Satu persatu dedaunan mulai berjatuhan dan melayang bersama angin, tak tahu akan berhenti di mana. Barangkali tanpa dapat terucap, ia pun berharap bayu membawanya ke tempat yang baik. Tanpa terasa, hari demi hari berlalu dan kini sudah di pengujung minggu ke tiga, maka keberadaan mereka di kota ginseng tersebut pula akan segera usai.
Jalan hidup memang tak dapat diperhitungkan. Kala otak Hinata berputar ke belakang di mana awal perjumpaannya dengan Naru, bahwa tak ada satu pun momen manis tersimpan dalam ingatannya. Namun semenjak ia mewujudkan tugas-tugasnya sebagai asisten si rubah seksi, entah kenapa segalanya menjadi manis di setiap kesempatan dan sungguh ia tak ingin melewatkan bahkan satu detik pun kebersamaan mereka. Begitu sayang bila diabaikan, berlanjut ia berharap bisa memiliki semua peristiwa itu di dalam memori kepalanya.
Satu-satunya hal teramat ingin Hinata lenyapkan adalah kebohongan. Ya, cuma Kepura-puraan yang terpaksa ia perbuat demi mencapai tujuannya. Terdengar bagai sebuah rencana jahat, ia sendiri pun menyadari. Lantas, oleh karena itu Hinata selalu berangan-angan dalam hati agar sandiwaranya tak pernah terbongkar di depan si aktor tampan, walau sudah jelas mustahil.
Hari terakhir shooting film bertajuk Romansa karya penulis Uchiha Sasuke. Semua orang ikut merasa puas dengan kinerja yang diperlihatkan oleh Naru. Kenyataan tak seorang pun dari mereka dapat menyangka sebesar ini keberhasilan si rubah seksi, ia menyelesaikan semua adegan dengan sangat mulus. Tersisa part terakhir dan finish, ia dapat bernapas lega.
Terlahir tampan di salah satu kota bagian Inggris, tempat hunian para bangsawan, nama kecilnya adalah Nick yang diambil dari nama aslinya Nickelson Norwin. Sedari kecil bayi Nick memang tampan. Dibesarkan oleh lingkup keluarga keturunan aristrokat hingga beranjak remaja, ketampanan Nick kian bertambah matang. Jika anak-anak lain menghabiskan masa kecil mereka dengan bermain-main, sementara Nick harus puas membatasi dirinya dengan tetap terkurung di dalam mansion mewah yang pula luas tak terkira. Bahkan untuk pendidikan pun Kushina memilih Home Schooling sebagai keputusan benar bagi Nick, demikian menurut pandangan wanita cantik berjulukan Eternal Red Rose tersebut.
Rasa cinta yang begitu besar ia tujukan untuk putra semata wayang. Sehingga tanpa sadar Kushina justru menanam pembatas terlampau kuat, ia menjauhkan Namikaze Naruto dari dunia luar, seolah amat takut jika bahaya setitik debu tetap sanggup mengancam keselamatan putranya.
Namikaze Naruto, begitu kakek buyut memberi wasiat berupa sebuah nama. Pasalnya keluarga dari pihak Kushina masih berdarah Jepang. Mengambil nama depan sang ayah Namikaze Minato yang juga merupakan sebuah nama pemberian dari mertuanya. Berakhir Naru pun kerap menggunakan nama pemberian tersebut kala ia memutuskan untuk menetap di Tokyo.
-----
"Aku pikir pasti bagus. Jika kita merealisasikan adegannya menjadi lebih intim." Sutradara menuturkan selagi ia dan sasuke tengah mendiskusikan bagian terakhir dari proses pembuatan film.
"Memang benar, aku pun meyakini. Tapi sebaiknya kita memastikan terlebih dulu kepada pemain. Takutnya salah satu atau barangkali mereka berdua akan keberatan dengan rencana ini," jawab Sasuke tenang. Bagaimana pun juga ia tetap mengutamakan kenyamanan Naru. Keduanya berteman baik dan sepanjang pengetahuan Sasuke, lelaki berjulukan rubah seksi itu tidak pernah memiliki teman berbeda selain ia dan Itachi.
"Memang apa masalahnya? Hanya rekayasa, tak jarang aktor di luar sana justru lebih berani jika berhadapan dengan adegan panas semacam ini." Sutradara bernama Yamato itu menguatkan asumsinya.
Sasuke melayangkan senyum tipis, mengamati agak lama sebelum berkata, "Adegan sempurna atau tidak tergantung pada akting sang aktor. Jika kita tidak memberi sedikit ruang kebebasan, kemungkinan mereka pun tak nyaman, karena terpaksa mungkin. Sudah jelas hasil akan jauh dari kata sempurna nantinya."
Penjelasan sederhana yang disampaikan oleh lelaki berambut legam itu menyebabkan Yamato memikirkan ulang rencananya dan menunggu keputusan dari Naru beserta Shion Angela. "Baiklah, kuberi waktu setengah jam dan kuharap kau berada di pihakku untuk bisa meyakinkan mereka," tutur Yamato dengan sedikit penegasan.
