Tak apa bersedih, tak apa menangis. Karna hidup tidak selamanya berada dalam kebahagiaan. Namun usahakan secukupnya, tak perlu terlalu larut. Bagaimana bisa merasakan bahagia, sedangkan dirimu malah betah berada di dalam duka?
***
Kini Hana sudah ada di ambang pintu, ia mengeluarkan kertas ulangannya yang akan ia perlihatkan pada Sonya. Dengan senyum yang mengembang, Hana pun mulai masuk ke dalam rumah untuk mencari keberadaan Sonya.
Hana mencari di ruang keluarga dan di dapur, namun ia tidak menemukan keberadaan Sonya. Kemudian Hana memutuskan untuk mencari di kamarnya. Ia mulai menaiki tangga yang memang kamar Sonya juga berada di lantai dua.
Beberapa langkah lagi Hana sampai di kamar Sonya. Hana mendengar suara Rustam, papanya, membuat senyuman Hana semakin mengembang.
"Papa pulang? Kok mobilnya gak ada di depan, ya?" heran Hana. "Papa juga harus tau gue dapet nilai seratus," seru Hana, yang kemudian hendak mengetuk pintu. Namun pergerakannya terhenti, saat Hana tidak sengaja mendengar percakapan antara mama dan papanya.
"Kamu itu terlalu manjain dia, dan sekarang dia jadi anak pembangkang. Gak mau nurut sama orang tua."
"Tapi, Ma, Hana berhak nolak perjodohan itu. Kalo Hana gak suka sama pilihan kamu, ya kamu harus terima."
"Tuh, kan, kamu belain dia terus, kamu kenapa, sih? Aku ini istri kamu. Kamu lebih belain dia yang bukan siapa-siapa kamu," pernyataan Sonya membuat Hana menautkan kedua alisnya bingung. Hana mencoba mencerna apa yang diucapkan oleh mamanya itu.
"Hana itu anak kita."
"Nggak. Dia bukan anak kita, dia itu anak pungut!" ujar Sonya yang membuat Hana terlonjak. Apakah benar yang diucapkan oleh Sonya, bahwa Hana bukan anak kandungnya?
"Ma.. kita kan udah sepakat buat gak bahas soal ini."
"Aku udah gak tahan sama anak itu. Dia selalu bikin aku kesel. Dari dulu juga aku gak setuju kamu ambil dia di panti asuhan. Harusnya tempat dia bukan di sini!"
Hana membekap mulutnya, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Seketika tubuhbya mematung, Hana merasa seperti ada sesuatu yang menghantam dadanya. Matanya mulai memanas, sedetik kemudian, air matanya jatuh dengan derasnya.
"Ternyata gue bukan anak kandung mereka, kenapa gue baru tau sekarang, kenapa mereka gak cerita soal ini sama gue?" lirih Hana dengan air mata yang terus membasahi pipinya.
Hana berusaha melangkahkan kakinya, meski saat ini badannya terasa sangat lemas. Dengan susah payah, Hana mencoba pergi dari sana. Hana merasa tidak pantas berada di rumah itu. Apalagi Sonya sangat membencinya. Pantas saja Sonya memperlalukan Hana seenaknya, ternyat Hana bukan anak kandungnya.
Hana berlari keluar dari rumah tersebut. Tanpa ia sadari, kertas ulangan yang ia pegang terjatuh di depan kamar Sonya. Dengan air mata yang terus menetes, Hana melangkahkan kakinya menyusuri jalanan, yang entah ia akan pergi ke mana. Yang jelas, saat ini hatinya sedang hancur. Jika mereka bukan orang tua Hana, di mana orangtua kandungnya berada? Mengapa mereka membiarkan Hana berada di panti asuhan? Banyak pertanyaan di benak Hana akan hal itu.
Setelah cukup jauh Hana berjalan, kini ia sampai di sebuah danau. Danau tempat rumah kayu pemberian Reino berada. Dengan air mata yang masih membasahi pipinya, Hana menyusuri jalan menuju rumah kayu tersebut.
Tak lama, Hana pun sampai. Ia mulai masuk ke dalam rumah kayu itu. Dan langsung duduk di kursi yang ada di dekat jendela, yang menghadap langsung ke danau. Hana kembali meluapkan rasa sedihnya. Meluapkan rasa kecewa terhadap orang tuanya. Hana menangis sesenggukan, dan tidak ada satupun orang yang bisa mendengarnya, hanya ia seorang diri di sana. Hana sangat berharap ada seseorang yang bisa menenangkannya. Hana berharap orang yang ia sayang ada di dekatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
REIHANA [Completed]
Fiksi RemajaSeseorang mengubah hidupmu. Mengubah segala sesuatu yang tidak kamu sukai menjadi sesuatu yang selalu kamu rindukan. Mengubah sikap burukmu menjadi lebih baik. Namun saat seseorang itu pergi, hidupmu menjadi seperti sedia kala. Kamu berubah menjadi...
![REIHANA [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/214534503-64-k739851.jpg)