Cinta adalah obat penyembuh, meskipun ada kalanya menyesatkan. Cinta adalah sebuah keindahan, walau sering menyakitkan. Cinta merupakan kata yang bagi sebahagian orang-orang rumit untuk didefinisikan. Begitulah yang terjadi pada lelaki melankolis tersebut. Jiwanya bertamukan getar-getar kasih. Kini hatinya sudah bertaut kepada sosok seorang gadis yang kemunculannya masih menjadi sebuah tanya belum berujung. Barangkali bukan yang pertama mengguncang hatinya. Karena bila kembali ditelaah, suatu waktu yang terlewati di mana ia sempat memendam rasa serupa kepada sosok perempuan berbeda. Namun kenyataan mencuat, jika si gadis penuh enigma lebih cepat menguasai bilik sanubari. Kehadirannya kerap menemani hari-hari lelaki itu. Apa lagi, sosoknya sanggup menghancurkan kuatnya benteng pembatas hanya dalam waktu singkat. Berakhir Naru memahami jika dia sekali lagi teperdaya ke dalam ranjau asmara. Tak ingin mengulang kisah lama, menyebabkan ia lebih berani untuk membuka diri dan menunjukkan bahasa nuraninya.
Selesai dari kamar mandi, Naru memakai setelan santai lalu berdiri di balkon dengan kedua tangan yang diselipkan ke saku celana. Semilir angin menyambut begitu ia menghela napas panjang syarat kelegaan. Menjelang siang yang cukup menyenangkan, begitu tenang rasanya seakan seluruh beban itu telah sirna bersama berlalunya waktu. Sungguh suasana tepat untuk menghabiskan hari hanya dengan berleha-leha. Di tengah-tengah ketenteraman, kenangan-kenangan semula pun muncul kembali di kepala. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, saat memutar ulang perjumpaan awal dengan Hinata. Dari sekian banyak cara dan tempat, mengapa perempuan itu justru memilih muncul dari dalam lemari pakaian?
"Melamunkan apa? kenapa senyum-senyum?" tanya Hinata begitu ia menghampiri sambil membawa dua gelas jus dingin. Ia meletakkan gelas-gelas itu ke atas meja, kemudian mendudukkan bokongnya di sofa.
Menoleh dengan senyuman yang masih melekat, Naru turut mengambil duduk di sebelah Hinata. "Hanya mengenang cerita lama," jawabnya sebelum meneguk isi gelas.
"Cerita lama yang mana? Sedang bernostalgia, ya?"
"Kejadian itu terlalu manis untuk dilupakan, aku akan tetap menyimpannya." Naru menimpali dengan santai. Lalu merebahkan kepalanya di paha Hinata.
"Sepenting itu sampai kau tak rela membuangnya?" dahi Hinata mengerut mewakili rasa penasaran yang kini bersemayam di benaknya.
"Tentu saja. Sayang aku tidak punya rekamannya."
"Tentang apa?"
"Kau benar-benar ingin tahu?"
"Tidak mau bercerita juga tidak apa." Hinata mengangkat jemarinya dan mengelus-elus helai rambut Naru. "Rambutmu sangat halus. Aku jadi ingat sesuatu. Kau langsung marah saat itu, padahal aku hanya penasaran. Tidak adil, kenapa semuanya begitu bagus. Alis mata yang tebal, bulu matamu juga panjang, bola mata berwarna biru jadi tidak perlu memakai soft lens lagi agar tampak memukau. Kau sudah tampan bahkan sebelum dipoles."
"Kau mencintaiku hanya karena aku tampan?" Naru menggamit sebelah tangan Hinata, lalu menautkan jari-jari mereka.
"Tentu saja tidak begitu."
"Aku minta maaf."
"Untuk?"
"Pernah berkata kasar dan membentakmu. Aku juga bingung, saat itu sangat sulit menerima kehadiran orang lain. Tapi entah karena apa, meskipun aku tidak suka, aku tidak pernah menghindar darimu." iris safirnya menatap lekat-lekat wajah Hinata. "Omong-omong, kau sudah menemui teman-temanmu?"
"Uhm, mereka mengajakku berbelanja, mencari suvenir atau oleh-oleh untuk dibawa pulang."
"Kenapa tidak pergi?"
"Tidak bisa, aku trauma meninggalkanmu sendirian."
"Kalau di dalam hotel, harusnya tidak masalah bagiku," sahut Naru demi menghapus kecemasan Hinata. Ia kini duduk berhadapan dengan perempuan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Loving with OCD Guy ✓
RomanceSiapa yang bisa menolak jika harus dihadapkan pada suatu kelainan aneh. Mengidap misofobia bukanlah keinginan Naruto. Tentu saja hal ini sangat mengganggu dan bertolak belakang dengan pekerjaan yang tengah dirinya geluti. Berkutat dengan kamera, lam...
