33 - Akhir yang Bahagia (End)

252 4 0
                                        

Cuaca sore Hari ini cukup cerah. Sudah satu minggu Reihan tak sadarkan diri. Ia ingin menghirup udara segar. Kini Reihan berada di kursi roda, menyusuri koridor rumah sakit, menikmati suasana di sore hari yang cerah ini, dengan seseorang yang setia mendorong kursi roda tersebut.

"Sus, dorong kursi rodanya yang cepet dong, pelan-pelan amat kayak lagi balapan sama siput," omel Reihan.

"Nama gue bukan Susi!" jawabnya dengan wajah kesal, membuat Reihan menoleh ke belakang, kemudian terkekeh melihat wajah kesal gadis yang mendorong kursi rodanya itu.

"Terus nama lo siapa? Susan? Susma? Susmi atau Susanto?"

"Rei, kalo lo gak lagi sakit udah gue jorokin lo ke selokan," ucapnya berusaha sabar menghadapi pria menyebalkan yang ada di hadapannya itu.

Reihan malah cekikikan, membuat gadis tersebut semakin di buat kesal oleh tingkah Reihan yang tidak pernah berubah.

"Kalo lo masih ketawa gue dorong lo biar nabrak tembok supaya otak lo bener."

"Kalo nabrak hati lo sih gue mau," ucap Reihan, sambil menampakkan cengirannya.

"Rei..."

"Iya, Hana..?" sahut Reihan, dengan suara yang di lembut-lembutkan.

"Lo bisa gak, nggak bikin gue kesel sehari aja?" tanya Hana, sontak Reihan tampak berfikir.

"Bisa, kalo gue ada di dalem ruangan itu. Saat gue gak sadarkan diri. Gue nggak bikin lo kesel, kan?" pertanyaan Reihan berhasil membuat Hana terdiam.

"Kenapa diem? Apa gue harus masuk ke sana lagi biar gue gak bikin lo kesel?" tanya Reihan dan Hana segera menggeleng cepat.

"Nggak, Rei, lo gak boleh masuk ke dalem ruangan itu lagi. Lo gak boleh ada di sana. Gue lebih baik di bikin kesel tiap hari daripada harus liat lo kesakitan," jawab Hana dengan raut wajah sendu.

Reihan meraih tangan Hana agar Hana menghadap ke arahnya. Kini Hana sudah berdiri tepat di hadapan Reihan.

"Han, maafin gue ya. Gara-gara gue, lo jadi sering nangis. Gue belom bisa nepatin janji gue buat bikin lo bahagia," ucap Reihan, dengan raut wajah yang lebih serius.

"Rei... asal lo tau, dengan sekarang lo ada di hadapan gue, dengan gue liat lo senyum, ketawa. Itu udah cukup bikin gue bahagia. Yang sebelumnya gue sempet ngerasa takut. Gue takut gak bisa liat lo lagi, gue takut gak bisa ketemu sama lo lagi," jelas Hana.

"Lo gak usah takut, Han. Gue bakalan selalu ada di sini, di deket lo. Gue gak akan pergi ke mana-mana. Gue sempet minta sama Tuhan, supaya nggak jemput gue sebelum gue nepatin janji gue sama lo. Dan akhirnya, Tuhan kasih gue kesempatan buat nepatin janji itu. Gue bakalan berusaha buat lo bahagia, sama kayak apa yang Reino lakuin dulu. Bukan karna gue ngerasa bersalah, tapi karna gue beneran sayang sama lo," ucap Reihan, sambil menatap lekat kedua manik mata milik Hana.

"Hana... gue mungkin gak akan bisa gantiin posisi Reino. Tapi gue bakalan berusaha, gue bakalan berusaha buat lo lupa sama rasa sedih lo. Tapi kalo seandainya gue gagal, atau lo ngerasa gak bahagia. Lo boleh pergi, Han. Lo boleh cari orang lain yang menurut lo baik, yang pastinya bisa bikin lo bahagia."

Hana kembali menggelengkan kepalanya. "Nggak, Rei, gue gak mau sama yang lain. Lo berusaha bikin gue bahagia, gue juga bakalan lakuin hal yang sama. Gue juga mau lo bahagia."

"Kalo gitu, kita bahagia bareng, mau?" tanya Reihan, dibalas anggukan cepat oleh Hana.

"Jadi gimana, lo mau gue tembak sekarang?" tanya Reihan. Mata Hana terbelalak mendengar pertanyaan itu.

"Rei, tapi kita lagi di rumah sakit."

"Gapapa, biar semua orang tau, kalo Reihan sayang sama Hana," ucap Reihan, lalu meraih kedua tangan Hana, membuat jantung Hana berdetak lebih cepat dari biasanya.

REIHANA [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang