Waktu menunjukkan pukul 8 malam. Hana sedang berbaring di tempat tidurnya, dengan mata yang sembab akibat menangis cukup lama.
Drttt...
Ponsel Hana bergetar menandakan ada pesan masuk. Hana meraih ponselnya dan mendapati notifikasi pesan dari Reihan. Hana sama sekali tidak ada niat untuk membukanya. Ia pun kembali meletakkan ponselnya.
Drttt...
Ponsel Hana kembali bergetar, dilihatnya layar ponsel yang kembali menampilkan notifikasi dari Reihan. Hana tetap tidak ingin membukanya.
Drttt...
Kali ini Reihan menelefon Hana, membuat Hana mendengus kesal. Hana menolak telefon tersebut lalu mengetikkan pesan untuk Reihan.
Gak usah chat, atau telfon gue lagi. Mulai sekarang gue gak mau ngomong sama lo!
Si Menyebalkan : Gue mau jelasin semuanya sama lo, Han. Tolong dengerin penjelasan gue. Sekarang kita ketemu di taman kota. Gue bakalan jelasin semuanya. Setelah itu gue janji gak akan ganggu lo lagi. Lo boleh benci sama gue, lo boleh ngejauh dari gue. Gue serahin semuanya sama lo. Gue gak bakalan terima apapun keputusan lo nanti setelah denger penjelasan dari gue
Sebuah pesan cukup panjang dari Reihan. Hana pun mencoba membacanya.
"Apa gue temuin Reihan aja kali, ya? Supaya dia gak gangguin gue lagi." Hana mencoba menimbang, dan akhirnya ia memutuskan untuk menemui Reihan. Hana harap setelah itu Reihan tidak mengganggunya lagi. Hana pun mengetikkan balasan.
Oke, gue mau ketemu sama lo. Gue ke sana sekarang
Si Menyebalkan : Oke gue juga otw sekarang. Gue tunggu
Read.
Hana mulai menuruni tangga mencari keberadaan orang tuanya untuk meminta ijin. Hana mendapati Rustam dan Rosa tengah menonton televisi di ruang keluarga. Dengan langkah ragu Hana menghampiri keduanya.
"Ma, Pa," panggil Hana, sontak keduanya menoleh ke arahnya. "Hana mau minta ijin, Hana mau keluar sebentar."
"Kamu mau ke mana, sayang?" tanya Rustam.
"Hana mau ketemu sama Reihan, Pa. Ada yang mau Reihan jelasin ke Hana."
"Ngapain kamu masih mau nemuin dia?" tanya Sonya.
"Hana pastiin setelah ini Hana gak akan berurusan sama dia lagi." Hana mencoba meyakinkan Sonya.
"Yaudah, kamu boleh pergi, tapi kamu harus cepet pulang ya."
"Iya, Pa. Kalo gitu Hana jalan dulu." Hana pun mulai melangkahkan kakinya meninggalkan area rumah.
Seperti biasa, Hana menuju taman kota menggunakan angkutan umum.
Beberapa menit perjalanan, akhirnya Hana sampai di sana. Entah mengapa keadaan taman malam ini cukup sepi, tidak seperti biasanya. Hana mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Reihan.
"Mana sih Reihan? Apa dia belom dateng?" Hana terus mengedarkan pandangannya, sampai pada akhirnya ia melihat keberadaan Reihan.
"Oh, itu dia." Hana Hendak menghampirinya, namun tiba-tiba langkah Hana terhenti. Seseorang membekap mulut Hana dari belakang. Hana tidak dapat melihat orang tersebut. Hana mencoba meneriaki nama Reihan, namun bekapan orang itu cukup kuat, hingga membuat Hana tidak bisa berkata-kata. Tak lama, Hana merasa badannya melemas, pandangannya mulai kabur, hingga akhirnya, Hana jatuh pingsan.
Reihan duduk di salah satu kursi panjang yang ada di taman. Sambil menggenggam secarik surat yang ia lipat rapi. Reihan melirik jam yang melingkar di tangannya. Sudah hampir jam 9 malam, namun Hana belum juga datang.
KAMU SEDANG MEMBACA
REIHANA [Completed]
Teen FictionSeseorang mengubah hidupmu. Mengubah segala sesuatu yang tidak kamu sukai menjadi sesuatu yang selalu kamu rindukan. Mengubah sikap burukmu menjadi lebih baik. Namun saat seseorang itu pergi, hidupmu menjadi seperti sedia kala. Kamu berubah menjadi...
![REIHANA [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/214534503-64-k739851.jpg)