Hinata masih terus menyusul Naru. Keduanya telah tiba di mansion mewah milik si rubah seksi. Tetap bersikap tak acuh, Naru sengaja mempercepat langkah kakinya.
"Kubilang tunggu! Aku hanya ingin bicara sebentar denganmu. Kenapa kau sangat menyebalkan? Aku terus mengejarmu dari tadi, tapi kau bahkan tak mau melihat wajahku." Hinata berteriak geram, hingga berhasil menghentikan langkah laki-laki itu.
"Bukankah aku sudah memintamu untuk pergi?" kata Naru setelah berbalik menghadap Hinata, tapi ia menundukkan wajahnya.
"Kau sangat egois, kau hanya mementingkan perasaanmu sendiri," hardik Hinata seraya kian mendekat pada lelaki itu.
"Apa? Aku egois? Jadi kau sendiri pantas disebut apa? Kau berbohong dan sengaja mempermainkan perasaanku," balas Naru lantang.
"Aku terpaksa melakukannya, aku tidak punya jalan lain." Hinata frustrasi, ia mulai menangis.
"Tidak, kau yang egois. Kau menghancurkan perasaanku. Bagaimana kau bisa mengerti apa yang kurasakan, kau bukan sosok yang kucintai. Gadis itu tidak pernah ada, aku seperti orang bodoh karena pernah memimpikannya. Padahal dia tidak nyata, dia hanyalah sebagian kecil dari kebohonganmu." ucap Naru tak kalah putus asa.
"Miya Hanako itu adalah aku!"
"Bukan! Aku masih ingat namamu. Kau Hyuuga Hinata dan bukan Nako. Nako hanya gadis sederhana dan ceria."
"Tolong, mengertilah! Aku yang membuat nama itu untuk menyembunyikan jati diriku."
"Kau yang harus paham. Aku mencintai Miya Hanako, tidak orang lain." Naru bersikeras dengan kehendaknya, wajah lelaki itu berubah merah akibat amarah yang meluap-luap.
"Baiklah! Biar kubuktikan padamu. Jika kau tetap pada keputusanmu... aku janji akan pergi jauh darimu," ucap perempuan itu seraya menghapus linangan air mata di wajahnya.
Hinata menghampiri Naru dengan langkah tenang. Ia melirik sejenak safir biru yang masih tetap enggan untuk melihatnya. Hinata pasrah akan apa yang terjadi setelah ini. Ia mendesah pelan, kemudian memeluk tubuh laki-laki itu.
"Apa yang kau..."
"Hanya sebentar dan kuharap kau bisa merasakannya. Bila kau masih menemukan perbedaan antara diriku juga Nako, aku bersumpah untuk tidak memaksamu lagi," ucap Hinata lirih bersama air mata yang kembali turun.
Sedangkan Naru, laki-laki itu spontan bergeming. Ia diam terpaku. Aroma yang sama, irama jantung juga rasa hangat tubuhnya, semua tidak berbeda dari yang pernah ia rasakan. Hingga secara tiba-tiba, tanpa ia sadari air mata pun kini jatuh ke pipinya.
"Kenapa hanya karena sebuah nama kau langsung membenciku? Padahal kau punya lebih banyak sebutan, tapi aku tidak pernah keberatan. Kau juga mengecat rambutmu 'kan? Jadi kenapa cuma aku yang disalahkan?" Suara Hinata berubah parau, tangannya meremas kuat kemeja Naru.
Entah apa yang mempengaruhi suasana di antara mereka hingga menjadi semakin haru, keduanya larut dalam tangis tak bersuara. Barangkali rindu yang selama ini ditahan terlampau menyiksa.
Perlahan kedua tangan Naru terangkat, lalu dia membalas erat pelukan Hinata. "Maaf. Aku tak bisa berpikir jernih. Terlalu menyakitkan saat tahu yang kaucintai justru tidak mempercayaimu, untuk apa kau menutupinya dariku? Kau bilang mencintaiku 'kan? Entah kenapa karena kejadian itu aku merasa seperti orang bodoh yang sedang dipermainkan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Loving with OCD Guy ✓
RomanceSiapa yang bisa menolak jika harus dihadapkan pada suatu kelainan aneh. Mengidap misofobia bukanlah keinginan Naruto. Tentu saja hal ini sangat mengganggu dan bertolak belakang dengan pekerjaan yang tengah dirinya geluti. Berkutat dengan kamera, lam...
