Sehari setelah kepulangan Naru ke Tokyo, banyak perubahan yang terjadi pada si aktor tampan berambut pirang. Wajahnya jauh lebih ramah, tidak lagi irit bicara atau pun berkata ketus pada orang-orang, justru sekarang ia bisa mengatur sikapnya. Minggu depan adalah pemutaran perdana untuk film Naru. Semua tampak antusias, tak sabar ingin dapat segera menonton hasil kerja keras si rubah seksi selama shooting di korea, tak terkecuali Hinata.
Usai menemani Naru bertemu dengan Ketua Mei di kantor agensi, keduanya memutuskan untuk kembali ke mansion. Hampir sebulan berada di tempat asing menyebabkan Naru ingin lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dalam beberapa hari. Lagi pula, ia dapat mempersiapkan diri selagi menunggu pekerjaan baru memanggil.
"Naru, mau makan apa?" begitu menghampiri ke kamar, Hinata menanyakan menu yang diinginkan laki-laki itu untuk makan siangnya.
Sedangkan Naru tengah duduk sambil melakukan hobi kesehariannya, membaca majalah. Menoleh kepada Hinata, senyum tampannya begitu mudah terlepas. "Aku masih bingung," jawab Naru singkat.
"Jangan bilang spageti lagi. Kau terlalu sering memakan makanan itu. Bagaimana kalau sup brokoli dan jamur?" Hinata memberi pilihan.
"Aku tidak suka sayur." penolakan Naru terdengar seperti merengek.
"Yang ini berbeda, kau pasti akan suka."
Menghela napas ringan, Naru mengamati Hinata dengan pandangan teduh yang menenangkan, "Baiklah! Terserah padamu memasak apa, nanti aku makan."
"Tunggu sebentar, tidak sampai satu jam, kok."
-----
Semangkuk sup sayur andalan Hinata tersaji di atas meja, sup sayur istimewa karena berisi bola-bola daging juga misoa di dalamnya. Ada pula sepiring udang dan cumi-cumi yang digoreng kering setelah dicelupkan terlebih dahulu ke dalam adonan tepung.
Semua makanan telah terhidang rapi dengan tampilan yang menggugah selera. Hinata pun menaiki tangga menuju kamar untuk memanggil Naru dan mengajak lelaki itu makan siang bersama.
"Hei, kenapa malah tidur?" Hinata sedikit membungkuk, kemudian menepuk-nepuk pelan pipi Naru. "Belum ada satu jam menunggu, dirimu langsung tertidur. Ayo, ayo, makan dulu. Tidak baik tidur dengan perut kosong, kau bisa masuk angin."
"Aku ngantuk sekali." Naru mengerang lalu mengubah posisinya ke samping, menghadap sofa.
"Naru, nanti kau sakit," tutur Hinata lagi seraya menarik pelan tangannya. "kalau tidak bangun juga, semua makanannya aku kasih pada Kiba dan Lee saja." ancam HInata.
"Iya, iya. Kita makan sekarang. Kau itu memasaknya untukku, kenapa malah mau diberikan kepada mereka?" dengan langkah bersungut-sungut ia pergi ke ruang makan, bersama Hinata yang diam-diam tertawa geli sambil mengikutinya di belakang.
-----
"Apa tadi aku bilang, enak 'kan? Buktinya baru beberapa menit, supmu sudah hampir habis," kata Hinata saat ia mengamati Naru. "Tapi nasinya ya dimakan juga." ia mendesah pelan kala melihat mangkuk nasi Naru masih tetap penuh.
"Aku mau tambah supnya saja, tidak usah pakai nasi. Masih ada udang dan cumi-cumi, perutku bisa meledak kalau makan semuanya," sahut laki-laki itu, kemudian menarik piring tempura seafood ke hadapannya. "Ini, aku minta sup lagi," kata Naru sambil menggeser mangkuknya pada Hinata.
Beranjak sejenak, lalu mengisi ulang sup ke mangkuk Naru, Hinata tak lupa menambahkan daun bawang dan seledri. "Apa alasanmu menolak makan sayur sebelumnya?" tanya Hinata begitu mangkuk sup sudah berada di depan Naru.
"Teksturnya aneh, sedikit lembek menurutku." ia masih dengan antusias menyeruput tenang sendok demi sendok sup sayur itu.
"Mungkin karena terlalu matang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Loving with OCD Guy ✓
RomansaSiapa yang bisa menolak jika harus dihadapkan pada suatu kelainan aneh. Mengidap misofobia bukanlah keinginan Naruto. Tentu saja hal ini sangat mengganggu dan bertolak belakang dengan pekerjaan yang tengah dirinya geluti. Berkutat dengan kamera, lam...
