AFTER ENDGAME
---
Malam hari di sebuah hutan alam gaib yang begitu gelap, terlihat gerombolan kaum vampir dengan jubah merah yang menutupi kepala mereka tengah membawa lilin merah sebagai penerang satu-satunya.
Gerombolan itu berjalan teratur dan sebagian besar dari mereka mulai berjajar mengelilingi sebuah pentagram—simbol bintang bersegi lima di dalam lingkaran besar. Di tengah gambar bintang itu, terdapat sebuah batu besar yang sudah ditaburi bunga tujuh rupa.
"Bagaimana? Kalian sudah siap?" Seorang pria setengah baya dengan jubah yang sama mendatangi salah satu orang yang berjaga di luar lingkaran para tetuah.
Orang itu membungkuk hormat. "Sudah, Yang Mulia," sahutnya.
Sang Yang Mulia tadi mengangguk sekilas lalu menengadahkan kepalanya. Menatap bulan purnama yang sebentar lagi akan mengalami gerhana. Klan Vampir menyebutnya sebagai malam bulan darah. Malam istimewa nan mulia bagi Klan Vampir. Karena pada malam ini, Klan Vampir manapun dapat meminta segalanya dan kebanyakan dari mereka pasti mengharapkan kekuatan.
Namun, untuk malam ini, ritual yang mereka lakukan bukanlah ritual untuk mengharap kekuatan, melainkan ritual kebangkitan. Ya ... meski persentase hal ini akan berhasil kecil, mereka tetap mencoba. Demi kebaikan semua.
"Kita mulai sekarang." Dengan perlahan, sang Yang Mulia mulai berjalan mendekati batu besar di tengah gambar bintang. Dia mulai melepas jubahnya lalu melemparnya ke pengawal yang berjaga di luar lingkaran.
Sang Yang Mulia tadi melirik ke arah salah satu tetuah yang memenuhi lingkaran. Seakan mengerti, tetuah dengan jenggot panjang berwarna putih mulai berjalan mendekat sambil mengeluarkan sebuah belati.
Yang Mulia mengulurkan tangan kirinya yang langsung disambut oleh tetuah tadi. Sang tetuah mulai memejamkan matanya dengan mulut yang bergerak-gerak, melafalkan sebuah mantra berbahasa Yunani.
Sret.
Setelahnya, tetuah itu menggoreskan ujung belati di telapak tangan Yang Mulia hingga darah kecokelatan mencuat dari sana. Dengan cekatan, sang tetuah mengeluarkan tabung kecil untuk menampung darah sang Yang Mulia yang perlahan mulai menetes.
"Yang Mulia, Anda boleh mengobatinya," kata sang tetuah.
"Baik." Yang Mulia mulai memejamkan matanya dan detik selanjutnya, luka lebar di telapak tangannya seketika menghilang.
"Saya mulai ritual ini, Yang Mulia," kata sang tetuah.
"Silakan, Tuan Kim." Setelah mendapat izin dari atasan, para tetuah yang sedari tadi berjajar di garis lingkaran mulai berjalan teratur mengelilingi lingkaran sambil menyerukan mantra berbahasa Yunani. Sungguh hal itu sangat menyeramkan jika kalian mendengarnya secara langsung.
Pemimpin ritual, Tuan Kim, mulai meneteskan darah sang Yang Mulia ke batu besar tadi. Kemudian ia merogoh salah satu sakunya untuk mengeluarkan tabung yang juga terisi oleh darah dan kembali meneteskannya.
Berselang sepuluh menit, para tetuah yang mengitari lingkaran mulai terdiam. Tangan mereka yang memegang lilin merah mulai dipadamkan, hingga menyisakan kegelapan malam yang benar-benar gelap tanpa satu pun penerangan.
"Yang Mulia Dewi Venus. Berkahilah ritual kebangkitan kami."
Detik selanjutnya, yang ditunggu-tunggu tiba. Bulan purnama sudah sepenuhnya berwarna merah darah. Hal itu lantas membuat Tuan Kim kembali melafalkan mantranya dengan lantang.
Angin mulai berhembus, menambah kesan mencengkam di hutan ini bertambah berkali-kali lipat. Tak berselang lama, simbol pentagram mulai mengeluarkan cahaya putih bercampur merah dan biru. Indah, namun tetap saja menyeramkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] MR. VAMPIRE
VampirosCOMPLETED : Underworld Series I Lee Taeyong. Lelaki pendiam dengan sorot mata tajam mematikan. Lelaki yang sekalinya berbicara menyakitkan, namun sayangnya dia berwajah tampan. Bibir dan tubuh tegapnya yang terlihat pucat, entah mengapa begitu mengg...
![[END] MR. VAMPIRE](https://img.wattpad.com/cover/118105528-64-k648439.jpg)