"Kamu itu nyata, tapi tak terlihat ada."
~Maharani~
Kamu hanyalah ilusi terbesar bagiku. Orang lain tak bisa melihatmu, tapi aku bisa menemukan kehadiranmu di sisiku. Kamu hidup, tapi tak pernah terlihat. Kehadiranmu ada, tapi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Apa ini takdir kita? Takdir sederhana namun banyak makna di dalamnya. Takdir yang mengajarkan ku untuk bersabar dalam menghadapi semua ujian.
Bel istirahat sudah berbunyi lima menit yang lalu, murid-murid yang sudah merasakan lapar pun berjalan menuju kantin yang berada di lantai bawah. Kali ini, Rani seakan tak bergairah, melihat ribuan orang berjalan ke kantin, namun ia tak mau makan. Ada sesuatu yang mengganggunya. Sesuatu yang bahkan membuat dirinya berhenti melangkah.
"Kenapa, sih? Gue lapar, nih," tutur Allicia melihat Rani justru duduk di salah satu bangku kelas.
"Gue gak bisa gini aja," tukas Rani secara tiba-tiba membuat Allicia mendekati dirinya. "Maksudnya?"
"Iya, gue gak bisa diam aja. Fajar hilang ingatan, dan gue gak mau itu terjadi selamanya. Gue mau, dia ingat gue." Rani menatap Allicia dalam. "Gue udah ambil keputusan."
"Keputusan apa?" tanya Allicia bingung.
Senyuman miring pun sudah terbit di bibir Rani. Kali ini ia yakin, bahwa dengan seperti ini, Fajar akan selalu dekat terus bersama dirinya. Ia juga yakin, satu detik saja Fajar akan mencari dirinya, dan sangat membutuhkan dirinya untuk menjadi rekannya.
"Gue jadi wakil dia," tutur Rani dengan antusias.
"What!" Mata Allicia membulat sempurna. Wakil? Apa Rani sudah tidak waras sekarang? Allicia bahkan tahu, bahwa catatan merah milik Rani sangat banyak sekarang. "Ngimpi lo!"
"Terserah. Kalau lo percaya Alhamdulillah, kalau enggak juga gak papa. Ngelenserin Ani dari posisinya sekarang mudah banget buat gue. Dia, kan, orangnya pengecut. Tinggal gue pukul aja dan ancam. Simpel, sih," jelas Rani tanpa memikirkan apa akibat yang akan terjadi nantinya.
Ani adalah wakil ketua OSIS sekarang. Menjabat di periode Fajar menjabat sekarang. Wanita itu di kenal pendiam, pintar, cupu, dan takut dengan ancaman. Rani sudah mengamati ia, dan kali ini ia harus menang. Menang dan menjabat sebagai wakil ketua, agar Fajar selalu dekat dan tidak jauh dari dirinya.
Ketika matanya menjelajahi koridor, Rani pun menatap satu perempuan yang sedang jalan tergesa-gesa. Rani pun tersenyum miring, ia pun sengaja menaruh kakinya, agar Ani jatuh. Dan benar saja, belum sempat ia tersenyum, wanita cupu itu sudah terjatuh di hadapannya. Rani pun segera menahan tangan wanita itu, agar mau menatap dirinya.
"Ikut gue." Rani menatap tajam Ani, membuat Ani menganggukkan kepalanya.
Allicia tak tinggal diam. Ia ikut bersama Rani dan Ani menuju salah satu gudang sekolah. Kali ini Rani benar-benar gila menurutnya. Hanya karena ingin mendapatkan Fajar dan ingatan pria itu pulih, Rani harus mengancam seseorang seakan orang itu batu sandungan. Allicia bahkan menatap was-was takut jika guru akan melihat aksi mereka.