Setelah mereguk minuman isotonik dari kemasan botol, Sasuke mendengkus kasar. Kedua bola mata hitamnya menjelajah ke sekeliling lokasi shooting. Tampak lalu lalang oleh beberapa staf pekerja, seolah tak ada yang menarik, ia pun menunduk. Tak lama memijat-mijat kepalanya yang kini mulai berdenyut. "Apa yang kau pikirkan?" tanya Sakura santai sembari ia mengamati gelagat kebingungan yang tampak pada lelaki itu.
"Entah. Aku tidak tahu solusinya. Tiba-tiba saja menjadi rumit, padahal selangkah lagi dan semua selesai," kata Sasuke lesu. Berkali-kali ia mengembuskan napas ringan, mencari-cari kemungkinan yang masih bisa ia perbuat sebagai usaha penutup.
"Aku tidak mengerti. Jelaskan dengan rinci agar aku paham maksudmu."
"Ini hari terakhir shooting. Dua set pengambilan video dan semua selesai. Kenapa tidak kupikirkan sedari awal, seorang peran pengganti untuknya." Sasuke meracau, terbawa ke dalam pemikiran ia sendiri.
"Siapa?"
"Naruto."
"Kenapa dia perlu peran pengganti?" Sakura menahan atensinya pada Sasuke. Lelaki itu semakin kalut kala menghitung waktu yang tersisa sebelum pengambilan video dimulai.
"Dia tidak akan mau melakukan adegan intim. Kau pasti sudah tahu kalau Naruto misofobia. Berisiko bila memaksanya bersentuhan terlalu dekat dengan orang-orang yang tidak dia inginkan."
"Kenapa baru sekarang kau memikirkannya?"
"Mana kutahu jika sutradara menginginkan adegan seperti ini. Sedari awal aku mengira bisa direkayasa. Tapi Yamato tidak menyetujui caraku." Sasuke mendesah pelan, lalu menatap Sakura.
"Misal peran pengganti untuk Shion Angela? Kau pernah terpikir melakukannya?"
"Boleh juga. Kau memang pintar." tiba-tiba Sasuke tersenyum semringah. Ehm... perempuan cantik dan kulit yang putih, di mana bisa kudapat..." Sasuke menggeleng-gelengkan kepalanya saat matanya bersirobok dengan Sakura. "Tidak, tidak. Aku tidak mengizinkan hal itu. Kau di sini saja, mana mungkin kubiarkan kau yang mengambil peran."
"Apa yang kaukatakan?" Kernyit di dahi Sakura muncul. Ia heran dengan ocehan Sasuke barusan.
"Dasar pria bodoh! Hinata!"
"Hah? Hinata siapa?"
"M-maksudku, Nako. Yang kutahu Naruto terlihat nyaman ketika bersamanya. Jadi kupikir dia yang paling cocok menggantikan Shion Angela.
"Ya... tentu saja. Kau bagai dewi keberuntungan yang selalu datang menolongku, sayang." Sakura lagi-lagi memutar bola matanya, jengah mendengar kata-kata rayuan nan memuakkan yang sering keluar dari mulut Sasuke. "Kita harus menemuinya sekarang."
-----
"Apa?! Kalian sudah gila, ya? Aku tidak bisa, lagi pula kenapa harus aku?" Hinata menolak cepat, raut diwajahnya menguatkan rasa bingung akibat tanda tanya yang memenuhi kepalanya.
"Kau tidak punya pilihan lain Hinata. Jika kau peduli pada bayi besarmu itu, kau harus setuju dengan rencana si penulis genit ini."
"Hei, aku calon suamimu. Tolong! Jangan pernah lupakan itu, sayang. Atau aku akan mempercepat pernikahan kita. Terdengar baik untukku," ucap Sasuke asal dengan salah satu sudut bibirnya yang turut naik.
"Terserah apa katamu." mengabaikan perkataan lelaki itu, Sakura lantas menatap serius Hinata. "Hanya kau yang bisa menyelamatkan priamu itu. Keberhasilan peran dan film yang melibatkan pangeranmu, ada ditanganmu." Sakura berbisik di depan wajah Hinata, "Masih mau menolak? Siap bila terjadi apa-apa padanya? Bukankah kau sangat mengkhawatirkan si rubah? Kau bahkan uring-uringan saat meninggalkannya sendirian di hotel. Jadi, bagaimana Nona Hinata?" Sakura berbisik di telinga perempuan itu.
Sakimo, awas kau nanti! Berani-beraninya mengancamku di sini. " I-iya, baiklah. Akan kulakukan." dengan ragu-ragu Hinata mengangguk.
"Sampai nanti, Nako. Ayo, kau tidak harus seperti orang gila hanya karena dia menyetujuinya." ketus Sakura seraya meninggalkan Hinata dalam keadaan melongo di tempat.
"Aku bilang iya?" Hinata mendengkus lalu berbalik untuk kembali menemui Naru. "Sial! Sakura menjebakku. Lalu bagaimana caranya aku bisa...?Astaga!"
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Loving with OCD Guy ✓
Roman d'amourSiapa yang bisa menolak jika harus dihadapkan pada suatu kelainan aneh. Mengidap misofobia bukanlah keinginan Naruto. Tentu saja hal ini sangat mengganggu dan bertolak belakang dengan pekerjaan yang tengah dirinya geluti. Berkutat dengan kamera, lam...
