Siang yang tenang juga membosankan. Naru berencana keluar kamar, begitu Itachi memberitahu bahwa semua petugas kebersihan sudah pergi. Tentu saja setelah memastikan tugas-tugas mereka seluruhnya rampung menurut standar Naru. Laki-laki itu sedang merapikan rambutnya yang halus di depan cermin kemudian mendekat dan membuka meja perhiasan di mana ia menyimpan ratusan jam tangan, gelang, berikut cincin perak atau titanium sebagai pelengkap penampilannya. Selagi King Naru memilah mana yang ingin dikenakan, atensinya malah tertahan pada jam tangan Rolex berwarna perak. Laki-laki itu meraihnya dan seketika kilas balik akan kenangan tiga tahun silam muncul lagi di benaknya.
Aku punya hadiah untukmu, Nick. Pertemanan kita harus dirayakan. Boleh aku yang memakaikannya padamu? Jam tangan ini akan membuatmu selalu mengingatku. Tahu artinya 'kan? Kau tidak boleh melupakan aku. Rekaman peristiwa itu berputar. Naru bergeming sejenak sebelum meneliti jam tangan tersebut, ada hal yang membuatnya merasa heran. Agaknya baru kali ini pula ia menyadari. Dibalik case jam tangan ada ukiran sangat kecil namun masih dapat dibaca dari jarak terdekat yang bisa dijangkau matanya. "I Love you-Nickelson Norwin" seketika Naru meremas jam tangan tersebut, ia menggeram sebelum berteriak. Jam itu mengubah emosinya, pengakuan lama dan terlambat dia tahu. "Bohong! Kau pembohong, Alexa!" itulah suara lantang yang menegaskan gundah hatinya saat ini. Kekecewaan lalu, kembali menguakkan luka lama.
Alexandra Lubov adalah dokter muda yang sempat dalam waktu singkat menjadi dokter pribadi bagi Naru. Meskipun junior, prestasi akademik gadis cantik itu setara dengan seniornya di bidang yang sama, sampai Ibu suri berencana memperkenalkan mereka. Kala itu Alexa tengah menyelesaikan tugas akhir demi kelulusan magister-nya.
Sebagai seorang nenek, ia ingin yang terbaik bagi cucu kesayangannya. Apalagi dia memang mengenal luar dalam dokter muda itu. Selain paras cantik dan kecerdasan yang dimilikinya, ia berasal pula dari keluarga bangsawan. Sungguh Alexa gadis yang spesial sampai Ibu suri teringin untuk menjadikannya cucu menantu.
Tanpa kendala berarti, niat itu berhasil terlaksana. Ibu suri dan Alexa melangsungkan sebuah kesepakatan. Alexa diberi izin untuk menjadikan Naru sebagai objek risetnya dengan imbalan ia akan berusaha mendekati laki-laki itu. Tak ada yang gagal, segalanya berjalan sesuai asa Ibu suri. Nyatanya pada waktu itu, Naru bahkan tidak keberatan dengan kehadiran Alexa. Makan, mengobrol, pergi bersama adalah hal biasa yang mereka lakukan dan Naru sama sekali tidak menunjukkan kondisi syok-nya.
Hubungan terencana lambat laun berkembang. Muncul rasa berbeda dan istimewa di hati Naru untuknya. Betapa dia mengagumi Alexa, selalu menunggu kehadiran gadis itu. Tak ada satu halpun dalam diri Alexa yang tidak membuatnya terpesona.
Namun keputusan Alexa menghempas kuat rasa bahagia yang kadung tercipta. Baru pertama kali mencicipi indahnya menyukai seorang gadis, Naru harus puas menelan frustasi secepat terbenamnya matahari senja di kala malam melengserkan tempatnya. Alexa menetapkan langkah untuk menggapai karirnya di bidang kejiwaan, sehingga ia memilih meneruskan mimpi di negeri Paman Sam.
Sejak hari itu penyakit Naru kian parah, kepergian Alexa menyebabkan ia berubah dingin. Tak acuh pada siapa pun pula tak menginginkan lagi dokter manapun untuk menangani kondisinya. Hal itu juga sebagai pemicu dirinya hijrah ke Tokyo, kemudian memulai karir sebagai aktor hingga sekarang.
Kenangan itu pada akhirnya mengulang perih yang sama dan bagi prinsipnya... pantang memberi tempat baru bagi peristiwa yang pernah berlalu. Pikiran itu pula membawanya pada sikap definit. Tetap tenang, ia berusaha mengenyahkan segala nostalgia agar tidak mendalam. Naru menarik satu kali napas panjang sebelum mengambil sebuah kotak jam dan menyimpan jam tangan pemberian Alexa di situ. Tanpa ragu ia lalu mengasingkannya ke laci persemayaman barang-barang tidak terpakai.
▪▪▪
Di ruang tengah, beberapa orang sedang berkumpul. Itachi, Saara, Hinata dan dua orang pria yang baru dikenal. "Nako, bagaimana pagi tadi? Dia masih menolakmu?" bisik Saara pada Hinata yang duduk di sebelahnya.
"Tidak, Kak. Dia menerima sup buatanku, dia bahkan tidak mengizinkan saat kubilang mau membawa sup itu kembali ke dapur." Hinata membalas juga dengan suara berbisik.
"Nako... mereka berdua akan membantumu. Lebih tepatnya mereka yang nanti bekerjasama denganmu untuk mengurus Naruto." Itachi menghela napas ringan lalu menggulir pandangannya ke semua orang di sana. "Setelah kupikir-pikir, aku tidak bisa membiarkanmu bekerja seorang diri, takutnya kau kewalahan. Jadi, cukup fokuskan mendampingi Naruto. Selebihnya serahkan pada Kiba dan Lee." timpal Itachi untuk menerangkan niatnya sekaligus memperkenalkan kedua pria itu.
"Sayang, kau yakin dia setuju dengan kebijakanmu? Melibatkan orang-orang baru lagi?" Saara mengimbuhkan, ia serius menatap suaminya saat ini.
"Kau tenang saja, percayakan semua pada Kiba dan Lee, mereka tidak akan mengecewakan. Aku juga sudah bilang pada Naruto tidak mungkin menemani hingga projek selesai. Itulah alasanku mempekerjakan mereka berdua." jawab Itachi demi menghapus keraguan Saara. "Nako, sore nanti dia ada pertemuan dengan artis yang menjadi lawan mainnya, kau ikutlah ke agensi. Aku perlu mengantar Saara ke dokter kandungan, tolong ya?!" Itachi menuturkan, dibalas anggukan lambat oleh Hinata.
"Baiklah, asal dia tidak keberatan denganku. Mereka?" Hinata menunjuk bergantian pada Kiba dan Lee.
"Tetaplah di sini, kau bilang mau mencari tempat tinggal 'kan Lee? Kurasa tidak usah, Mansion ini masih sangat luas untuk menampung kalian." anggukan cepat oleh kedua pria tersebut lalu mengulas senyum lebar.
"Terimakasih." ucap Lee amat bersemangat. "Tadinya aku bingung memikirkan harus menyewa apato lagi, jujur saja untuk sekarang kami tidak punya uang."
"Lee!" seru Kiba agak menahan suara. Laki-laki berambut coklat itu membagi senyum sungkan dari bibirnya. Ia melayangkan tatapan jengkel kepada Lee.
"Apa? Kenapa? Aku hanya berkata jujur."
"Maaf, Bos. Mulutnya memang lemes." ucap Kiba bersama tawa sumbang.
□■□■□
Naru berjalan tenang menuruni satu persatu anak tangga. Menuju dapur ia membuka kulkas, mengambil botol minuman berisi jus mangga lalu meminumnya. "Kau sudah siap?" ujar Hinata lambat tapi secara tiba-tiba sehingga Naru pun terkesiap dibuatnya, laki-laki itu menjorok ke belakang.
"Kenapa?" jawabnya terputus-putus, ia berdeham kemudian kembali tegak.
"Itachi memintaku ikut denganmu. Dia baru saja pergi membawa Saara ke rumah sakit." tutur Hinata terdengar sangat hati-hati, perempuan itu langsung menunduk. Takut bila Naru bereaksi sama terkejutnya dengan yang baru saja terjadi.
"Tapi aku bisa sendiri, harusnya kau tidak perlu..."
"Bukan, bukan itu maksudku. Aku tahu kau tidak membutuhkanku. Ehm, begini... kontrak kerjaku dengan Itachi sudah berjalan dan aku mencoba bekerja secara profesional. Maafkan aku..." lagi-lagi Hinata menunduk. "Aku tetap harus ikut." sambung perempuan itu sambil nyengir.
Naru mendesah pelan, sejenak ia memperhatikan Hinata. "Baiklah, ayo." titah laki-laki itu.
Sikap tenang Naru adalah napas kelegaan bagi Hinata. Segalanya pasti lebih mudah jika dia benar-benar bisa menjaga interaksi baik dan positif dengan aktor tampan tersebut. Senyum kepuasan mengembang di wajahnya. "Aku sudah menyiapkan perlengkapanmu." ia berujar, "Semuanya di dalam koper kecil ini." timpalnya lagi seraya mengetuk-ngetuk sisi koper.
Laki-laki itu menghentikan langkahnya tanpa aba-aba. Ia menoleh dan sekarang Hinata yang dibuat tersentak hingga reflek menjauhkan tubuhnya. "Ada apa?" ucapnya kaku karena mendadak terserang gugup.
"Percepat jalanmu, aku tidak suka menunggu." jawab Naru santai dengan senyum tipis.
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Loving with OCD Guy ✓
RomanceSiapa yang bisa menolak jika harus dihadapkan pada suatu kelainan aneh. Mengidap misofobia bukanlah keinginan Naruto. Tentu saja hal ini sangat mengganggu dan bertolak belakang dengan pekerjaan yang tengah dirinya geluti. Berkutat dengan kamera, lam...
