Rencana Tuhan siapa yang tahu? Yang terlihat baik-baik saja, terkadang menyimpan masalah juga derita yang besar.
Hidup itu ibarat cerita, kadang ada fase dimana kita berada di cerita sedih dan juga bahagia.
Maharani mengerjapkan matanya secara perlahan. Cahaya lampu yang begitu silau membuat ia harus menutup kembali mata indah itu. Seakan sudah siap untuk menerima cahaya, Maharani membuka matanya kembali dengan perlahan-lahan. Mata indah itu menjelajahi ruangan yang terlihat asing dan bernuansa putih, dengan perpaduan warna biru laut di sela-sela jendela. Tirai hijau membuat ia paham, ternyata ia berada di UKS. Siapa yang membawa tubuhnya? Bukankah, ia tengah menerima hukuman ditiang bendera? Maharani bingung seketika.
Mata indah itu kemudian menoleh kearah samping. Loh, kenapa ada Allicia sahabatnya? Dengan gerakan perlahan namun pasti, ia membangunkan Allicia yang tertidur.
"Cia, bangun." Maharani mencoba menggoyangkan tubuh Allicia yang tak berkutik.
Tak ada respon dari Allicia, Maharani berdeham sejenak, kemudian mengeluarkan suara delapan oktaf yang mampu menggelegar seantero sekolah.
"Allicia! Bangun!" teriak Maharani tepat ditelinga Allicia.
Maharani tertawa ketika Allicia bangun, dan memegang dadanya yang terkejut.
"Anjir, emang. Lo mau buat gue mati muda?" Pertanyaan Allicia sontak membuat Maharani tertawa terbahak-bahak.
"Kalo iya, kenapa?" balas Maharani membuat Allicia mencubit lengannya kencang.
Allicia pun merintih kesakitan. Cubitan paling luar biasa, adalah cubitan dari sahabatnya. Cubitannya, seperti dua kali tenaga emak-emak yang sedang marah.
"Emang gak tau diri, ya. Gue masih mau sukses, biar gue dapat suami tentara." Allicia bersedekap dada memandang Maharani yang juga menatapnya.
"Iya, dah. Gue mah percaya." Maharani menjawab kemudian mengalihkan perhatian pada ruangan yang asing. "Ini, gue di UKS? Siapa yang bawa?" Maharani bertanya pada Allicia yang terus mendengarkan Maharani.
"Fajar. Gue tau lo ada disini, dari Delima pacarannya. Lagian, kenapa bisa pingsan, sih? Keluar banyak darah lagi," tanya Allicia membuat Maharani menoleh terkejut.
Mengeluarkan banyak darah? Kenapa, akhir-akhir ini ia selalu meneteskan darah dari kedua lubang hidung. Bukan hanya kali ini, tapi sudah seminggu ini ia rasakan hal itu. Jika ia lelah, maka darah itu akan keluar dengan sendirinya.
"Gue sering mimisan. Kenapa, ya?" tanya Maharani serius pada Allicia yang nampak terkejut mendengar penuturan itu.
"Serius? Coba periksa dokter. Siapa, tau lo punya sesuatu gitu. Semoga aja enggak, sih." Allicia memberi tahu pada Maharani.
"Lo, kan, tahu. Gue takut sama rumah sakit. Ya, kali gue harus kesana. Lagian, ini, tuh cuman mimisan biasa. Gue yakin, dah," tukas Maharani.
Allicia nampak berpikir. Tak, mungkin jika mimisan biasa, itu terjadi dalam seminggu. Logisnya begini, mimisan biasa itu akan terjadi satu kali dalam hidup, kecuali jika orang tersebut mempunyai atau menderita suatu penyakit tertentu. Ia anak IPA, sudah pasti, ia akan paham dengan hal yang seperti ini.
"Gue rasa enggak. Logisnya gini, kalo mimisan itu terjadi satu kali, gak masalah, tapi kalo terjadi terus menerus itu ada masalah ditubuh, lo. Kita anak IPA, dan kita tahu hal itu apa." Pernyataan Allicia membuat sekujur tubuh Maharani membeku ditempat.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Missing You (COMPLETED)
Fanfiction"Kamu itu nyata, tapi tak terlihat ada." ~Maharani~ Kamu hanyalah ilusi terbesar bagiku. Orang lain tak bisa melihatmu, tapi aku bisa menemukan kehadiranmu di sisiku. Kamu hidup, tapi tak pernah terlihat. Kehadiranmu ada, tapi...
