Kilau jingga mentari menemani kota Tokyo sore itu. Saat orang-orang usai dengan urusan masing-masing, entah itu pekerjaan, sekolah atau hanya sekadar menyibukkan diri. Jalanan mulai dipenuhi keramaian, angkutan kota, pejalan kaki, rutinitas maysarakat yang begitu padat. Begitupun di mansion King Naru, semua orang tampak repot kecuali lelaki itu. Seraya membaca majalah, ia duduk santai di sofa kamarnya. Sementara Hinata berikut dua staf baru tengah mempersiapkan barang-barang dan semua perlengkapan untuk dibawa ke Seoul.
Begitu Hinata selesai, ia pun menghampiri Naru ke kamar. Berniat menanyakan apakah lelaki itu ingin makan sesuatu sebelum keberangkatan mereka ke bandara dua jam ke depan. Hinata masuk saat Naru sudah mempersilakannya, ia melangkah ke balkon di mana lelaki itu berada kemudian bertanya, "Mau aku memasak sesuatu untukmu? Takutnya di perjalanan nanti kau lapar, sudah pasti hidangan di pesawat tidak akan kau makan." menunggu lelaki itu berpikir, ia pun mengamati lekat-lekat wajah bingungnya.
"Spageti."
"Kau baru makan spageti tempo hari, yakin?" Hinata berujar bersama kernyit di dahinya, sedikit mempertanyakan karena ia merasa agak ragu dengan permintaan Naru.
"Iya, buatkan saja untukku. Rasanya tidak boleh berubah dari yang kemarin." ia menegaskan lagi tanpa mengalihkan atensinya dari majalah fashion yang ia baca. "Nako, kau sudah menyiapkan semua barang-barangku, 'kan?"
"Uhm, aku baru menyelesaikannya," angguk Hinata, "Kau tunggulah di sini, biar kuantar spagetinya begitu sudah matang." ia langsung berpindah ke dapur, menyiapkan makan malam untuk lelaki itu, meskipun lebih awal dari waktu yang sebenarnya.
▪▪▪
"Sakura, akhirnya kau datang. Aku sempat berpikir kau membatalkan rencanamu ikut bersamaku." selagi ia mengaduk-aduk pasta di dalam pan, Sakura pun tiba. Perempuan berambut merah muda itu menyamperi hingga ke dapur. Setibanya Sakura di mansion Naru, Sara menyambut dan mempersilakannya masuk, ia juga memberitahu keberadaan Hinata.
"Aku menyetujui ajakanmu, mana mungkin membatalkannya secara tiba-tiba. Tiket gratis sangat sayang bila disia-siakan." Sakura menjawab santai. Ia mengambil piring di rak yang ada di samping kulkas, kemudian menyendok spageti untuk dimakan sendiri.
"Sakura! Kau bisa memasaknya sendiri jika mau. Kenapa malah mengambil yang ini," tutur Hinata jengkel, namun diabaikan lalu oleh Sakura.
"Kau masak banyak, tidak mungkin habis kau makan semuanya," kata Sakura kemudian mulai mengunyah perlahan pasta yang masih panas itu.
"Makanan ini kesukaan Naru, aku memasaknya khusus untuk dia," ketus Hinata.
"Wah, aku mencium bau-bau skandal di dekatmu, Hinata," Sakura beringsut ke meja makan agar bisa lebih santai menikmati pastanya. "Kemungkinan akan ada cinta di antara kalian," ungkap perempuan itu kemudian.
"Terserahlah, aku tak peduli apa pun ucapanmu. Kalau sudah siap, ke kamarku saja," kata Hinata seraya membawa sepiring pasta berikut air mineral dingin untuk Naru.
"Tumben, baru sebulan dia sudah jatuh cinta."
▪▪▪
Hilir mudik orang-orang masih tampak ramai kala mereka sudah tiba di bandara. Naru dan Hinata memilih penerbangan kelas utama akibat kondisi khusus yang dialami lelaki berambut pirang itu. Memberi jarak dan melewati pengunjung dengan hati-hati, keberadaan Hinata seakan menjadi penyelamat. Betapa tidak, sejak Naru mulai menerimanya sebagai asisten, perempuan itu berubah bagai pengawal untuknya. Hinatalah yang berjalan di depan Naru, demi melindungi lelaki itu dari sentuhan-sentuhan tidak disengaja. Begitupun yang terjadi hari ini, lagi dan lagi Hinata menjadi tameng yang siap sedia melindungi dia kapan pun dan di mana pun.
"Terima kasih," napasnya tersendat-sendat begitu mereka berhasil melalui kerumunan. Peluh dingin membasahi dahi Naru, hanya sesaat karena Hinata langsung menyekanya dengan handuk kecil yang dia bawa, berikut segala perlengkapan darurat untuk Naru.
