Bab 8 : Menang/Kalah?

1.3K 332 162
                                        

Up terakhir untuk hari ini! Selamat membaca.

Now Playing : ATEEZ - Win

***

"Menang atau kalah itu hanya pilihan, yang penting lo udah usaha yang terbaik."

***

"Tes! Tes! Satu dua tiga."

MC Acara sudah berdiri di atas panggung. Diikuti dengan orang yang membawa beberapa medali dan piala yang menggiurkan. Tak lupa dengan penghargaan yang sangat banyak, karena dikhususkan untuk diberikan pada semua peserta lomba. Baik yang menang maupun yang kalah.

"Baiklah, sesuai agenda yang sudah tertulis, sekarang saya akan membacakan pengumuman pemenang lomba. Dimulai dari kategori SMP. Juara harapan tiga diraih oleh —

Semua pemenang di kategori SMP sudah dipanggil maju oleh MC Acara. Kini, saatnya untuk kategori SMA.

Tangan Bu Asri sudah dipegang erat oleh Carren, ia takut sekali untuk mendengar pengumumannya. Tetapi dalam waktu yang bersamaan, Ia juga penasaran. Kalian mengerti kan perasaan tidak enak ini?

Tak terasa, semua pemenang telah dipanggil. Kecuali peraih medali emas. MC Acara tersebut memang sangat lihai dalam memainkan ritme jantung para peserta. Ia sengaja mengulurkan waktu agar orang-orang penasaran dan ketika itu barulah ia menyebutkan nama pemenangnya dengan suara yang nyaring.

Sebelum pengumuman di umumkan, Ryan telah masuk ke dalam ruangan dan menuju ke tempat duduk Carren. Carren yang tiba-tiba lupa akan kehadiran Ryan langsung terkejut ketika melihat sosok tersebut berada di depan dirinya.

Dengan keringat di dahinya, tak lupa dengan hoodie hitam miliknya yang sudah digulung sedikit naik. Karena cuaca Jakarta saat sore pun masih sama seperti saat siang hari, panas. Terlebih, ia habis lari dari sekolah menuju ke sini.

"Gimana, udah diumumin belum?"

Carren hanya menggeleng singkat. "Ini baru mau diumumin MC nya. Duduk aja dulu."

Ryan pun segera mendaratkan bokongnya ke kursi plastik berwarna biru. Ia melihat tangan Carren yang kini telah berada di tangan Bu Asri, ia sadar jika Carren pasti sangat gugup.

Ia pun memutuskan untuk menepuk bahu Carren pelan. Berusaha membuat pemilik bahunya tenang. Carren yang menyadarinya pun langsung menoleh dan suara-suara yang berada di ruangan tersebut terasa samar.

Ryan memandangnya dengan mata yang sulit dideskripsikan. Ia sangat khawatir dan tunggu dulu, melihat keringat yang terdapat di dahinya, apakah ia lari?

"YANG MERAIH MEDALI EMASNYA ADALAH CARREN WILLOW DARI SEKOLAH SMA HARAPAN. Berikan tepuk tangan yang meriah!"

Carren masih tidak sadar karena ia masih memandangi Ryan. Tak lama setelah itu, Bu Asri menggoyangkan bahunya dan memanggil namanya.

"Nak, maju sana. Kamu berhasil mendapatkan medali emas lagi! Ayo maju."

"A-ah iya, Bu. Terimakasih."

Carren pun maju ke depan untuk sesi foto bersama dan pemberian medali, penghargaan serta piala yang cukup tinggi.

Ryan yang melihat prestasi Carren hanya tersenyum lebar, merasa sangat bangga pada prestasi perempuannya. Eh? Perempuannya? Belum resmi, Ryan. Sabar dulu.

Setelah sesi foto bersama dan segala urusan di panggung selesai, Carren turun dan segera menghampiri Bu Asri.

Senyuman lebar tak henti ditunjukkan pada bibir miliknya. Bu Asri pun merasa sangat bangga atas pencapaian anak didiknya. Memang benar ia memilih Carren sebagai perwakilan.

***

Tring!

Tring!

Tring!

Notifikasi dari ponsel Carren sedari tadi tidak berhenti. Karena kesal, ia pun langsung mengambil ponsel miliknya dan mengecek penyebab dari keributan itu.

Nadhira : SELAMAT CARRENKU SAYANG! Emang Ratu Fisika ya, lo. Makan apasih dari rahim, pintar amat neng.

Nadhira : Ngomong-ngomong, muka lo di instagram sekolah bagus. Pakai skincare apa lo? Ngaku!

Nadhira : EH BENTAR. Kalo mata gue ngga salah lihat, itu kok ada bayangan Ryan? Itu Ryan, kan?

Nadhira : Wah gila, udah resmi ya kalian? Parah, ngga kasih tau gue.

Nadhira : Pokoknya besok lo harus traktir gue, dua kali lipat! Selain karena lo menang di lomba, lo juga harus PJ. Pajak Jadian!!

Carren mengerutkan keningnya membaca semua pesan Nadhira, anak ini memang benar-benar ajaib. Sekali chat, tidak ada henti-hentinya.

Jika Carren tidak salah baca, ia melihat fotonya di posting ke instagram milik sekolah?

Segera ia membuka profil instagram milik sekolah SMA Harapan. Benar sekali, di situ terdapat foto miliknya beserta Bu Asri dan Coach Andi dengan Ryan yang membantu untuk memfotokannya.

Yang salah adalah posisi tempat mereka mengambil gambar. Karena mereka memilih untuk mengambil foto di depan pintu kaca berwarna hitam. Yang dapat terlihat siapa yang memfotokannya. Dan itu nampak jelas, Ryan.

Carren semestinya bersyukur karena yang menyadari itu Ryan hanya Nadhira dan juga, Alvino.

Saat melihat postingan itu, Alvino tak dapat berbuat apa-apa. Ia kesal karena ia kalah satu langkah lagi.

Alvino mengecek room chat miliknya dengan Carren. Tetapi tiga pesan yang ia kirim tadi pagi belum ada tanda bahwa pesan itu sudah dibaca.

Sepertinya, semesta menyuruhnya untuk berhenti dan menyerah. Untuk sebentar saja, karena ia akan berjuang lebih dari sekarang.

***

"Kalau gitu, butuh bantuan gue ngga? Buat hancurin hubungan mereka berdua."

Ella nampak terpikir sebentar, "Memangnya lo mau bantuin kayak gimana, Dys? Yakin berhasil?"

"Masa lo remehin gue sih, koneksi papa gue ada di mana-mana. Dengan mudah bisa ketemu semua informasinya. Jadi, lo tenang aja, tinggal jawab iya atau ngga."

Mungkin sudah saatnya kakak kelas yang sempurna itu akan menjadi miliknya. Sebaiknya Nessa mempersiapkan hatinya untuk berpisah dari Danny.

"Pokoknya Kak Danny harus sama gue! Ngga mau tau." ucapnya dengan posesif.

Gladys hanya tersenyum sinis.

***

HAHAHA ini chapter paling pendek dari yang lainnya. Mohon maaf lahir dan batin🙏🙏, sebagai gantinya, chapter selanjutnya akan lebih panjang. Semoga.

Jangan lupa tinggalkan jejak jika suka dengan cerita ini. Sampai bertemu di chapter selanjutnya🙏😎.

Not My Type [✔]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang