Samuel merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur king size nya setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan pakaian kasualnya yang biasa ia pakai dirumah. Menatap langit-langit kamarnya, laki-laki itu menghela nafas. Matanya terpejam perlahan.Tidak, Samuel tidak ataupun ingin tidur. Ia hanya ingin menenangkan pikirannya. Sekaligus meredam rasa yang tiba-tiba datang menusuk. Suasana hatinya memburuk. Bahkan raut wajahnya tampak datar, tidak seperti biasanya yang selalu menebar senyum.
Mungkin jika Daddy nya melihat ini, Samuel pasti akan ditodong seribu pertanyaan. Pasalnya, laki-laki blesteran ini jarang sekali memasang raut seperti ini. Kecuali jika ada sesuatu tertentu yang mengganggunya. Seperti saat ini. Yang bahkan sesuatu itu sendiri tidak ia mengerti apa dan kenapa. Dan bagaimana bisa tiba-tiba muncul.
Entahlah, Samuel sendiri terlalu takut untuk mengakui itu. Sebenarnya ia sedikit tau dan mengerti dengan perasaan yang tiba-tiba muncul itu. Tetapi ia mengelak, meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya perasaan biasa. Yang pasti akan bisa ia atasi tanpa harus melibatkan sesuatu yang lebih dari itu.
Siapa lo yang perlu gue ceritain tentang ini?
Perasaan aneh itu kembali datang, ketika ia kembali teringat dengan ucapan Nayra tadi sore. Entahlah, ucapan itu seolah berhasil menohok nya. Membuat setitik gejolak aneh yang datang. Seperti suatu pemberontakan. Menimbulkan sedikit rasa nyeri yang dia sendiri tidak tahu kenapa bisa muncul. Sekali lagi, Samuel terlalu takut untuk mengakui itu.
Lagipula, benar kata Nayra.
Memangnya, siapa dia bagi Nayra? Siapa Nayra baginya? Dan apa pula hubungan mereka berdua?
Teman.
Benar juga. Teman. Mereka berdua adalah dan hanyalah teman. Memang seharusnya begitu, kan? Oh, atau mungkin... Enemy? Tentu saja ini dari sudut pandang Nayra. Nayra kan selalu galak sama dia.
Memangnya apa yang akan Samuel harapkan selain itu? Lebih dari teman? Sahabat? Memangnya ada persahabatan murni antara laki-laki dan perempuan? Mustahil.
Menginginkan lebih dari sahabat?
Pacar?
Hey! Bukankah hubungan seperti itu harus dilandasi dengan rasa suka sama suka dan cinta sama cinta? Atau bahkan sayang sama sayang. Lalu ini? Bahkan rasa itu sama sekali tidak ada. Ralat. Lebih tepatnya, rasa itu dituntut untuk tetap tidak ada. Dan mungkin sampai kapanpun.
Tentu saja Samuel tau konsekuensi dari jatuh cinta. Apalagi jika seseorang itu telah memiliki tambatan nya sendiri. Lalu, yang sedang berharap bisa apa?
Terlebih lagi, ketika melihat selembar foto tadi. Sepertinya laki-laki itu tampak berharga di mata Nayra. Terlihat dari senyum merekah nan tulus yang Nayra tujukan untuk laki-laki di foto tersebut yang bahkan Samuel sendiri tidak tau siapakah laki-laki itu sebenarnya. Ada hubungan apa dengan Nayra, bahkan dia tidak tau.
Pada akhirnya, ada satu langkah yang Samuel ambil. Step back. Kembali berpura-pura naif dan tidak mengetahui rasa yang sedang menyerangnya.
Selama sebulan lebih sejak kepindahannya ke Indonesia dan perkenalannya dengan Nayra. Sejak awal, Samuel ingin mengenal lebih dengan gadis itu. Tidak, saat itu dia hanya ingin sekedar mengenal lebih dekat saja. Tidak ada yang lainnya. Karena Samuel pikir, Nayra begitu menarik di matanya. Gadis itu yang begitu jutek sejak awal pertemuan mereka, membuatnya merasa tertarik. Awalnya, tujuan Samuel hanya satu. Menjahili dan mengusik ketenangan gadis itu.
Tetapi, niat awal itulah yang pada akhirnya menjadi boomerang bagi dirinya sendiri. Setelah mengenal gadis itu lebih jauh, Samuel semakin tau berbagai sisi gadis itu. Meskipun belum terlalu banyak.
