31 - Cepat bangun Reihan

86 3 0
                                        

Di ruang serba putih seseorang terbaring tak sadarkan diri. Terdengar suara isak tangis dari ruangan tersebut.

"Ma... udah ya kamu jangan nangis terus. Hana baik-baik aja kok. Dokter bilang Hana cuma pingsan, sebentar lagi Hana pasti siuman," ucap Rustam, berusaha menenangkan istrinya.

"Aku gak akan maafin diri aku sendiri kalo terjadi apa-apa sama Hana," ucap Sonya di sela tangisnya.

Perlahan mata Hana mulai terbuka, Sonya yang mengetahui hal tersebut segera bangkit dari duduknya, untuk memastikan keadaan putrinya itu.

"Ma..." lirih Hana, dengan suara seraknya.

"Iya sayang, ini Mama," jawab Sonya, dengan air mata yang masih membasahi pipinya.

"Hana di mana?"

"Kamu lagi ada di rumah sakit sayang. Kamu tadi pingsan, Mama khwatir sama kamu."

"Pa..." panggil Hana, dan rustam pun segera mendekati putrinya.

"Iya sayang, Papa di sini."

"Hana beneran anak kandung kalian, kan?" tanya Hana lagi memastikan, dibalas anggukan cepat oleh Sonya.

"Iya, kamu anak kandung Mama sama Papa. Kamu anak kami yang diculik 17 tahun yang lalu," jelas Sonya, membuat sudut bibir Hana sedikit terangkat.

"Papa gak nyangka, Ma, ternyata anak kita ada di deket kita. Aku bersyukur, akhirnya kita tau kebenarannya," ucap Rustam merasa bersyukur.

"Hana, maafin Mama, maafin Mama selama ini Mama udah jahat sama kamu. Maafin Mama ya sayang," ucap Sonya penuh penyesalan.

"Hana juga minta maaf, Hana selalu bikin Mama marah. Hana gak bisa jadi apa yang Mama mau."

"Nggak sayang, kamu gak harus jadi apa yang Mama mau. Mulai sekarang kamu bebas ngelakuin apapun yang kamu suka. Mama gak akan ngelarang kamu lagi," ujar Sonya, membuat Hana kembali menampakkan senyumnya.

"Makasih ya, Ma, Pa. Makasih kalian udah jadi orang tua yang baik buat Hana," ucap Hana, yang dibalas anggukan oleh keduanya.

Hana merasa bahagia, akhirnya ia bisa mengetahui siapa orang tua kandungnya. Ia bisa merasakan kasih sayang dari kedua orang tua yang sedari dulu ia inginkan.

Senyum Hana hilang ketika ia teringat akan seseorang.

"Ma.. Reihan mana?" tanya Hana.

Sonya dan Rustam hanya diam, membuat Hana semakin merasa tidak tenang.

"Pa, Reihan di mana?" tanya Hana pada Rustam. Lagi-lagi Rustam terdiam.

"Ma, Pa, jawab Hana.." lirih Hana, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

"Reihan..." Sonya menggantung ucapannya. Rasanya ia tidak tega memberi tahu hal tersebut pada Hana.

"Reihan kenapa, Ma? Reihan baik-baik aja, kan?"

"Hana, kamu yang sabar ya." Sonya mengelus pucuk kepala Hana, berusaha menenangkannya.

"Reihan baik-baik aja kan, Ma? Reihan gak kenapa-kenapa, kan? Jawab hana, Ma!" ujar Hana, dengan air mata yang sudah menetes.

"Reihan... Reihan koma," jawab Sonya, yang berhasil membuat Hana terlonjak. Kini tangis Hana semakin pecah.

Sonya tergerak untuk memeluk Hana, tidak tega melihat putrinya bersedih.

"Lepasin Hana, Ma," pinta Hana, berusaha melepaskan pelukan Sonya.

"Kamu mau ke mana, sayang?"

REIHANA [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang