Peduli belum tentu sayang. Tapi kalau sayang, sudah pasti peduli.
***
Waktu menunjukkan pukul 21:20. Hana dan Reihan sudah selesai melahap nasi gorengnya, dan mereka pun mulai meninggalkan tempat tersebut.
Reihan kembali mengendarai motornya, membelah jalanan kota yang semakin malam justru semakin ramai, meskipun bukan hari libur.
"Kita mau ke mana lagi?" tanya Hana yang sedikit mendekatkan wajahnya ke telinga Reihan, karna bisingnya kendaraan yang melintas.
"Gue mau ajak lo ke suatu tempat."
"Tempat apa?"
"Tempat makan."
"Lo mau makan lagi?"
"Iya."
"Gue gak mau. Gue udah kenyang."
"Yaudah lo temenin gue aja."
"Tapi jangan lama-lama. Bentar lagi gue harus pulang."
"Iya, bentar doang kok."
Reihan mengendarai motornya menuju tempat yang ia maksud.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di tempat tersebut. Reihan menghentikan motornya di tempat penjual gorengan, yang Hana sudah tidak asing lagi dengan tempat tersebut.
"Eh, Mas Vi-"
"Pesen gorengannya sepuluh biji ya, Pak," ujar Reihan memotong ucapan si penjual.
"Oh, iya siap, Mas."
"Ayo, Han, kita duduk," ajak Reihan. Kini keduanya duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
'Ini kan warung gorengan yang waktu itu,' batin Hana, yang kemudian mengedarkan pandangannya.
"Lo nyari apa?" tanya Reihan yang mengetahui Hana seperti sedang mencari sesuatu.
"Gue gak nyari apa-apa," elak Hana. 'Orang itu gak ada di sini, tapi gue yakin dia sering dateng ke warung ini.'
"Ini gorengannya, Mas Vi-"
"Makasih, Pak," potong Reihan lagi.
'Vi? Gue inget cowok yang waktu itu namanya Vian. Apa mungkin cowok itu sebenernya Reihan? Tapi kayaknya gak mungkin deh.'
"Kenapa sih dari tadi ngelamun terus?" tanya Reihan membuyarkan lamunan Hana.
"Gue gak ngelamun."
"Daripada ngelamun, mending makan gorengan. Gorengan di sini tuh enak banget, gorengan Mbak Siti juga kalah enak," ujar Reihan yang kemudian melahap gorengannya.
'Otak-otak? Cowok yang waktu itu juga suka sama otak-otak. Apa gue tanya aja kali ya sama dia,' batin Hana. "Gue mau nanya."
"Silakan, mau nanya apa? Nanya kapan gue nembak lo?"
"Bukan itu."
"Yah.. kirain."
"Lo tau gak sama yang namanya Vian?"
Uhuk.. uhuk..
Pertanyaan Hana berhasil membuat Reihan tersedak.
"Aduk, keselek," Reihan segera meneguk air minun yang sudah tersedia di atas meja.
"Lo pasti tau, kan?"
"Nggak, gue gak tau. Lagian emang dia siapa?"
"Bukan siapa-siapa, sih."
KAMU SEDANG MEMBACA
REIHANA [Completed]
Fiksi RemajaSeseorang mengubah hidupmu. Mengubah segala sesuatu yang tidak kamu sukai menjadi sesuatu yang selalu kamu rindukan. Mengubah sikap burukmu menjadi lebih baik. Namun saat seseorang itu pergi, hidupmu menjadi seperti sedia kala. Kamu berubah menjadi...
![REIHANA [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/214534503-64-k739851.jpg)