|IMY 1| Tak Di Anggap

863 96 15
                                        

Aku memang ada dan nyata, tapi keberadaan ku tak pernah di anggap oleh mereka. Yang mereka pikirkan hanya mencari kesenangan bukan aku.

Tinggal di rumah mewah dengan fasilitas serba bintang lima, tak menjamin kehidupan seseorang itu merasa bahagia. Harta bisa di cari, tapi kasih sayang dari kedua orang tua adalah hal yang paling berharga. Tak apa tinggal di rumah atau kolong jembatan sekalipun bagi Maharani, asalkan ia merasa di sayang oleh sebuah keluarga.

Impiannya hanya satu, pergi bersama-sama dan liburan dengan kedua orang tuanya. Hidupnya mungkin dinilai bahagia karena memiliki harta melimpah, perusahaan dimana-mana, cafe dan usaha lainnya. Dibalik itu semua, ia hanya kesepian dan menanggung segala beban yang ada. Tanpa di ketahui oleh kedua orangtuanya, ia berjuang sendiri dalam beban yang tak tahu sampai kapan akan sirna.

Pagi ini mereka memang makan bersama, tapi hanya diam dan sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Mamanya yang sibuk dengan ponselnya sembari memakan salad, ayahnya yang sibuk mengecek saham yang masuk melalui laptopnya. Lalu ia ini hanya apa? Dirinya seperti serangga kecil yang di injak dan didiamkan mati. Selalu saja begitu.

"Rani, apa uang bulanan kamu masih?" tanya Evi yang tak lain Mama Maharani.

"Masih," balas Maharani dingin.

"Apa kamu tidak bisa menjawab dengan kata-kata yang panjang?" tanya Tundra yang tak lain papa dari Maharani.

Maharani pun melanjutkan aksi makannya tanpa menjawab ucapan sang papa. Baginya memasuki nutrisi ke dalam tubuhnya lebih penting dari pada basa basi mereka.

"Rani! Jawab papa!" bentak Tundra membuat Maharani membanting sendok nya kuat.

Evi yang mendengar suara bantingan sendok memalingkan pandangannya dan menatap anak satu-satunya tak percaya. Ini memang sering anaknya lakukan ketika suaminya berbicara.

"Apa yang mau di jawab? Pertanyaan papa gak penting." Setelah mengatakan hal itu, Rani pun meraih tasnya dan berjalan keluar meninggalkan mereka.

Maharani dengan cepat melangkahkan kakinya menuju mobil yang selalu menemani dirinya kemana pun. Sampai di mobil, ia meneteskan air matanya. Ia bahkan menangis sesenggukan ketika harus melawan kedua orangtuanya karena ingin mendapatkan perhatian lebih. Ia hanya ingin perhatian mereka tertuju padanya, bukan pada urusan masing-masing.

"Non, yang sabar," ucap supir pribadinya yang sudah mengerti dengan kondisinya.

Maharani pun tersenyum pada pak Eko. Baginya orang yang mengerti dirinya hanya supir dan asisten pribadinya. Jika orang lain saja bisa mengerti apa yang ia rasakan, kenapa kedua orangtuanya tidak bisa?

"Iya, pak. Saya selalu sabar, kok," balas Maharani kemudian menghapus air matanya dengan kedua tangannya.

Pak Eko pun hanya bisa tersenyum dan melajukan mobil itu dengan keadaan fokus. Mobil mewah itu membelah jalanan kota untuk sampai ke sekolah elit. Maharani bersekolah di internasional School. Sekolah yang memang di khususkan bagi kalangan atas saja. Sekolah itu sangat mahal, membuat para wali murid harus memikirkan ulang agar anaknya bersekolah di situ. Hanya orang yang berasal dari kalangan atas saja yang bisa masuk ke dalam sekolah itu.

Maharani pun membuka mobil ketika pagar hitam besi menyapu matanya. Ia berjalan menuju kelas sendiri tanpa di temani siapapun.

I Missing You (COMPLETED) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang