|IMY 14| Malam Tak Berarti

317 51 9
                                        

Memang menyakitkan, ketika apa yang kita harapkan tak sesuai kenyataanTerkadang memang lemah bukan menjadi pilihan, bertahan adalah kunci dari keberanian

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Memang menyakitkan, ketika apa yang kita harapkan tak sesuai kenyataan
Terkadang memang lemah bukan menjadi pilihan, bertahan adalah kunci dari keberanian.

Terpaan angin malam menghempas anak rambut milik Rani. Ditemani dengan suasana sunyi, ia menatap langit yang terlihat gelap tak berarti. Gelapnya langit, tak segelap apa yang ia rasakan saat ini. Kamu tahu apa yang sedang kurasakan? Antara bertahan dan menyerah pada keadaan. Memang benar, apa yang kita rancang tak sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Rani mengalihkan pandangannya, ia menatap rentetan buku yang sengaja ia bawa untuk belajar di balkon kamarnya. Ia ingin suasana yang damai kali ini. Tak ada gangguan dan tak ada halangan apapun.

"Huft ... Gue sebenernya gak perlu belajar, karena udah pintar, tapi biar makin pintar gue baca lagi." Rani bermonolog pada diri sendiri.

Tangan mungil itu meraih salah satu buku sains yang esok akan di ulas oleh guru. Ditemani oleh minuman soda, ia menegak habis dalam satu hentakan saja. Matanya mulai menyusuri kata demi kata yang tertera. Membuat ia terus saja membaca dan tak mau menyerah.

"Lah, genealogi perasaan baru gue baca kemarin, tapi lupa lagi. Ow, jadi artinya garis keturunan sedarah, toh." Rani kembali membuka lembar demi lembar yang ada di buku tersebut.

Ia terlalu fokus dalam membaca, sampai ketika ia ingin membuka satu lembar lagi, tetesan darah yang berasal dari hidungnya membuat ia terkejut. Mata Rani terpusat pada darah kental yang terdapat di halaman buku itu.

"Apa ini darah gue?" tanya Rani kemudian mengusap hidungnya.

Rani memperhatikan punggung tangannya yang sudah banyak bercak darah. Ada apa ini? Apa penyakit yang ia derita sudah separah ini? Ia mulai cemas saat ini. Rani segera membersihkan darah itu menggunakan punggung tangannya.

"Lo harus kuat!" seru Rani menyemangati dirinya sendiri.

Jujur saja ia khawatir dengan apa yang ia rasakan sekarang. Kenapa penyakit ini bisa ada padanya? Kenapa harus dirinya? Ia tak mau menjadi lemah karena hal ini. Rani yang dulu harus tetap bertahan, tak akan pernah goyang sedikitpun. Kepalanya seakan berputar hebat, bahkan ia berdiri ia harus memegang salah satu benda untuk menahan dirinya.

"Ya, Allah. Kamu kenapa Rani?" tanya Evi yang terlihat panik, ketika Rani berjalan sempoyongan.

Rani yang mendengar suara yang paling ia tak suka hanya bisa berusaha untuk menyadarkan dirinya. Ia tak mau di anggap lemah. "Jangan mendekat."

Evi tersentak kaget melihat hal itu. Bukan karena kaget ucapan Rani, tapi ketika matanya tak sengaja melihat bercak darah di baju juga tangan anaknya itu. Ibu mana yang tak akan curiga? Ibu mana yang tak akan panik melihat itu semua? Dengan keberanian yang kuat, ia berjalan mendekati Rani. Memegang tangan anaknya yang terlihat berkeringat.

I Missing You (COMPLETED) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang