Chapter 31

1.1K 247 189
                                        

Sedari tadi Hinata belum juga berhenti menyeka peluh Naru yang masih terus-menerus keluar. Tubuhnya terasa dingin, perempuan itu memastikan dengan menyentuh dahi juga pada leher Naru. Kini si rubah seksi itu hanya dapat berbaring di kasur. Matanya sulit terpejam, namun enggan pula untuk terbuka. Denyut hebat menyerang kepalanya dan begitu tiba di mansion ia langsung menuju ke kamar, untuk beristirahat.

Hinata terdengar menghela napas dalam, hingga mengusik atensi Naru, "Kau kenapa?"

"Aku kehabisan kata-kata. Setiap kali menyetujui rencanamu, kau selalu berakhir seperti ini. Kelihatan sekali aku yang tidak becus mengawasimu," kata Hinata menerangkan kegelisahan dirinya.

"Memang aku sendiri yang mau. Maafkan aku, ya. Aku selalu saja membuatmu khawatir." Naru bicara dengan nada suara lirih dan terdengar lemah.

Entah mengapa sejak pertama kali si rubah seksi ini mengumumkan menerima keberadaanya, tanpa Hinata sadari ia selalu saja berupaya agar mereka semakin dekat. Hingga beragam cara pun ia lakukan, walau terlihat seakan-akan ia ingin menjauhkan Naru darinya. Namun di dalam hati, yang menjadi harap adalah dapat bersisian dengan si aktor tampan.

"Kau selalu berjuang untuk menunjukkan usaha terbaikmu dan hal itu membuatku sungguh tersanjung. Tapi aku juga merasa bersedih saat melihatmu harus mengalami semua ini. Aku jadi lebih suka bila kau tetap menjadi dirimu yang dulu." Seraya mengusap-usap kepala Naru, Hinata berkata serius. Kernyit di dahinya muncul tipis, bersama raut kecemasan yang belum hilang.

Ditemani hawa dingin yang sedikit menusuk di kulit, Naru bergerak lambat saat meraih tangan Hinata. Ia menggenggamnya sangat erat. "Kau bilang akan terus mendukungku, aku menagih janjimu itu sekarang. Aku tidak apa-apa, hanya masalah kecil. Mungkin karena lelah juga, apa lagi  kni pertama kalinya aku berada di luar selama itu." Kelopak matanya yang sayu memandang sendu pada Hinata.

Hinata tersenyum, senyum meneduhkan. "Tentu, aku tidak akan pernah mengingkari janji-janjiku.

"Kepalaku semakin pusing," keluh Naru lemas. Bersamaan dengan Hinata yang turut kembali waswas. Ia menyentuh dahi Naru dan langsung terbelalak. "Badanmu sangat panas. Kenapa jadi begini. Baru saja tubuhmu terasa dingin, sekarang tiba-tiba menjadi panas."

"Aku baik-baik saja."

"Apanya yang baik-baik saja? Aku harus menghubungi dokter sekarang. Tapi Kak Itachi tidak ada di sini, aku tidak tahu dokter mana yang harus kuhubungi. Tunggu sebentar ya, biar kutelepon Itachi." Hinata kini bergerak gelisah karena bingung.

"Nako... tenanglah. Tidak perlu menelepon  dokter, mereka tidak akan membuat kondisiku membaik. Temani aku di sini, jangan ke mana-mana. Besok aku pasti sembuh." Naru menarik tangan Hinata dengan sisa tenaga yang ia punya. Gelagatnya tersebut membuat Hinata mendesah pelan, lalu merapatkan diri dan duduk di samping lelaki itu.

"Aku tunggu sampai kau tertidur."

-----

Cahaya mentari pagi menelusup di balik tirai jendela kamar. Naru terbangun dari tidur pulasnya tadi malam dalam keadaan berangsur-angsur membaik. Meskipun wajah lelaki itu masih terlihat pucat, namun tidak dengan tubuhnya yang sekarang lebih bugar.

Pagi indah bagi si rubah seksi. Senang bukan main karena mendapati Hinata masih tertidur pulas di sampingnya. Si gadis penawar, khusus untuk ia seorang. Ketakutan berlebihan terhadap dunia luar tak lagi muncul jika ada sosok Hinata di pihaknya. Sedikit demi sedikit Naru mulai kuat untuk membiasakan diri dengan lingkungan yang mengelilingi.

Senyum menawan miliknya terurai, iris biru itu memancarkan sinar memukau setiap kali kelopak matanya terbuka. Bukankah dia memang dibekali visual istimewa? Mau bagaimana lagi, ia berasal dari keturunan bangsawan nan rupawan, sebuah fakta absolut tidak tersanggahkan.

