Suasana tegang memenuhi ruang kamar berukuran luas tersebut. Memang tak menyenangkan bila harus berhadapan dengan situasi ini, seperti yang dialami Hinata. Perempuan itu diam terpaku, memandang punggung Naru dengan ekspresi waswas yang kentara.
"Naru. Boleh aku bicara?" Hinata berkata ragu-ragu, ia bergerak gelisah sedari tadi. "Akan kujelaskan semuanya padamu, beri aku kesempatan bicara dan kuharap kau mau mendengarnya." Hinata tetap bergeming di tempat. Tak bernyali untuk mendekati Naru yang kini berada beberapa meter darinya. Laki-laki itu sedang berdiri di balkon membelakangi Hinata, ia menghadap ke luar jendela.
"Untuk apa lagi? Semua sudah terlanjur."
"Aku... aku terpaksa melakukannya. Menyembunyikan identitas, agar orang-orang tidak mengenaliku. Waktu itu aku bingung harus pergi ke mana, hingga langkahku tanpa sengaja berhenti di depan gerbang mansion ini. Kulihat tak ada siapa pun, pintunya juga terbuka. Aku masuk untuk menemui siapa saja yang mungkin bersedia membantuku. Tapi tetap saja aku tak menemukan keberadaan siapa pun. Lalu..."
"Kau punya banyak kesempatan untuk jujur sebelum semua ini terjadi, sekarang penjelasan itu tak ada gunanya." Naru menjawab datar dan enggan menoleh pada Hinata.
"Aku takut kau akan..."
"Kau lebih senang berbohong untuk menyelamatkan dirimu, meskipun harus mengorbankan perasaan orang lain," sela Naru. Suaranya terdengar bergetar.
"Tidak, aku tidak pernah bermaksud untuk..."
"Pergilah!"
"Naru, dengarkan aku dulu. Aku bersungguh-sungguh..."
"Hyuga Hinata, kumohon tinggalkan aku! Pergilah dari sini! Kita tidak saling mengenal, sulit bagiku untuk berdekatan dengan orang asing," ucap Naru teramat berat. Ia memalingkan wajah ke samping, menutupi tangis yang berangsur-angsur mulai membasahi pipinya.
Begitu pun Hinata. Ia tertegun, terbelalak tak percaya kala Naru meminta dirinya untuk meninggalkan tempat itu. Padahal hati sudah terlanjur terpaut dengan sosoknya. Tak menduga rasanya bisa sesakit ini, ketika yang dicintai tiba-tiba memberi jarak. Namun, apa yang dapat ia lakukan selain mencoba berlapang dada.
Bagaimana pun juga, Naru tidak sepenuhnya salah atas sikap itu. Dialah yang paling terluka di sini. Merasa menjadi orang bodoh, akibat telah jatuh cinta pada seseorang yang bahkan merahasiakan jati dirinya.
Tangis Hinata turut terlepas, begitu menyadari rencana yang diperbuat olehnya membawa mereka ke dalam situasi terlampau rumit, bagaikan banyaknya liku di sebuah labirin. Berakhir ia mundur perlahan dari kamar Naru, menelan pedih yang kini memenuhi rongga di dada hingga sesak.
-----
"Apa yang terjadi, sayang?" tanya Hannaeri saat mendapati Hinata dalam keadaan menangis. Wanita paruh baya itu segera menghampiri, menyusul Kushina yang juga turut penasaran.
"Semua gara-gara, Ibu. Sekarang dia sangat marah padaku, aku juga harus segera pergi dari sini. Aku tidak mau dia semakin terluka hanya karena keberadaanku," jawab Hinata terbata-bata.
"Ibu tidak paham maksudmu, Hinata. Sebenarnya..."
"Bagaimana Ibu akan tahu? Ibu bahkan tidak mau mendengarkanku. Semuanya hancur, dia salah paham, Ibu." Hinata terisak, kemudian bergegas ke kamarnya. Mengabaikan Hannaeri dan Kushina yang sekarang tercengang dalam banyak tanya di kepala mereka.
"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi pada anak itu," keluh Hannaeri sembari memijit-mijit pelipisnya yang pening.
"Sepertinya aku sedikit memahami, meskipun dugaan ini belum terbukti sepenuhnya benar. Tapi kurasa mereka sedang jatuh cinta," kata Kushina menanggapi, lalu tak lama ia mendesah pelan. "Jangan terlaku kau pikirkan, bisa saja tebakanku justru salah." Timpal wanita dengan julukan Eternal Red Rose tersebut.
"Mungkin ada benarnya. Apa sebaiknya kita pastikan dulu? Begini, aku tidak keberatan jika memang di antara anak-anak kita terjalin sebuah hubungan. Hanya saja perlu bukti yang jelas."
Sejenak Kushina tampak berpikir, menit ke sekian dia pun berkata, "Ada satu cara dan aku yakin ini pasti berhasil."
-----
Langit yang mendung seolah dapat merasakan kesedihan lelaki itu. Dinginnya suasana cukup untuk membuat tubuh menggigil. Belum ada terlihat tanda-tanda bahwa hujan akan berhenti, beriringan dengan gulana di hati Naru yang pula masih belum bisa terobati. Sudah semalaman penuh ia mengunci pintu kamarnya, tak mengindahkan apa pun lagi, termasuk panggilan ibu.
Kamar Naru berubah berantakan, banyak pecahan kaca berserakan di lantai, belum lagi beberapa perhiasan mahal yang rusak, bahkan ranjang king size itu pun turut menjadi sasaran amarah si rubah seksi, seprai dan selimut pembungkus kasur tercampak di sembarang arah di lantai. Ia melampiaskan rasa sakitnya dengan menghancurkan benda-benda yang tampak.
Laki-laki itu tergeletak, meringkuk menghadap ke lemari raksasa. Ada bercak darah hampir mengering di punggung tangannya. Betapa tidak, Naru memukul kuat cermin yang menempel di lemari dengan kepalan tinjunya. Sehingga menyebabkan cermin itu pecah dan tangannya pun ikut terluka.
Keadaan si aktor tampan tersebut tak kalah memprihatinkan. Hampir 24 jam ia belum juga beranjak dari kamar. Tak seperti lelaki lain pada umumnya, yang lebih memilih mencari hiburan ke tempat-tempat menyenangkan. Berbeda dengan Naru, mustahil bila ia mengambil solusi tersebut. Bukannya berhasil menenangkan kecamuk dalam otak, boleh jadi nyawanya yang justru terancam.
Suara mendobrak pada pintu terdengar sangat keras, namun Naru tetap tak mengacuhkannya. Hingga pintu terbuka, Ibu yang terperanjat karena menyaksikan kekacauan hebat di ruangan itu, langsung histeris. Ditambah lagi saat mendapati Naru dalam kondisi sama buruknya. Ia terburu-buru menghampiri, raut wajahnya seketika menjadi panik.
"Badannya sangat panas, tapi dia menggigil." Kushina berkata cemas seraya menatap gusar suaminya. "Ayo, kita bawa Naru ke rumah sakit, aku takut terjadi apa-apa padanya. Wajahnya pucat sekali," jelas Kushina lagi ketika sudah memastikan keadaan putranya tersebut. Suhu badan Naru memang tinggi, tapi dia seolah sedang kedinginan. Belum lagi mukanya pucat dengan bibir yang membiru.
"Dia tidak akan suka bila kita membawanya ke rumah sakit, Kushina," sanggah Minato berusaha tetap tenang. Sementara di belakang mereka, Itachi berikut asisten Naru yang lainnya pun juga muncul.
"Ya Tuhan, tangannya berdarah! Apa yang terjadi padamu, Nak? Kenapa kau menyiksa dirimu?" Kushina amat khawatir. Ia mengusap-usap kepala putranya dan tak lama kemudian wanita itu menangis. "Itachi, cepat hubungi dokter. Lihatlah! Dia bahkan tak menyahut ucapanku. Nak, katakan pada Ibu. Apa yang menyebabkanmu sampai seperti ini?" Kushina terus meracaukan kegelisahannya. Sedangkan Itachi, laki-laki berambut panjang tersebut kini bergegas menghubungi dokter pribadi Naru. Ia melangkah ke depan, menepikan diri sejenak, agar percakapannya dengan dokter yang dimaksud tidak terganggu.
"Pokoknya Naru harus ikut pergi bersama kita pulang ke Inggris, aku tidak bisa membiarkan dia sendirian di tempat ini, Minato. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dan saat itu tidak ada yang mengetahuinya. Dia satu-satunya putraku." Linangan air mata Kushina kian menganak sungai. Meskipun bergetar, ia mengatakan keinginannya tadi bersama pandagan menuntut.
Kemauan sang istri bagai perintah mutlak bagi Minato, berakhir laki-laki paruh bayu itu menghela napas berat, kemudian berkata, "Baiklah, kita bawa Naruto ke Inggris. Akan kuhubungi Alexa secepatnya dan mengatur jadwal terapi untuk putra kita."
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Loving with OCD Guy ✓
RomanceSiapa yang bisa menolak jika harus dihadapkan pada suatu kelainan aneh. Mengidap misofobia bukanlah keinginan Naruto. Tentu saja hal ini sangat mengganggu dan bertolak belakang dengan pekerjaan yang tengah dirinya geluti. Berkutat dengan kamera, lam...
