Bab 35

22K 2.5K 285
                                        

Bendera Perang

---

Sudah hampir dua minggu ini Jungha giat berlatih untuk memantapkan dirinya menjadi seorang vampir. Ia sudah bisa menguasai pertarungan baik berkelompok maupun one by one. Beruntung sekali Jungha dianugerahi Double Blood sehingga ia belajar menguasai diri dengan cepat.

Namun, untuk urusan tenaga dalam, nampaknya gadis itu mesti belajar lagi. Karena Jungha masih sulit mengontrol emosinya. Bisa-bisa kastil Klan Moroi hancur lebur jika tidak ada Taeyong yang bertindak sebagai pawang.

"Fokus, Jungha!" perintah Taeyong yang tengah berdiri di ujung gelanggang.

Ya, sekarang Jungha tengah berlatih dengan lelaki itu. Susah payah Jungha melawan Taeyong yang dengan mudahnya menghalau semua serangan Jungha yang bertubi-tubi.

Hush!

Taeyong mulai menyerangnya. Namun, dengan cekatan Jungha menghindar.

Melihat itu Taeyong tersenyum. "Bagus! Terus fokus dan lawan aku."

Jungha yang dipuji seperti itu kembali bersemangat. Ia mulai mengeluarkan kekuatan spiritualnya lalu mengarahkannya ke Taeyong yang tiba-tiba sudah menghilang dari tempat terakhirnya berdiri.

Lelaki itu berlari. Tanpa aba-aba Jungha kembali mengarahkan serangannya ke Taeyong secara bertubi-tubi, mengikuti ke mana arah lelaki itu berlari untuk menghindari semua serangannya. Astaga, Jungha kewalahan berlatih dengan Taeyong. Kekuatan berlari lelaki itu sangat cepat dan perhitungannya selalu tepat.

Ah, kalau seperti ini siapa yang tidak kasmaran melihat sosok Taeyong?

Kekuatannya oke, penampilannya tidak perlu diragukan lagi, otak cerdas, berkarisma, dan ditambah memiliki jiwa pemimpin yang kuat. Oh, Good! Taeyong benar-benar definisi lelaki idaman yang sesungguhnya.

"Fokus!"

Teriakan tersebut membuat Jungha mengerjap. Dirinya menolehkan pandangan mencari keberadaan Taeyong yang hilang dari tempat terakhirnya berdiri. Namun nihil, Taeyong tidak ada.

Ah, Junghaa... Kenapa harus berpikir macam-macam di saat seperti ini?

"Sudah ku bilang untuk fokus, Jungha."

Bisikkan lembut dari arah belakang diikuti dengan tangan kekar yang melingkar dipinggang Jungha membuat gadis itu langsung kehilangan orientasinya. Mata Jungha yang sedari tadi berwarna biru laut—menandakan gadis itu tengah dipengaruhi oleh kekuatannya— perlahan mulai memudar dan digantikan dengan iris hitam. Gadis itu lalu menatap tangan Taeyong yang masih melingkar di perutnya sambil tersenyum.

"Waktunya istirahat." Taeyong berucap sambil meletakkan kepalanya di bahu Jungha. Menghirup dalam-dalam aroma gadis itu yang entah sejak kapan menjadi candu baginya.

Jungha terkekeh. "Taeyong, bagaimana aku bisa istirahat kalau kau terus memelukku, hm?" Taeyong refleks membuka matanya dan melepaskan tangannya. Sungguh, Taeyong merasa sudah kehilangan kendali atas dirinya sendiri jika berdekatan dengan Jungha.

Taeyong menggaruk tengkuknya lalu berdeham jaim. "Sana makan! Kau masih memerlukan asupan."

Jungha mengangguk geli, matanya tak lepas menatap Taeyong yang kini tengah salah tingkah. Aw, lucunyaaa...

"Kalau begitu aku duluan," pamit Jungha.

"Aku temani," ucap Taeyong yang langsung dibalas anggukan oleh Jungha.

Baru saja membalikkan badan, mereka melihat Jaehyun, Kun, Yuta, Doyoung, Renjun, dan Johnny yang berdiri menjajar di belakang mereka.

"Alpha, kami butuh bicara," ucap Johnny yang membuat Jungha dan Taeyong saling berpandangan sesaat.

"Baik, aku akan mengantar Jungha terlebih dahulu."

Dengan cepat Jungha menggelengkan kepalanya membuat Taeyong menatapnya tak suka. "Aku bisa sendiri."

"Nona Jungha bisa diantar Renjun dan Doyoung," ucap Johnny lagi.

Belum sempat Taeyong protes, Jungha langsung mengiyakan usul sang Beta, lalu bergegas pergi meninggalkan kawanan Taeyong disusul Renjun dan Doyoung yang berperan sebagai pengawal.

"Ada apa?" tanya Taeyong to the point.

"Tuan Desung datang. Dia menunggumu."

Dan ucapan Jaehyun barusan mampu menyentak Taeyong.

Ah, mau apa bajingan itu mendatangiku?

⸙⸙⸙

"Mana gadis Double Blood itu?"

Gotcha!

Setelah sekian lama Taeyong dan yang lain mendengarkan ocehan tak berfaedah orang di depannya, akhirnya ketahuan tujuan lelaki itu. Yaa... mencari Jungha.

"Siapa yang kau maksud?" Taeyong berucap tanpa sopan santun dengan orang yang lebih tua darinya. Hei, siapa juga yang mau bersikap seperti itu dengan seorang bajingan ini?

Desung menertawakan Taeyong yang masih saja menutup-nutupi gadis itu. "Hei, Nak! Kau tidak bisa membohongiku. Serahkan gadis itu atau kau akan tahu akibatnya."

Ya, kucing yang sudah lama bersembunyi kini muncul dengan taringnya.

Taeyong terkekeh. "Kau tidak pantas berada di sini. Pergilah! Aku tak membutuhkan tamu tak tahu diri sepertimu," ucap Taeyong lantang.

Setelah mengatakan itu, Taeyong bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan ruangan besar yang disiapkan untuk menjamu tamu yang datang. Tapi bukan tamu seperti Klan Strigoi yang dia harapkan.

"Alpha Taeyong!" Suara Tuan Desung menggelegar mengisi ruangan, membuat Taeyong dengan refleks menghentikan langkahnya. "Seminggu lagi, ku tunggu kau di hutan terlarang." Tuan Desung memberi jeda pada ucapannya, membuat Taeyong langsung membalikkan badannya guna berhadapan langsung dengan sang lawan.

"Silakan pilih. Kau lebih melindungi gadis itu atau Klan-mu."

Taeyong mengangkat bahu acuh, mencoba menampakkan sisi bahwa ia tidak takut dengan segala ancaman pria tua bangka di hadapannya. Taeyong tahu betul makna dari ucapan pria itu. Kaum lawan sudah mengibarkan bendera perang, siap untuk melawan. Dan kesempatan itu amat sangat tak ingin Taeyong lewatkan. Walau ada sebersit perasaan khawatir perlahan hinggap di tubuhnya.

"Menarik." ucapan Taeyong terasa ringan. Berbanding terbalik dengan empat orang yang sedari tadi duduk hanya mendengarkan obrolan keduanya. "Ku terima tantanganmu."

Taeyong memasang senyum remeh lalu membalikan tubuhnya dan kembali berjalan. Namun, langkahnya kembali terhenti kala ia merasa telah melupakan sesuatu.

"Ah... jangan lupa, bawa anak bejat lo itu."

Setelah mengatakan itu, Taeyong benar-benar pergi. Bahkan ia tidak mengetahui ada seseorang yang sedari tadi bersembunyi di balik pilar untuk mendengarkan obrolan mereka.

Orang itu kemudian termenung.

Haruskah ia membiarkan semua ini terjadi?

Atau malah menyerahkan diri?

.

.

.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
[END] MR. VAMPIRETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang