Minggu ini adalah minggu terakhir mereka di Seoul. Kemarin Shooting film juga sudah rampung dan sebagai salam perpisahan, seluruh orang yang terlibat di dalam pembuatan film mengadakan makan malam bersama. Selain Naru dan Hinata mereka semua pergi ke sebuah resto ternama yang ada di kawasan Gangnam. Memilih pulang ke hotel, menikmati makan malam dari menu andalan hotel, tentu Naru tak ingin merusak acara makan malam mereka hanya karena kehadirannya.
"Minum ini, seorang pegawai hotel merekomendasikannya padaku. Dia bilang sangat bagus, bisa menghangatkan tubuh. Jadi aku sengaja membeli banyak untuk kita." Hinata mengimbuhkan begitu ia memberikan satu sachet minuman ginseng kepada Naru. Bukan langsung meminum, Naru meneliti kemasannya. "Tidak apa-apa, hanya semacam ramuan." Hinata merobek ujung kemasan lalu mengisap isinya, "Cukup enak menurutku, coba saja," kata perempuan itu lagi.
Begitu mencecap rasa ramuan ginseng, Naru pun berkata, "Tidak buruk juga." ia tersenyum singkat.
"Aku benar 'kan?"
"Uhm, badanku terasa sedikit lebih baik."
"Kita jadi pergi tidak? sayang bila menyia-nyiakan waktu yang tersisa. Kudengar Sakura juga pergi berjalan-jalan, penulis itu mengajaknya ke pantai." Hinata berjalan ke wastafel dan mencuci sebentar kedua tangannya, lalu kembali menemui Naru di Pantry.
"Mau ke pantai?"
"Eh, tidak." Hinata menggeleng cepat. Tentu dia tak akan meminta untuk mengunjungi tempat tersebut, apa lagi ia tahu Naru pasti merasa gelisah jika berada di suasana panas dan beringsang. Ditambah debu-debu berterbangan kala angin menyapu pasir yang mengering.
"Kau tidak mau pergi denganku, ya?" Naru bertanya dengan wajah lesu, seakan tengah dilanda kecewa.
"Tentu aku mau. Tapi kita pergi ke tempat lain, aku sedang tidak ingin ke pantai. Cuacanya panas sekali, pasti semakin gerah di sana," sahut Hinata tenang selagi ia menyingkirkan cangkir-cangkir kotor dari atas meja, yang mereka gunakan untuk minum teh sebelumnya.
"Entah kenapa aku merasa seperti penghalang. Kalau bersama teman-temanmu, kau bisa pergi ke mana pun kau mau. Ajak mereka, aku di sini saja. Kau tidak mungkin melepas kesenanganmu hanya karena diriku. Mungkin kau akan merasa bosan, berbeda denganku yang memang sudah terbiasa. Aku tidak apa-apa, nikmati hari liburmu. Sudah dua kali 'kan rencanamu gagal?"
"Jangan menyalahkan dirimu, semua kulakukan murni atas keinginanku sendiri." Hinata mendesah pelan, memandang Naru yang beranjak menuju kamar lalu duduk di sofa. Tak berselang lama Hinata menyusul lelaki itu. "Kalau kubilang aku akan pergi jika kau ikut, bagaimana? Aku juga tidak akan keberatan bila harus menghabiskan waktu di hotel. Semua terserah padamu." ia mengamati Naru dari bingkai pintu sembari bersedekap. "Ayolah, aku tahu tempat yang cocok untukmu. Bagaimana kalau COEX Aquarium?"
"Maksudmu akuarium raksasa itu?" Naru agak terkesiap dan bingung.
"Kalau kita ke sana, orang-orang tidak begitu peduli dengan pengunjung lain. Mereka pasti lebih tertarik untuk melihat beragam jenis ikan yang ada dari pada memperhatikanmu. Kita juga bisa menyaksikan banyak atraksi hebat di tempat itu.
"Kau yakin di sana aman?" tanya Naru sedikit meragukan rencana Hinata.
Menghela napas ringan, ia pun menjawab, "Serahkan segalanya padaku." senyum mengembang terlepas dari bibir Hinata.
KAMU SEDANG MEMBACA
Loving with OCD Guy ✓
RomanceSiapa yang bisa menolak jika harus dihadapkan pada suatu kelainan aneh. Mengidap misofobia bukanlah keinginan Naruto. Tentu saja hal ini sangat mengganggu dan bertolak belakang dengan pekerjaan yang tengah dirinya geluti. Berkutat dengan kamera, lam...
