Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hanbin tidak bisa diam, kamu benar-benar sudah memblokir semua komunikasi. Hanya sebuah surat resmi yang datang ke kantor bahwa kamu butuh beristirahat, namun Hanbin tau persis bahwa selama tiga hari ini kamu masih aktif bekerja melalui email. Hanbin gelisah, setiap ia memasuki kantor, mejamu selalu yang menjadi pemandangan pertama yang harus ia lihat, berharap kamu sudah duduk disana seperti biasanya. Namun tidak.
Hanbin menggigit bibir bawahnya, untung saja Sela sekarang sudah lebih aman dirumah neneknya. Jika tidak, mungkin Jungha masih akan terus berusaha untuk mengambil Sela. Jam menunjukkan pukul lima sore, saatnya jam kantor berakhir. Dengan cepat, tanpa mempedulikan penampilannya, Hanbin langsung pergi ke rumahmu, tidak peduli tanggapan ayah dan ibumu karena kejadian tempo hari yang lalu, Bobby sudah memperingatkan agar dia tidak datang dulu.
Namun Hanbin tidak bisa, rindu... ia sangat merindukanmu.
Hanbin dengan cepat melajukan mobil putihnya dan memarkirkan dengan rapih di depan rumahmu, sejenak kepala lelaki itu sedikit terjulur untuk melihat keadaan rumah. Pintu terbuka, pasti ada orang di rumah. Akhirnya Hanbin melepas sabuk pengamannya dan turun. Dengan pasti ia melangkah perlahan, baru beberapa langkah menuju ke pintu, ayahmu keluar dan menatap Hanbin dengan garang.
"Mau ngapain kamu kesini?!" Ayahmu bertanya menantang, Hanbin yang melihat ayahmu melangkah langsung membungkuk memberi salam, menunjukkan rasa hormatnya.
"Hanbin mau ketemu Nana, Om. Maaf kalau Om engga berkenan." Hanbin meminta maaf, sekilas ia melihat Bobby yang mulai curiga kemudian matanya terbelalak kaget saat melihat Hanbin sedang berhadapan dengan ayahmu.
"Tau kan kalau saya ngga berkenan?! Kamu masih berani buat ketemu Nana?!" Ayahmu semakin menantang, Hanbin hanya mampu menatap penuh harap agar ia masih bisa bertemu denganmu.
"Om, Hanbin bisa jelasin semuanya. Ini ngga kaya yang Om dan Nana pikirkanㅡ"
"Nggak! Kamu udah berani bohongin Om, Tante dan Nana! Kamu bilang kamu udah cerai kan?! Sekarang nyatanya istri kamu balik lagi! Kamu pikir anak Om itu apa?! Mending Jeffry kemana-mana! Seengganya dia bukan suami orang!" Ayahmu tentu saja naik pitam, sudah mendekatkan tubuhnya pada Hanbin hendak memojokkan lelaki itu. Bobby yang melihat langsung panik memisahkan.
"Wey wey ayah! Jangan gegabah dulu, yah. Dengerin Hanbin dulu." Bobby menengahi jalan ayahmu yang hendak memojokkan Hanbin, kini ayahmu menatap garang pada Bobby.
"Kamu diem ya! Kamu juga udah bohongin ayah! Bisa bisanya nyembunyiin kalau Hanbin masih suami orang!" Ayahmu gantian menunjuk Bobby, membuat anak lelakinya itu langsung diam namun tetap berusaha melindingi Hanbin.
"Om ini salah Hanbin. Jangan marahin Bobby. Hanbin yang minta buat sembunyiin. Om, Hanbin selama ini berusaha buat nyelesaiin masalah sama Jungha. Tapi Jungha lari terus, Om. Hanbin sekarang lagi berusaha buat ngurus gugatan cerai sama lapor ke polisㅡ"
"Saya ngga peduli ya! Itu masalah keluarga kamu! Yang saya ngga terima, kamu udah bohongin anak saya!" Ayahmu berteriak kencang, Hanbin kebingungan, namun sebelum keadaan lebih buruk, sebuah sedan hitam terparkir pelan dibelakang mobil Hanbin. Sang pemilik turun dengan elegan sambil membawa beberapa kantong plastik di tangannya. Jung Jaehyun, tersenyum menatap pada ayahmu.