Di dalam mobil, Naru membuka kembali kacamata berikut topi yang dikenakan. Ia menghela napas ringan dan menatap sejenak lurus ke depan.
"Akhirnya selamat, untung tidak ada yang tahu."
"Kenapa pergi diam-diam? Itachi tidak diberi tahu? Ayah ibumu juga masih di sana," kata Hinata sembari menatap heran pada si rubah seksi.
"Aku sudah sangat lelah menghadapi wartawan-wartawan tadi, pertanyaan mereka banyak sekali. Kalau menunggu sampai filmnya selesai, bisa-bisa kita malah pulang malam."
"Kau yakin begini tidak masalah? Aku memikirkanmu, takutnya mereka mencarimu nanti."
"Minggu depan acaranya masih ada, aku akan menebusnya di situ." Naru menoleh dan memandang Hinata dengan seulas senyum simpul di bibirnya yang tipis. "Jangan khawatir. Aku sudah mengirim pesan pada Itachi, dia bisa mengurus semuanya." Naru menjamah bibir Hinata, jari-jari panjangnya bergerak halus di benda sensitif itu. "Kita pulang sekarang?"
"Uhm." Hinata mengangguk lambat, debar jantungnya langsung memburu karena sentuhan Naru.
"Rencanaku hampir berhasil." Laki-laki itu berujar sangat pelan.
"Kau bilang apa barusan?"
"Aku tidak mengatakan apa pun, mungkin pendengaranmu yang salah," jawab Naru santai dan tetap fokus mengendalikan roda setirnya. Entah apa yang kini sedang direncanakan olehnya, hanya ia yang tahu.
-----
"Aku menunggumu di atas, ya. Jangan terlalu lama, ada yang ingin kuberikan padamu." Naru berujar begitu ia sudah memarkirkan mobil di halaman. Laki-laki itu melangkah masuk, hendak menuju ke kamarnya.
Hinata menyusul si rubah seksi di belakang. Dalam diam ia menatap penuh tanya pada sosok si aktor tampan. "Dia agak aneh hari ini, ada apa sebenarnya?" kata Hinata pelan seperti sedang berbisik. Kemudian ia mempercepat langkahnya ke dalam mansion. "Naru, mau makan sesuatu?" tanyanya ketika lelaki itu masih menapaki anak tangga.
"Nanti saja, aku belum lapar." Naru menoleh, lalu menjawab seadanya. "Kalau kau lapar, makanlah duluan. Jangan sampai lupa, aku menunggumu di atas," kata Naru lagi untuk mengingatkan rencana sebelumnya.
Merespon lewat anggukan, Hinata hanya membalas singkat, "Baiklah. Aku ganti baju sebentar."
-----
"Lama sekali. Sudah hampir setengah jam aku menunggumu." keluh Naru, kemudian laki-laki itu berpindah ke ranjang untuk mengambil sebuah paper bag kecil. Tadinya ia sengaja berbaring di sofa selagi menunggu Hinata datang.
Naru memberikan paper bag itu kepada Hinata seraya berkata, "Untukmu."
"Apa ini?"
"Lihat saja sendiri," jawab Naru, lalu ia bersedekap. Menunggu Hinata membuka bingkisan persegi panjang berwarna maroon tersebut.
"Kalung?"
"Apa yang kau lihat?" tanya Naru sambil sedikit mendekat.
"Kalung platinum dengan liontin cincin berlian." Hinata menjawab polos, ia menatap kotak berisi kalung dan wajah Naru secara bergantian. "Aku sedang tidak berulang tahun hari ini, lalu hadiahnya?"
"Apa saat memberi hadiah harus di hari-hari tertentu?"
"Bukan itu maksudku, tentu tidak. Tapi cincin berlian ini seperti cincin kawin." Hinata menuturkan dengan kernyit di dahi, dikarenakan masih bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Loving with OCD Guy ✓
RomansSiapa yang bisa menolak jika harus dihadapkan pada suatu kelainan aneh. Mengidap misofobia bukanlah keinginan Naruto. Tentu saja hal ini sangat mengganggu dan bertolak belakang dengan pekerjaan yang tengah dirinya geluti. Berkutat dengan kamera, lam...
