Demi cinta, sedari awal Naru rela untuk keluar dari zona nyamannya. Meskipun harus berjuang melawan rasa cemas, mensugesti dirinya sendiri bahwa tak ada hal buruk yang akan terjadi. Walau semua itu jelas terasa sulit. Tapi dalam benak ia cukup yakin, bila menjalani dengan emosional positif maka segalanya menjadi lebih mudah. Berujung lambat laun kini ia mampu berdiri di tengah-tengah tempat, yang selama ini bagai ancaman mutlak baginya.
"Jangan memaksakan dirimu. Kita tidak harus ke sini hanya untuk berkencan," ucap Hinata tenang namun ekspresi wajahnya tampak khawatir. Keduanya berada di depan Taman Ueno.
Ueno Park adalah taman umum yang berada di kawasan Ueno, distrik Taito-ku, Tokyo, Jepang. Nama resminya adalah Taman Ueno, Pemberian Kaisar (Ueno onshi koen). Ueno Park juga merupakan taman paling populer di Jepang yang menarik lebih dari empat belas juta pengunjung di setiap tahunnya. Baik siang atau malam, taman ini selalu ramai pengunjung. Taman dengan luas sekitar 530 ribu meter persegi ini dikelola oleh Dinas Pekerjaan Umum Tokyo.
"Aku hanya mencoba bersenang-senang seperti pasangan lain."
"Jadilah dirimu sendiri. Untuk apa dipaksa bila kau tidak merasa nyaman saat melakukannya." Hinata menjawab saat mendengar pengakuan si rubah seksi.
"Tapi aku tidak ingin selamanya menjadi pria dengan kelainan. Aku ingin pacarku betah bersamaku setiap waktu. Mustahil kau tahan bersama pria yang tak bisa memberimu kesenangan." Naru mengungkap kecemasannya.
"Kalau sebaliknya yang terjadi, bagaimana?" sahut Hinata dengan pandangan serius.
"Pokoknya yang kumau adalah menjalani semuanya sebagai pria normal, agar kau selalu bahagia selama bersamaku."
"Tolong berhenti jika kau merasa tak kuat lagi. Aku sama sekali tidak keberatan dengan kondisimu." Hinata merangkul lengan Naru, mengusap-usap pelan, lalu menyandarkan sejenak kepalanya di sana.
"Ada dirimu, makanya aku yakin bisa," kata Naru enteng. Ia menurunkan tangan Hinata, kemudian menautkan jari-jari mereka. Sekilas senyum terlepas dari bibirnya sebelum ia berkata, "Ayo, kita masuk."
"Nyonya, kami sudah memastikan, dia memang Nona Hinata. Tapi aku bingung, dia terlihat sangat akrab dengan aktor terkenal. Kalau tidak salah orang-orang sering memanggilnya Sexy Fox. Apa mungkin pria itu teman nona?"
"Pantau dan ikuti terus mereka. Jangan ada pergerakan sekecil apa pun sebelum kuberi perintah."
"Baik, Nyonya."
-----
Sebagian besar wisatawan asing yang datang ke Taman Ueno mempunyai tujuan utama untuk melihat Kebun Binatang Ueno. Di kebun Binatang Ueno terdapat beberapa binatang yang unik, seperti panda besar, okapi yang merupakan saudara jerapah, dan sebagainya. Di Jepang, panda besar hanya bisa ditemukan di tiga kebun binatang, antara lain Kebun Binatang Ueno di Tokyo, Kebun Binatang Oji di Prefektur Hyogo, dan Wakayama Adventure World di Prefektur Wakayama.
Oleh karena itu, bagian kandang panda di Kebun Binatang Ueno selalu penuh dengan pengunjung meski bukan hari libur.
Bagi para pengunjung yang ingin memberi makan panda, pihak kebun binatang telah membuat jadwal tersendiri. Bahkan waktu pemberian makan panda dengan bambu diunggah di sebuah situs resmi dan terdapat juga di pintu masuk kebun binatang. Orang-orang yang ingin melihat aktivitas selagi para panda itu makan bambu, maka dianjurkan untuk mengatur rencana kedatangan menurut jam pemberian makan.
"Kau tidak apa-apa? Hari ini pengunjungnya lumayan ramai," kata Hinata begitu mereka tiba di kandang rusa.
Rusa Jepang merupakan hewan yang dipelihara dengan penuh kasih sayang di Nara dan Miyajima. Rusa ini juga bisa di temukan di kebun binatang Ueno tersebut.