Sebenarnya Nayra itu bisa saja bersikap hangat. Dan juga sebenarnya, Nayra itu tidak jutek dan galak, apalagi kalau dengan dia. Karena memang Samuel nya saja yang suka mengganggu Nayra, membuat gadis itu selalu naik pitam setiap saat jika berada didekatnya.
Sisi lain dari Nayra itulah, yang perlahan membuat bagian lain dari hatinya memberontak. Menginginkan lebih tanpa mau mendengarkan bagian yang lainnya lagi dari hatinya.
Namun lagi dan lagi, Samuel mengelak dari semua rasa itu. Berpura-pura tidak mengerti.
Drrttt...
Ponselnya bergetar, yang berhasil membuyarkan lamunan panjang Samuel. Ia melirik pada ponselnya yang tergeletak tepat disampingnya berbaring.
Melihat nama kontak yang tertera dilayar ponselnya, membuat senyum Samuel kembali mengembang. Disaat-saat seperti ini, hanya dialah yang bisa mengembalikan mood Samuel yang tiba-tiba memburuk, bahkan disaat mereka jauh seperti ini. Jarak yang terbentang luas bukanlah menjadi penghalang bagi mereka.
Seseorang itu begitu spesial. Sampai-sampai Samuel pernah mengatakan jika seseorang itu mendapatkan tempat khusus di hatinya.
Lagi lagi Samuel menatap layar ponselnya sambil tersenyum, sebelum menjawab telepon. Sebuah kontak nama dengan emot spesial, sesuai julukan yang sering ia berikan.
Laura Michelle 🐻
"Hey! Let me guess if you miss me right now?"
Samuel lagi-lagi tersenyum ketika seseorang diseberang sana tertawa menanggapi godaannya dan menjawab 'Alright!'
Ah, wajah cantik itu. Samuel benar-benar merindukannya.
•°•°•°•°•
Nayra menghentikan langkahnya. Keterdiaman nya yang tiba tiba membuat Dennis menoleh bingung.
"Kenapa, kak?"
Dennis tentu saja heran kenapa kakaknya itu berhenti melangkah. Padahal, kakaknya sendiri yang bilang akan mengajak nya makan diluar. Tetapi kenapa saat mereka sudah keluar dari mobil, kakaknya itu berhenti melangkah?
Nayra tak menjawab. Tatapan matanya menajam menatap ke depan. Tangan kanannya yang menggantung bebas sementara tangan kirinya menggenggam Dennis, terkepal.
Gadis itu berdecih. Mengumpat didalam hati. Nayra benar benar muak dengan semua ini
Munafik.
Sepertinya kata itu cocok untuk pria yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Seorang pria yang baru saja keluar dari mobil, dengan seorang wanita.
Cih! Apakah ini yang dinamakan cinta? Apakah ini yang dinamakan tidak mengkhianati?!
Cukup! Nayra benar benar muak!
Semua yang terlontar dari mulut seorang Erwin Dharma Wijaya seolah adalah kebohongan bagi Nayra. Bagaimana mungkin pria itu mengatakan mencintai Mamanya padahal sikap nya seperti ini? Bagaimana mungkin pria itu mengatakan tidak pernah mengkhianati Mama nya padahal yang terjadi adalah seperti ini?
Persetan dengan status pria itu sebagai Papa kandungnya. Baginya, tidak ada yang boleh menyakiti Mamanya. Bahkan Papanya sendiri. Nayra tidak tau, bagaimana hancurnya perasaan Mamanya nanti jika mengetahui semua yang telah dilakukan oleh Erwin.
"Kak!"
Tepukan yang Dennis berikan di lengan kakaknya berhasil membuat kesadaran Nayra kembali.
"Kakak kenapa?"
Nayra menggeleng, "Dek, kita cari tempat lain aja yuk. Jangan disini." Nayra sudah bersiap ingin kembali menarik tangan Dennis sebelum anak laki-laki itu bertanya.
"Memangnya kenapa kalau disini?"
"Udah, nurut aja."
Dennis akhirnya mengangguk patuh. Ia sama sekali tidak bisa membantah ucapan kakaknya yang baginya sudah seperti Mama keduanya.
•°•°•°•°•

KAMU SEDANG MEMBACA
SAM & NAY
Fiksi RemajaSequel of troublemaker Samuel, cowok ganteng dengan kepercayaan diri selangit, berhasil membuat Nayra si cewek jutek naik pitam setiap hari. Hidup Nayra yang semula tenang langsung berubah 180° karena Samuel si murid baru yang selalu mengganggunya...