4. Suka?

2.7K 175 4
                                    


Ruangan itu kini berisi 4 laki-laki dengan aktivitas masing-masing. 2 orang sedang bermain game, sedangkan dua orang lainnya sibuk dengan ponsel mereka.

Bungkus Snack berserakan dimana-mana. Begitupun dengan beberapa kaleng minuman. Ruangan yang tadinya bersih itupun mendadak penuh dengan sampah makanan dan minuman mereka.

Samuel mengerutkan keningnya ketika membaca sesuatu dilayar ponselnya. Tetapi kemudian, dia teringat sesuatu.  Ia langsung menolehkan kepalanya pada Aldi yang sedang senyum-senyum menatap ponselnya.

"Al! Lo kenapa dah senyam-senyum ga jelas gitu?" Samuel menatap Aldi aneh.

Laki-laki itu sudah seperti orang gila saja karena senyum-senyum sendiri. Samuel bergidik melihatnya. Jangan sampai temannya itu benar-benar gila. Ia pikir Aldi adalah satu-satunya yang paling waras diantara mereka berempat. Eh, ternyata sama saja.

"Biasalah, Sam. Paling juga lagi chat sama pacar. Susah emang yang LDR mah."

Arka yang menyahut tanpa menoleh, matanya tetap fokus pada game didepannya.

"Eh, gapin! Ga usah curang lo!"

"Apaan sih, Ka? Mana ada gue curang!"

"Dih, pake ngeles lagi! Dasar gapin! Awas aja lo, bakal kalah sama gue entar!"

Samuel menggeleng ketika kedua orang itu kembali berdebat. Rasa-rasanya, Gavin dan Arka itu tidak bisa tanpa perdebatan sekalipun jika bertemu. Ya, walaupun dia juga gitu sih kalau bertemu dengan Arka.

Kemudian Samuel sadar akan sesuatu, lalu kembali menoleh pada Aldi yang sejak tadi masih anteng dengan ponselnya.

"Eh, Al! Gue mau nanya deh."

"Hm.. apa?" Sahut Aldi tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari ponselnya.

Samuel mendelik. Sebegitu asyiknya kah sesuatu yang ada dibalik layar ponsel itu? Sampai-sampai matanya tak lepas dari layar ponselnya.

"Lo tau sesuatu tentang Nayra, ga?"

Aldi mengerutkan keningnya. Barulah saat itu ia benar-benar mengalihkan pandangannya dari ponsel tercintanya. Ia menatap Samuel bingung. Namun kemudian, senyum jahil tercetak di wajah tampannya.

"Lo suka sama dia?"

Samuel mendengus. Yang benar saja dia suka sama gadis cuek bin jutek itu? Lagipula, mereka kan baru tadi bertemunya. Ya kali bisa langsung suka gitu aja.

Love at the first sight?

Bullshit! Samuel tidak percaya itu. Benar-benar tidak mempercayainya.

"Nope!"

Kedua alis milik Aldi tertaut, "Terus, kenapa lo tiba-tiba nanyain dia? Seolah, lo mau tau sesuatu tentang dia. Kalau emang ga suka, ga mungkin kan lo repot-repot nanyain dia? Lagipula kenapa cuma dia, gitu? Kan ada Dena atau pun Risa."

Samuel terdiam. Benar juga apa yang dikatakan Aldi. Kenapa pula dia repot-repot ingin tau tentang Nayra? Memangnya siapa dia baginya?

Tapi kalau di ingat-ingat lagi, Nayra cantik juga, hehe. Dan juga, wajah judes nya tadi sama sekali tidak membuat Samuel ciut. Ia tersenyum kecil mengingat tadi.

"Tapi dia cantik juga, Al." Gumamnya tanpa sadar.

Aldi mendengar itu tersenyum miring. Ia tahu Samuel tidak sadar saat mengucapkan itu. Dapat dilihat dari tatapannya yang sepertinya sedang melamun.

"WOI, BRO! KEKNYA SAMUEL SUKA NIH SAMA MAK JUDES!!"

Samuel tersentak kaget mendengar teriakan Aldi barusan. Hah? Apa-apaan dia? Mak judes? Nayra gitu maksudnya?

Ia langsung menatap tajam Aldi yang cuma cengengesan. Sementara Gavin dan Arka, kini sedang menatap dirinya. Sejenak mereka melupakan game yang sedang mereka mainkan.

Mereka berdua langsung mendekat pada Aldi dan Samuel.

"Ck ck ck! Sepupu gue udah gede ternyata. Udah tau aja cinta-cintaan."

Arka menggeleng kecil dengan ekspresi wajah yang membuat Samuel benar-benar ingin melemparnya ke laut lepas.

"Lo pikir gue anak kecil, hah?!" Samuel mendelik tajam kearahnya.

"Tapi apa tadi? Mak judes? Lo beneran suka sama dia, Sam?" Sahut Gavin menambahi.

Samuel menatap mereka kesal, "Nggak!"

"Nggak mungkin bohong." Arka kemudian tertawa diikuti yang lain.

Aldi segera menghentikan tawanya. Ia kembali memasang wajah jenaka nya. Ingin kembali menggoda Samuel.

"Lo beneran pengen tau sesuatu tentang dia? Oke deh, gue kasih tau. Siapa tau perlu buat pdkt ya kan." Aldi mengedipkan sebelah matanya.

Samuel diam tak menanggapi. Percuma juga jika dibantah. Ini nih, ciri-ciri temen kampret, batinnya.

"Jadi Sam, lo ga usah takut sama dia yang jutek gitu. Karena dia kayak gitu ga cuma sama lo aja kok. Lagipula, selama ini dia jomblo. Lo mau tau rumahnya? Alamatnya di komplek mekar Sari. Dia punya ade cowo juga yang umurnya sekitar 10 tahun. Dia anak pertama di keluarga nya. Nomor WhatsApp? Akun Instagram? Atau id line Lo juga butuh? Tenang! Gue punya semua!" Ini bukan Aldi yang menyahut, melainkan Gavin.

Samuel menatap Gavin penuh selidik, "Detail bener. Lo tau darimana?"

"Dari Risa, hehe." Gavin nyengir.

Kedua alisnya terangkat, "Emang Risa siapa lo?"

"Sepupu."

Samuel membulatkan matanya. Kok dia tidak tahu itu sih? "Sejak kapan?! Ko gue ga tau?"

Arka memutar bola matanya malas, "Ogeb. Lo dimana kita dimana! Ya jelaslah lo banyak ga tau."

Samuel langsung nyengir. Benar juga apa yang dikatakan Arka barusan.

"Jadi gimana? Lo mau kita bantu ga?" Aldi menaikturunkan alisnya.

"Ngga."

"Widih, jadi mau mandiri aja gitu berjuangnya? Oke, gue hargai semangat lo." Seru Gavin.

Samuel hanya mendengus. Teman-temannya ini benar-benar! Bisa-bisanya mencomblangkannya dengan Nayra hanya karena dia bertanya seperti itu

Tapi, Nayra cantik sih. Wajahnya tetap mempesona walaupun selalu judes dan datar. Entahlah, seperti ada sebuah magnet yang menarik dirinya untuk tau sesuatu tentang nya.

Tapi, tidak mungkin itu suka, kan? Sudah Samuel bilang, kalau dia tidak percaya dengan love at first the sight.

SAM & NAYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang