Chapter 21

1K 238 167
                                        

Naru enggan melepas tatapannya dari Hinata. Perempuan itu kini tengah bersenda gurau bersama Sakura. Ia sangat menyukai senyuman itu, senyum cantik yang melekat dari bibir mungil merah muda si asisten jahil, si induk kuman. Sayangnya si induk kuman tersebut tak lagi menyebalkan seperti sebelumnya. Dia gadis baik juga penuh perhatian. Ya, walaupun perhatian itu hanya boleh dimiliki oleh  dirinya seorang. Iris safir biru terpaku kala si induk kuman tertawa. Oh Tuhan, dia sungguh menggemaskan. Matanya menyipit, pipi gembilnya yang lembut begitu mengundang untuk dicubit.

"Nako, kau jangan terus-terusan tertawa. Aku jadi tidak tahan ingin mencubit pipimu ini." tiba-tiba saja Kiba sudah berada di depan Hinata, lelaki itu tanpa canggung langsung mencubit pipinya.

"Kau memang tidak sopan, Kiba," ketus Sakura sembari menggelengkan kepala.

"Salahkan Nako, kenapa dia begitu menggemaskan," kata Kiba santai, lalu menyampirkan sebelah lengannya ke pundak Hinata.

Tidak terima akan tindakan Kiba yang suka seenaknya, Naru lantas berdeham. Ia melirik tajam pada Kiba. "Eh. Halo, Bos. Aku sampai lupa kalau kau juga ada di sini. Maaf." lelaki berambut cokelat itu menunduk dengan senyum canggung di wajahnya. Sedangkan Naru yang sudah terlanjur kesal, tanpa basa-basi menyingkirkan lengan Kiba dari pundak Hinata.

"Nako, cepat semprotkan! Kau terkontaminasi. Aku tidak mau kuman-kuman ikut menempel di tubuhku karena seharian kita terus bersama." Naru menyerahkan sanitizer kepada Hinata, disambut kernyit dahi oleh perempuan itu. "Kau juga, Kiba. Kau selalu berkeringat. Jaga jarakmu dari orang lain. Kau tahu 'kan jika keringat berlebih maka bakteri di tubuhmu semakin banyak, bisa menyebabkan bau badan. Kusarankan agar kau sering-sering mandi," titur Naru menyarankan, lalu menghadiahi Kiba seulas senyum kaku.

"Naru...!" dari jarak beberapa meter, Shion Angela meneriaki nama lelaki itu sembari melambaikan tangan. Ia berjalan anggun, kian mendekat dengan senyum tertahan di wajah eloknya.

Mendengkus kasar, Naru bersedekap. Tapi ia tetap mencoba ramah. Menarik sudut bibirnya dengan susah payah sebagai cara membalas yang sopan kepada si perempuan berambut perak.

"Wah, dia cantik sekali dari jarak sedekat ini, seperti artis Hollywood. Apa dia pacar si bos?" Kiba menggilir tatapannya pada Sakura dan Hinata. "Aku memang beruntung, tidak salah jauh-jauh datang ke kota ini. Kemujuran selalu berpihak padaku, aku dikelilingi bidadari-bidadari surga. Tapi yang ini surga dunia," kata Kiba meracau.

Sakura mendesah pelan, lalu mengatakan, "Cukup kegilaan ini. Pria dengan segala bualan manis di balik nafsu. Menjengkelkan!" Sakura memandang Kiba dengan sewot. "Nako, aku pergi dulu. Karena Shion Angela datang, berarti Sasuke sudah selesai berbicara dengannya. Si penulis genit itu pasti mencariku ke mana-mana kalau tidak menemukanku di sana. Bisa-bisa dia membatalkan janjinya."

"Janji apa?" Hinata tersenyum geli mendengar sebutan aneh yang ditujukan Sakura pada Sasuke.

"Dia mengajakku bertanding dan hadiahnya sangat besar. Sudah, ya. Nanti kuceritakan lagi." Sakura menggantung perkataannya, kemudian berlari kecil menjauh dari tempat itu.

"Hei, kupikir kau sudah pulang." Shion Angela berkata dengan gelagat yang manis. Berdekatan dengan Naru membuat dirinya begitu riang tak terkata.

"Nako, kalau kuperhatikan... Angela agak mirip denganmu. Hanya saja warna rambut dia tampak lebih alami. Apa lagi matanya, indah sekali. Ya Tuhan, dia seperti boneka. Sebentar, tadi aku sedang membicarakan kesamaan kalian 'kan? Ehm, Angela memiliki tubuh yang lebih tinggi darimu. Itu saja perbedaannya." Kiba langsung salah tingkah, setelah Shion Angela berada di hadapannya. Hingga Hinata memasang wajah bosan tak berminat, ulah Kiba membuatnya nyaris jemu setengah mati.

"Nako." Naru memanggilnya seraya mengisyaratkan dengan mata agar perempuan itu kian merapat padanya.

"Ada apa? Kau butuh sesuatu?"

"Kau di sini saja, di dekatku." Naru menarik kursi kosong, lalu mendempetkannya dengan kursi yang ia duduki. "Duduklah!" titahnya dan tanpa bantahan Hinata menuruti perintah lelaki itu.

"Sial, mereka menelantarkanku. Aku cari Lee saja." dari pada diabaikan, Kiba pun memilih beranjak untuk mencari rekannya.

"Dia ini asistenmu 'kan?" Shion Angela menuturkan.

"Uhm, aku memang asisten Naru." angguk Hinata.

"Halo, aku Shion Angela." mengulurkan tangan disertai senyum ramah di wajahnya, perempuan itu memperkenalkan diri. "Yang kuingat kita belum pernah berkenalan secara resmi."

"Ya, tentu. Aku Miya Hanako. Kau bisa memanggilku Nako," balas Hinata tak kalah ramah.

"Baiklah, Nako. Terima kasih, ya. Omong-omong Naru, aku sangat senang akhirnya bisa bekerja sama denganmu. Kupikir pasti mustahil bagi pendatang baru sepertiku untuk beradu akting dengan aktor senior hebat." Shion Angela mengakui, tampak semringah di wajahnya. "Sampai jumpa besok ya, senior. Sekali lagi terima kasih karena sudi mengajariku." perempuan itu menunduk sopan sebelum berpamitan. Disambut hangat oleh Naru dengan menghadiahi senyum memesona miliknya.

Hinata mengembuskan napas kasar ke udara, lalu berkata, "Ternyata dia berbeda."

"Ehm? Memangnya kenapa dia?" Naru bertanya heran.

"Sebelumnya aku sempat mengira kalau dia hanyalah artis baru yang sombong. Suka merendahkan atau tidak peduli pada orang lain," imbuh Hinata menjelaskan praduganya. Dari kejauhan ia masih mengamati Shion Angela yang sedang berbincang-bincang dengan sutradara.

"Aku hanya tidak suka keterlambatannya, menurutku itu sangat buruk."

"Ya, mungkin kau benar. Tapi masing-masing orang pasti punya kebiasaan buruk. Kau sendiri juga begitu 'kan?"

"Tidak."

"Kau sama sekali tidak berubah." Andai dia sadar kalau OCD-nya itu menyinggung banyak orang.

-----

"Si Kiba itu memang bodoh, bagaimana bisa dia meninggalkan kita di sini? Sudah jam sepuluh tapi dia belum juga datang."

"Aku yang memintanya untuk mengantar yang lain terlebih dulu, takutnya kau tidak nyaman kalau di dalam mobil ada banyak orang. Benar tidak?"

"Iya, tapi kenapa lama sekali?" Naru mulai menggerutu. Sampai air mineral dalam botol sudah habis ia reguk, namun Kiba belum juga sampai.

"Mau jalan bersama? Daripada mengeluh, barangkali menikmati suasana malam sambil berjalan dapat menghiburmu."

"Tidak buruk, ayo." Naru menarik spontan pergelangan tangan Hinata. Sejenak ia menoleh ke belakang, melepas pesona senyum yang mampu menggetarkan hati. Layaknya yang terjadi pada Hinata saat ini, gemuruh berirama  begitu cepat di rongga dadanya.

Hinata menyentuh dadanya dalam diam, rasa hangat dari genggaman erat tangan Naru menjalar ke seluruh nadinya. Kenyamanan membuai terlampau dalam, hingga tak sadar Hinata membalas tak kalah kencang genggaman lelaki itu.

Hampir sepuluh menit keduanya berjalan beriringan di trotoar. "Kata orang-orang di persimpangan jalan ada taman kota. Di sana kita bisa duduk sambil menunggu Kiba. Dia bilang mobilnya mogok di tengah jalan dan harus dibawa ke bengkel." Hinata menuturkan seraya ia mendongak agar dapat melihat wajah Naru. Perbedaan tinggi badan yang jauh, membuat Hinata agak kesulitan untuk bisa berhadapan saat bicara dengan lelaki itu.

"Sudahlah, itu bukan kesengajaan. Aku tidak mau mempermasalahkannya. Lagi pula dia akan datang menjemput," sahut Naru tenang. "Setidaknya aku bisa menikmati indahnya pemandangan kota di malam ini, bersamamu. Rasanya sudah lama sekali aku tidak pernah merasa bebas dan nyaman."

Hinata menengadah, dalam hening ia mengagumi wajah tampan lelaki itu. Naru adalah sebentuk definisi dari hakikat keagungan yang tak dapat ditolak. "Kau... bilang apa?" Hinata bertanya ragu-ragu.

"Aku hanya lega, akhirnya bisa keluar dari kesendirian."

Bersambung...

Loving with OCD Guy ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang