5. Samuel si annoying boy

2.2K 160 2
                                        


"Baiklah, sampai disini pelajaran kita pada hari ini. Jangan lupa tugasnya di kumpulkan besok."

Semua murid menghela nafas lega. Setelah Bu Resti mengakhiri pelajarannya dan keluar dari kelas, akhirnya mereka bebas juga dari kebosanan itu.

Bagaimana tidak bosan coba jika sedari tadi mereka terus disuguhi banyak rumus dan angka. Ya bagi mereka yang paham sih, it's okay. Nah kalau yang otaknya pas-pasan? Yang ada semakin lempeng.

Tak lama setelah Bu Resti keluar, bel istirahat berbunyi. Tanpa menunggu lagi, mereka semua langsung keluar kelas untuk menyegarkan otak. Entah itu ke kantin, perpustakaan, ataupun taman belakang sekolah.

Samuel mulai memasukkan kembali semua bukunya yang berserakan diatas meja kedalam tas. Setelah itu, ia mengambil ponselnya dari dalam tas, baru kemudian memasukkan nya kedalam saku celana.

Ketika Samuel ingin melangkah menyusul teman-temannya sudah sudah keluar kelas duluan, seorang gadis menghampirinya.

"Sam, gue ke kantin bareng lo, ya?"

Samuel berdecak pelan. Gadis ini... Apakah tidak bisa sekali saja membiarkannya tenang? Sejak awal kepindahannya ke sini saja, gadis itu sudah mulai menempelinya.

Meskipun mempunyai kepercayaan diri selangit dan selalu mengaku bahwa dirinya tampan, tetap saja Samuel risih jika keadaannya seperti ini. Kalau kata Samuel sih, dia ga suka ditempeli cewe. Biar dia aja.

Dasar kutu beras!

"Gue buru-buru, Tar. Sorry."

Samuel segera pergi keluar kelas. Berjalan dengan cepat untuk menyusul Aldi dan yang lain. Maksud Samuel buru-buru adalah ingin segera terbebas dari Tari. Padahal kalau dipikir-pikir kan, walaupun dia buru-buru, setidaknya bisa barengan, kan? Toh juga tujuannya sama-sama kantin.

Memang dasar Sam nya saja yang malas sama Tari.

"Eh, Sam! Tungguin gue!"

Samuel mendengus lelah. Gadis itu ternyata menyusul nya. Bahkan sekarang sudah berada tepat disampingnya. Heran, padahal Samuel sudah berusaha mempercepat langkahnya, bahkan setengah berlari.

"Kenapa gue ditinggal, sih?"

Siswi dengan seragam ketat serta rok diatas lutut itu berucap sedikit manja. Mulai menggamit lengah Samuel yang berusaha ditepis oleh sang empunya.

Siapapun, tolong bebaskan Samuel dari gadis ini. Lagipula, kenapa disaat-saat seperti ini temannya malah sudah meninggalkan nya duluan sih?

Samuel menggaruk belakang lehernya, bingung mau menjawab apa. "Ehm, gue---"

Laki-laki itu menghentikan ucapannya. Matanya berbinar kala melihat seseorang yang berada tak jauh didepannya yang seperti akan berjalan kearahnya. Eh, lebih tepatnya sih melewatinya. Karena mana Sudi gadis itu menghampiri nya.

"Maaf ya, Tar. Tapi gue udah janji sama Nayra." Samuel mencoba melepaskan tangan yang masih setia melingkar di lengannya.

Mendengar namanya disebut, Nayra mengangkat sebelah alisnya. Jarak antara mereka kini hanyalah 2 meter, sehingga ia dapat mendengar jelas ucapan Samuel tadi.

"Apa lo?!" Tanya Nayra ketus.

"Ngga, Nay. Cuma mau bilang kalo lo jelek--- eh, cantik. Hehe."

Samuel nyengir, kemudian segera mendekati Nayra. Seolah sudah melupakan Tari yang kini sedang kesal terhadap mereka berdua.

Nayra memutar bola matanya malas. Memilih untuk tidak menanggapi manusia menyebalkan sejenis Samuel, ia kembali berjalan. Mengacuhkan Samuel yang kini mengekornya dan kemudian mensejajarkan langkah mereka.

"Lo mau ke kantin, kan? Kenapa ga bareng Dena sama Risa?"

Gadis itu hanya bergumam kecil. Menjawab pertanyaan pertama, tetapi tidak pertanyaan kedua.

Samuel menghela nafas, gadis ini benar-benar cuek. Dan juga jutek tentunya. Rasanya untuk mendekatinya saja sulit. Pantas saja jomblo. Eh?

"Nay, mau denger ga? Lo tuh cantik, tapi ga usah jutek gitu dong. Entar ga ada yang mau, jadi jomblo seumur hidup deh lo. Mau? Eh, keknya engga deh. Masih ada gue yang mau sama Lo kok, hehe." Laki-laki itu menampilkan senyum manisnya.

"Bacot, Sam. Mending diem." Ujar Nayra tajam.

"Gue emang udah terlahir bacot, Nay. Jadi ga bisa diem."

Nayra tidak menanggapi lagi ucapan Samuel. Kini mereka sudah memasuki pintu masuk kantin. Banyak tatapan yang mulai menyorot kearah mereka. Menatap mereka sedikit aneh.

Namun, baik Nayra maupun Samuel sama sekali tidak peduli. Mereka berdua lantas langsung menghampiri meja yang berada di pojok bagian depan kantin, dimana teman-teman mereka sudah berada disana.

Melihat Nayra yang sudah duduk, Samuel ikut menarik kursinya. Memilih tempat di sebelah Nayra.

"Sam mah diam-diam menghanyutkan ya. Bilangnya aja kemaren ga suka sama Nayra, tapi sekarang malah nempel." Ujar Gavin seraya tersenyum miring.

"Diem lo!" Samuel menatapnya tajam.

Memang benar, Samuel tidak menyukai Nayra. Tapi kenapa teman-temannya malah menggodanya?

Baiklah, Samuel akui, menganggu Nayra sejak awal bertemu adalah hobi barunya sekarang. Melihat gadis itu yang menatapnya garang, seolah menjadi hiburan tersendiri bagi Samuel. Ia juga sudah jadi sering menempel pada Nayra.

Tetapi, itu bukan berarti ia menyukai Nayra.

"Kenapa tadi lo bertiga ninggalin gue duluan, hah? Gue jadi harus ngadepin Tari sendirian." Samuel mendengus, merasa kesal dengan mereka.

"Emangnya si Tari ngapain?" Tanya Risa.

Samuel menghembuskan nafasnya, memasang wajah sedikit sedih.

"Biasalah, orang ganteng mah pesonanya ga bisa diraguin lagi. Makanya tuh orang nempel mulu."

Mereka semua mendelik. Kapan sih tingkat kepedean Samuel itu bisa turun?

"Untuk beneran ganteng lo, Sam. Kalo ngga udah gue tampol nih!" Kesal Dena.

Arka tiba-tiba langsung menatap Dena penuh protes, "Eh, beb! Lo ga boleh bilang orang lain ganteng selain gue!"

Dena mengangkat sebelah alisnya, "Siapa lo? Ga kenal."

Arka langsung menekukkan wajahnya. Melihat itu, mereka semua mentertawakan dirinya. Kecuali Nayra, tentu saja. Gadis itu kan flat.

"Nay Nay! Ketawa dong sekali, gue pengen liat."

Nayra mengabaikan ucapan Samuel. Ia mengaduk sebentar jus mangga nya yang tadi sudah dipesankan sekalian oleh Risa, kemudian meminumnya.

"Aduh duh, di cuekin deh. Kasian banget, cowo ganteng di tolak. Hahaha." Aldi tertawa, seakan senang melihat dirinya yang diabaikan seperti itu oleh Nayra.

"Bacot."

Samuel mendengus. Teman-temannya kini malah mentertawakan nya, setelah mentertawakan Arka tadi. Ia menatap Nayra yang tampak biasa saja. Bahkan dengan raut tak bersalahnya ia melahap batagornya dengan santai.

Sekuat apapun benteng lo, gue pasti bisa runtuhin.

•°•°•°•°•

SAM & NAYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang