Ranjang berukuran King Size telah disulap sedemikian apik layaknya kasur-kasur raja dan para selirnya. Nuansa keemasan dipadukan dengan warna krem yang tampak sejuk. Hangat bersamaan dengan teduh sekaligus terpancar dari seluruh ruang. Itulah gambaran suasana latar yang akan dipakai untuk pengambilan video rekaman terakhir. Selagi menunggu para staf dan kru dalam mempersiapkan alat-alat juga perlengkapan lain yang dibutuhkan, Naru dan Sasuke duduk bersama di satu meja di sisi lain ruangan yang memang luas tersebut.
"Kau harus tepati janjimu, Sasuke. Jangan memaksaku untuk melakukan apa pun diluar dari batas yang aku mampu. Atau aku tidak mau peduli lagi akan hasil akhirnya. Kutekankan sekali lagi, aku tidak ingin ada perubahan rencana seperti apa pun." Naru mengutarakan kecemasan yang sekarang menguasai pikirannya.
"Percayakan saja semua padaku. Aku tidak mungkin berbuat hal yang justru dapat mengancam karier kita berdua." menjawab tenang, Sasuke kemudian mengisap perlahan rokok di tangannya.
Stabilizer, Slider, JIB Camera, Lighting Pencahayaan dan bermacam alat-alat penting lainnya mulai ditata pada tempat-tempat yang sudah disesuaikan. Persiapan latar rampung dalam dua puluh menit lagi dan kini giliran para pemeran yang perlu berkemas menjelang pengambilan video.
-----
"Maaf, karena terpaksa memakai orang pengganti untuk mewakili peranmu dalam bagian ini, Angela. Tidak ada cara lain jika kita semua ingin film ini sukses," kata sutradara dengan hati-hati agar perempuan cantik berambut perak itu tidak merasa tersinggung dengan putusan yang diambil.
"Tidak, kau tidak perlu meminta maaf secara khusus padaku. Kita adalah tim dan memang sebuah keharusan bagi semua untuk saling percaya. Kantor Agensi juga sudah memberitahuku terlebih dulu. Jadi hal ini sama sekali bukan sebuah kejutan." bersikap tenang, di wajahnya tidak terlihat sedikit pun penolakan.
"Menyenangkan sekali bekerja sama denganmu, Angela. Terima kasih." seulas senyum tipis terlepas sebelum Yamato beranjak dari tempat itu.
"Angela, aku juga ingin mengucapkan terima kasih. Aku tidak menyangka akan semudah ini berurusan denganmu. Kau memang seorang aktris berbakat dan rendah hati. Semoga kita bertemu lagi dalam proyek film selanjutnya, atau mungkin drama." Sasuke mengerlingkan mata, lalu beranjak bersama Sakura yang menyusul langkahnya.
"Kau memang pria genit." Sakura menohok di belakang. Sementara Shion Angela yang tak sengaja masih dapat mendengar, hanya bisa senyum-senyum memandang sejoli itu.
"Kenapa kau sangat suka mengataiku seperti itu? Memangnya apa yang kulakukan?"
"Kau menggoda semua wanita cantik yang kau temui, korban terbarumu hari ini adalah Shion Angela. Sayangnya mustahil dia akan tertarik. Dia terlalu baik untuk seorang pria genit yang berprofesi sebagai penjudi kelas kakap sepertimu."
Sasuke tertawa keras, ia mengamati raut kekesalan yang kental di wajah Sakura. "Apa sangat susah ya mengatakan jika kau sedang cemburu? Haruskah dengan makian dan ocehan klasik semacam itu? Sasuke aku tidak suka yang kaulakukan, aku cemburu. Gampang 'kan? Jadi buat apa berbelit-belit? Mereka berhenti sejenak, saling memandang dengan Sakura menatap sengit. "Mau berkaca? Coba lihat wajahmu itu, kau seram sekali. Pantas saja tidak ada pria yang berani mendekatimu." Sasuke melayangkan senyum lebar di wajahnya, lalu kembali berkata, "Tapi aku bersyukur karena kita sudah bertemu dan aku sangat suka wajah songongmu itu. Ingatkan aku untuk mempercepat pernikahan kita, oke?!" lelaki itu mencubit gemas pipi Sakura sebelum kembali melangkah.
"Aku bahkan belum memberikan jawaban apa-apa padamu."
"Tidak perlu, sudah kubilang tidak bisa ditolak. Persiapkan saja hatimu dari sekarang, nanti kau akan tahu bagaimana dahsyatnya seorang Uchiha Sasuke dalam mencintaimu."
"Dasar! Dia pintar sekali bicara," cetus Sakura lirih seraya mencebikkan bibir.
"Aku masih bisa mendengarnya, sayang."
-----
"Nako, kenapa tidak bilang? Bagaimana caranya kau bisa berada di sini?" dengan berbisik Naru bertanya pada Hinata. Keduanya kini sedang berada di atas ranjang King Size yang menjadi latar tempat untuk pengambilan video terakhir.
Dalam posisi intim, Naru hanya mengenakan boxer dan kaus singlet. Ia mengungkung Hinata yang berbaring di sana, berbalutkan sebuah mini dres tanpa lengan berbahan satin. Tubuh mereka ditutupi selembar selimut bulu nan halus. Serapat ini, keduanya bahkan dapat mendengar dengan jelas bunyi debar jantung mereka yang sekarang saling bersahutan.
"Mereka yang memintaku, aku tidak mengerti. Sakura bilang semua ini demi kepentingan keberhasilan film. Maaf sudah membuatmu tidak nyaman." Hinata menggigit gusar bibir bawahnya. Melihat Naru dari jarak dekat, menyebabkan seluruh tubuhnya bereaksi berlebihan. Rasanya memanas menyaksikan pesona tubuh si rubah seksi. Dada bidang yang kokoh dengan lengan kekar namun tidak terlalu berotot. Buah jakun di leher jenjangnya, bergerak naik turun seolah menegaskan rasa gugupnya saat ini. Samar-samar rona merah di pipinya pun tampak. Oh Tuhan, di pikiran Hinata ia sedang merapalkan kata-kata penenang, menolak panas di tubuh yang seakan ingin sekali merespons. Ya, mungkin memberi kecupan singkat di rahang tegasnya atau membelai lembut dadanya. Hinata langsung menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat, menghapus khayalan nista nan memalukan itu. Bisa-bisanya perempuan terhormat seperti dirinya melamunkan berbuat intim dengan lelaki asing, bukan siapa-siapa baginya.
"Ada apa?" tanya Naru basa-basi turut mencoba menetralkan kegelisahan yang dia alami. Percayalah, ini sungguh menyiksa bagi laki-laki itu. Rasa takut, penasaran dan bingung. Semua berkejar-kejaran dalam otaknya meminta untuk segera diselesaikan. Tapi bagaimana caranya? "Nako, aku tidak tahu caranya." Naru mengakui dengan malu-malu seraya menunduk.
"Bersiap, ya?! Ayolah, ini hanya adegan berciuman. Sebuah ciuman sensual yang menggairahkan. Kalian pasti bisa, bayangkan saja saat api cinta membakar gelora asmara di antara sepasang suami istri di malam pernikahan." Sasuke berteriak, memberi arahan.
"Itu bagianku," sela Yamato.
Sedangkan Sasuke menanggapi dengan tawa ringan. "Aku bersemangat sekali, suasananya mulai terasa gerah menurutku." Sasuke mengibas-ngibaskan sebelah tangannya ke wajah.
"Terdengar seperti ucapan buaya darat." Sakura berucap sarkasme, dengan lirikan menusuk di wajahnya. "Nako, tunjukkan aksimu! Aku mendukungmu di sini."
"Camera... roll... action!" titah Yamato.
Hinata mereguk kasar salivanya, ia paham maksud perkataan Sakura dan ia juga menyadari bahwa ini adalah adegan intim yang asli pula pertama kalinya bagi Naru. Dengan ragu dan hati-hati ia menangkup rahang tegas lelaki itu, kemudian bicara, "Percayalah padaku, kita akan melakukannya dengan cepat. Ingat! Ini adalah film pertamamu, kau ingin berhasil 'kan? Jadi kumohon jangan pingsan. Hanya akting, ada aku di sini, tidak akan kubiarkan terjadi sesuatu padamu. Mengerti?" Naru mengangguk lambat, ia terdengar menghela napas ringan.
Menarik wajah Naru kian mendekat padanya, Hinata membuka adegan ciuman sensual itu dengan satu kecupan halus. Pertama kali? Tentu, ia pun belum pernah berciuman dengan siapa pun. Berkat saran dari Sakura ia sempat mencari di beberapa situs internet, cara berciuman yang baik bagi para pemula sepertinya. Waktu yang sangat tepat karena bisa mempraktekkannya bersama lelaki sekelas Naru.
Agak terkesiap sesaat, Naru mensugesti dirinya dengan kalimat-kalimat Hinata tadi. Berujung ia memejamkan kelopak mata lalu mengikuti permainan amatir oleh Hinata.
Suasana panas memuncak kala Hinata menarik mesra tengkuk Naru, lalu memiringkan kepala ke satu sisi dan mengulum bibir lelaki itu dengan sedikit tekanan. Entah sebuah kebetulan semata, Naru tak sengaja menggigit bibir Hinata, hingga perempuan itu membuka mulutnya. Naru perlahan membuka mata, menyaksikan pemandangan erotis yang tercermin di wajah Hinata. Ingatan membawa dia ketika pernah membaca sebuah artikel di majalah favoritnya, artikel tersebut berjudul French Kiss yang Manis. Dengan gentle ia memasukkan ujung lidah ke dalam mulut Hinata, mencoba menggerakkan lidahnya, mencecap rasa yang ada meskipun kaku. Naru menutup adegan dengan rileks, mengulum lembut bibir Hinata.
"Cut!"
Naru menjatuhkan wajahnya ke sisi kanan, lalu berbisik parau di telinga Hinata, "Maafkan aku."
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Loving with OCD Guy ✓
RomantikSiapa yang bisa menolak jika harus dihadapkan pada suatu kelainan aneh. Mengidap misofobia bukanlah keinginan Naruto. Tentu saja hal ini sangat mengganggu dan bertolak belakang dengan pekerjaan yang tengah dirinya geluti. Berkutat dengan kamera, lam...