"Kenapa kau tidak memakai masker? Dari tadi kuperingatkan, tapi kau tetap tak mau." Hinata berujar ketika mereka berada di area gate. Ia menatap cemas kepada Naru.
"Saat ini aku tidak mau memakainya," jawab Naru singkat. Menyembunyikan alasan di balik penolakannya untuk mengenakan masker. Padahal justru Hinatalah yang menjadi penyebab keengganannya.
Kala mereka semua masih di mansion, menunggu keberangkatan ke bandara. Hinata memastikan bahwa Naru telah siap berbenah dengan melihat langsung lelaki itu di ruangannya. Atensi Hinata tertahan, ia mematung seraya memandangi dalam diam, begitu ia berhadapan dengan Naru. Tak menyadari, ia pula sempat mengatakan bahwa lelaki itu sangat tampan dengan rambut pirangnya. Tampak serasi dengan wajah bangsa asing yang melekat dalam dirinya. Sontak Naru tersipu, meskipun ia dapat menutupi. Hingga lelaki itu mengambil sebuah keputusan, tidak akan menggunakan masker saat dia bersama Hinata, sebuah respon yang tak disangka-sangka, menyebabkan dia seolah melupakan hal-hal yang semula ia pikir dapat membahayakannya.
"Sungguh tidak apa-apa?" Hinata menanyakan lagi. Namun ia masih bertahan dengan jawaban yang sama. Hinata mendesah pelan, mengalah pada jawaban Naru.
▪▪▪
Penerbangan dengan kelas utama atau kelas satu sangat bervariasi, mulai dari kursi sandar besar dengan ruang kaki lebih luas dan lebar dibandingkan kelas lain hingga suite dengan kursi bersandar penuh, ruang kerja, dan televisi yang dikelilingi oleh pembatas privasi.
Keadaan tersebut menegaskan bahwa ketidaknyamanan bagi orang-orang berukuran tubuh lebih tinggi akan berkurang. ada pula setidaknya satu kamar kecil untuk penggunaan eksklusif bagi penumpang first class tersebut.
Naru tampak mengistirahatkan tubuhnya dalam posisi setengah duduk, dengan menjulurkan kaki tak lama kelopak matanya pun mulai terpejam. Sementara Hinata baru saja menghampiri, ingin mengesahkan kalau ia memang baik-baik saja. Senyum simpul di bibirnya muncul, mendapati Naru yang kini tertidur. Wajah tampannya terlihat damai, Hinata benar-benar menyukai gaya lelaki itu. Tubuh semampai dibalut pakaian sederhana, namun justru hal tersebut yang menyebabkan ia sangat indah untuk dipandang, bahkan terlalu bagus sebagai seorang aktor. Sampai-sampai ia terpikir, bagaimana jadinya jika Naru adalah seorang jenderal, dokter kepala atau jaksa. Barangkali daya tariknya akan naik sebanyak tiga kali lipat dan kepala Hinata kian pening ketika akal membawa lamunan semakin jauh. Sontak ia menggelengkan kepala seraya tersenyum geli, sebelum kembali ke tempat duduknya.
▪▪▪
Ketenangan menggiring Naru ke dalam suasana hati gembira, jelas tergambar di wajah lelaki itu. Di dalam mobil limosin yang akan mengantar ia dan Hinata ke hotel, sepanjang jalan Naru mengulas senyum kekal di bibirnya. Ia tak menangkap perhatian Hinata yang pula sedari awal terus tertahan padanya. Bagi Hinata hal tersebut adalah peristiwa langka yang teramat sayang jika dilengahkan.
"Naru, ada apa? Apa yang membuatmu terus-terusan tersenyum?" akhirnya perempuan itu menuturkan rasa ingin tahunya.
"Hem? Tidak ada," sahut Naru singkat. Ia pertegas dengan menggeleng kepala. Kita sudah sampai di Seoul dan aku merasa lega karena tidak ada kejadian sekecil apa pun yang menyusahkan," timpal lelaki itu lagi seraya menatap serius, di dalam hati ia menyimpan kebenaran sesungguhnya.
Hinata mengangguk lambat sebelum menjawab, "Aku memang bersyukur untuk hal itu. Tapi sikapmu ini tidak pernah terjadi, atau mungkin aku yang baru menyaksikan." Hinata menjawab hati-hati agar lelaki itu tak salah memahami perkataannya.
"Kau boleh berpikir kalau hari ini adalah hari keberuntungan untukku."
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Loving with OCD Guy ✓
RomanceSiapa yang bisa menolak jika harus dihadapkan pada suatu kelainan aneh. Mengidap misofobia bukanlah keinginan Naruto. Tentu saja hal ini sangat mengganggu dan bertolak belakang dengan pekerjaan yang tengah dirinya geluti. Berkutat dengan kamera, lam...