"Tenanglah, aku baik-baik saja. Sewaktu di Seoul tanpa sengaja aku merusak liburan kita. Aku sedang mencoba memperbaikinya sekarang." Naru berujar halus seraya mengamati beberapa ekor rusa yang ada di kandang.
"Sudah kubilang bukan salahmu. Aku yang bertanggung jawab atas peristiwa itu, karena aku yang sengaja meninggalkanmu di sana."
Naru menghela napas ringan, lalu menyelipkan kedua tangan ke saku celana, "Tidak usah dibahas lagi, katanya singkat. Lalu merapat ke kandang agar dapat memperhatikan rusa-rusa itu dari jarak yang lebih dekat.
Hinata menatap sosok Naru dalam diam. Sorot matanya berubah sendu, ada kalanya rasa takut muncul secara tiba-tiba dan mengusik hati. Kenyataan kalau dia terlanjur cinta. Bukan cinta sekadar singgah, atau pula cinta yang sifatnya hanya sementara. Barangkali Hinata telah masuk terlampau dalam.
"Mau coba menyentuhnya?" ia bertanya saat sudah berdiri di sebelah Naru. Sedangkan lelaki itu menoleh, memperlihatkan ekspresi wajah ragu-ragu. "Sini, kau pasti merasa senang." Hinata menggamit tangan Naru dan dengan hati-hati menuntun hingga tangan lelaki itu berhasil memegang kepala rusa. Sempat sekilas Naru ingin menarik tangannya karena waswas, namun genggaman jari-jari Hinata mampu kembali menenangkannya. "Lihat! Tidak terjadi apa-apa padamu 'kan?"
Naru menanggapi Hinata sebatas senyuman. Atensinya berpusat pada rusa itu lagi, ia lebih nekat untuk mengusap perlahan sampai ke punggung binatang tersebut. "Aku suka mereka, selalu tenang seolah tak punya kesedihan atau pun keluhan."
"Seperti dirimu, aku benar 'kan? Kau... hanya menyendiri dan menyembunyikan kesepian yang kau rasa," tutur Hinata santai. Tanpa ia sadari begitu mudah terucap olehnya.
"Itu lebih baik dari pada orang-orang menganggapku aneh. Sama dengan yang pernah kau pikirkan tentang diriku." Naru tersenyum tipis, lalu berjalan lambat mendahului Hinata.
Kata-kata Naru yang baru saja ia dengar, menyebabkan hatinya sedikit merasa tercubit. Ia prihatin dengan keadaan lelaki itu. Dalam lamunan Hinata berjanji untuk tidak meninggalkan Naru apa pun yang terjadi nanti.
Di Kebun Binatang Ueno, terdapat sekitar 3.000 jenis binatang yang berasal dari 400 spesies berbeda. Jika terburu-buru, tidak ada salahnya memilih binatang-binatang yang ingin dilihat terlebih dahulu guna menghemat waktu.
Di tempat ini pengunjung juga bisa menyaksikan banyak binatang hampir punah yang dilindungi oleh Jepang. Ada Japanese serows (Caprinornis crispus), bangau Jepang, burung jenjang Jepang, salamander besar Jepang dan masih ada jenis lainnya.
"Kau sengaja menghabiskan seluruh tenagamu baru berhenti?" ujar Hinata memberi sindiran halus, cukup kesal dengan kekeras kepalaan yang ditunjukkan Naru. Padahal sedari tadi ia sudah berulang kali mengingatkan agar mereka berhenti sejenak. Namun lelaki itu tak mengindahkan satu pun ucapannya.
Mereka memilih duduk di kursi yang ada di bawah pohon rindang, beristirahat barang sekejap di sana sebelum pulang. "Aku lelah. Beberapa menit saja, biarkan aku tidur." Naru menyandarkan kepalanya ke pundak Hinata, sementara perempuan itu hanya diam menuruti sambil mengusap lembut kepala Naru.
Aku merasa sangat bersalah padamu, Naru... dan aku tidak akan pernah siap untuk menyaksikan kekecewaanmu karena perbuatanku. "Ya, kau boleh tidur sebentar."
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Loving with OCD Guy ✓
Storie d'amoreSiapa yang bisa menolak jika harus dihadapkan pada suatu kelainan aneh. Mengidap misofobia bukanlah keinginan Naruto. Tentu saja hal ini sangat mengganggu dan bertolak belakang dengan pekerjaan yang tengah dirinya geluti. Berkutat dengan kamera, lam...