Jari-jari panjangnya terulur perlahan sampai ke pipi Hinata. Naru memberi sentuhan halusnya di sana, seraya mengagumi wajah polos perempuan itu. Sungguh tak menduga kalau Hinata akan benar-benar menemani dirinya semalaman, bahkan hingga dia pun ikut tertidur.

Jamahan jemari Naru di wajahnya, lambat laun berhasil mengusik ketenangan dalam tidurnya dan kini ia terbangun. Matanya mengerjap-ngerjap, menyesuaikan keberadaan kilau emas sang surya yang menyelinap masuk ke lubang-lubang ventilasi.

"Kau yang membuka tirainya?" Hinata bertanya dengan suara serak khas orang-orang yang baru terbangun dari tidurnya. Laki-laki itu hanya menggeleng, lalu membagi senyum tipis, namun kentara. "Astaga, berarti aku lupa menutupnya. Kurasa aku ketiduran tadi malam. Bagaimana dirimu?" Hinata mengambil duduk dan bersandar di kepala ranjang. Lalu tangannya kembali memastikan ulang suhu tubuh Naru di keningnya. "Panasnya sudah turun. Kau bangunlah, bersihkan dirimu. Tugasku sekarang adalah menyiapkan sarapan untukmu, akan kumasak bubur." Tutur Hinata tenang, kemudian turun dari ranjang. "Ayo cepat, jangan cuma senyum-senyum saja."

"Iya. Badanku masih agak lemas, aku tidak bisa buru-buru."

"Maafkan aku," kata Hinata sambil nyengir-nyengir layaknya kuda. "Aku terlalu bersemangat karena kau sudah pulih."

-----

Gorden jendela dapur disingkap Hinata, ia mengelap meja terlebih dahulu sebelum mulai memasak bubur. Bahan-bahan pelengkap langsung ia ambil dari lemari pendingin. Wortel, kentang juga udang yang baru-baru ini menjadi makanan favorit si rubah seksi. Sebelum memulai aktivitas, ia menggulung sejenak rambutnya ke atas.

Sayur-sayur sudah siap ia potong, berikut dengan udang yang pula sudah dibersihkan. Berlanjut Hinata meraih panci yang tergantung pada dinding dapur berbahan keramik, kemudian mengisinya dengan secangkir beras.

Begitu panci tersebut sudah dipanaskan. Hinata berencana untuk menyeduh teh herbal yang dapat menghangatkan tubuh. Baru saja tangannya akan mengaut teko dari lemari. Bunyi bel spontan mengalihkan pikiran Hinata. Ia beringsut ke depan untuk membuka pintu.

"Halo, Nona. Apa putraku di rumah? Kau siapa?" Wanita paruh baya, tapi dengan fisik bagai perempuan muda berdiri anggun di depannya. Di sebelahnya berdiri gagah sosok laki-laki paruh baya tapi juga tampan berkharisma. Hinata agak mengerutkan keningnya saat menyadari ada yang tak asing. Wajah lelaki tersebut begitu mirip dengan Naru.

"Apakah anda berdua adalah orang tua Naru?" Hinata bertanya santun.

"Jika yang kau maksud Namikaze Naruto, anakku. Maka kau benar. Kami ayah ibunya," jawab Kushina membenarkan  pernyataan Hinata.

"Silakan masuk, dia ada di dalam." Hinata menuntun keduanya ke ruang tengah dan meminta mereka duduk di sofa. Sedangkan Hinata, ia berniat menaiki tangga untuk meminta si rubah seksi itu turun. Namun belum langkahnya naik kw anak tangga, Naru malah muncul di hadapannya.

"Kenapa Ayah dan Ibu berada di sini?" Ia terperangah, cukup terkejut dengan kehadiran orang tuanya secara mendadak.

"Kami merindukanmu, Nak. Oleh sebab itu kami berkunjung. Lihat ayahmu, dia sangat ingin bertemu denganmu." Kushina mengimbuhkan dengan tutur lembut seolah terdengar mendayu-dayu di telinga.

"Sekarang ayah dan Ibu sudah melihatku, sebaiknya kalian segera pulang. Aku tidak nyaman dengan keberadaan siapa pun di tempat ini," jawab Naru cuek, hingga Hinata terperangah dan langsung menatapnya heran.

"Naruto, ada yang ingin Ayah katakan padamu." Minato berujar seraya mengangkat langkah mendekati Naru.

"Ayah, tetaplah di situ. Ayah sangat kotor. Sebelum membersihkan diri, ayah tidak boleh mendekat. Ibu juga."

Bersambung...

Loving with OCD Guy ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang