya harus siap angkat kaki dan semua rencananya akan gagal sebelum dimulai.

Ia melangkah tenang seraya merapal doa-doa keselamatan, berharap semoga saja si Rubah Seksi moodnya baik hari ini. Sampai di depan pintu kamar Naru, Hinata bergeming. Benda yang menggantung di rongga dadanya tiba-tiba saja berdetak kencang. Barangkali ia menjadi gugup atau takut saat dirinya semakin dekat dengan sang Aktor. "Hinata... dia hanya manusia biasa, bukan dewa sungguhan. Ya.. meskipun tampangnya yang songong itu memang tampan, tapi kau harus bisa mengalahkan keangkuhannya. Ingat, demi kebebasan!" ia mengoceh agar mengembalikan kepercayaan dirinya yang nyaris hilang. "Tuhan... tolong selamatkan aku dari si mulut samyang."

Selesai berdoa, Hinata menarik napasnya dalam-dalam, mengumpulkan keberaniannya untuk mengetuk pintu. "Tunggu di sana..."

"Dasar, pria menyebalkan!" umpat Hinata. Bukannya mempersilakan masuk, pria itu malah menyuruhnya menunggu di luar. Jelas saja hal ini membuat Hinata kesal bukan main. Ia mulai menggerutu, menyalahkan isi nampan yang dia bawa. "Dia tidak tau apa, yang ku bawa ini berat? Seberat langkahku untuk berjalan ke sini." gadis itu mendengus malas, menundukkan wajahnya.

Sementara di kamar, Naru baru saja menyelesaikan ritual pembantaiannya di kamar mandi. Apa lagi kalau bukan berendam di bath up selama waktu yang ia tentukan sendiri. Suara ketukan pintu sedikit mengejutkan pria itu. Terpaksa dengan tubuh yang masih basah dan belum mengenakan apapun, hanya selembar handuk yang melingkar di pinggangnya, ia mendekati pintu lalu menarik engselnya. "Kau!" hardik Naru.

"Aku membawakan sarapan untukmu." tutur Hinata dengan tenang. Ia mengulas segaris senyum yang membuatnya tampak lebih manis dari biasanya.

"Tetap di situ."

"Bilang saja harus di mana aku meletakkannya. Dari tadi kau terus saja menyuruhku menunggu. Yang ku bawa ini berat, kau sendiri tidak akan sanggup." akhirnya Hinata kembali menyerocos setelah berusaha tenang namun jelas ia tak mampu.

"Tidak, kau tidak boleh masuk. Pokoknya tetap di situ." titah Naru seraya menunjuk tegas pada gadis itu.

"Aku tidak mau." Hinata menghentakkan kakinya ke lantai, mengindahkan perintah Naru dan ia justru menyelonong masuk.

"Heh, induk kuman! Kau dengar apa yang ku katakan tadi? Tunggu di sana... kau mengerti tidak?!" Naru meninggikan suara. Raut wajahnya jelas menunjukkan ketidaksukaan.

"Eh! Kau pikir kau siapa, huh?! Aku tidak takut denganmu. Kalau tidak mau makanan ini bilang saja dari tadi. Jangan seenaknya mengejek orang, kau sendiri aneh, penakut, sombong. Meskipun wajahmu tampan, tetap saja takkan ada gadis yang suka dibentak olehmu." sahut Hinata membalas seruan Naru dengan suara tak kalah lantang. "Dasar, mulut samyang!" ejek Hinata, lalu tanpa menunggu pria itu menjawab ia mempercepat langkahnya meninggalkan kamar sembari membawa kembali nampannya.

"Hei, itu sarapanku."

"Bukan! Aku yang membuatnya, jadi ini untukku." jawab gadis itu cuek bahkan tidak menoleh.

Tersulut emosi, ia meremas kasar rambutnya. "Menyebalkan! Sialan!" umpat Naru lalu membanting pintunya.

Suara keras debaman pintu membuat Hinata terperanjat kaget hingga menghentikan langkahnya. "Rasakan! Aku tidak takut denganmu. Ketus dibalas cuek, aneh dibalas kegilaan. Uhm... akan terus ku ingat jurus ini."

Bersambung...

Loving with OCD Guy ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang