.
"Pokoknya mama gak mau tau. Kalau nilai UN kamu jelek, mama gak akan izinin kamu buat kuliah bareng Mbak Joy di Yogya!"
Aku melotot. Kuliah di Yogyakarta kan impianku sejak SMP. Masa gara-gara ini? Argh!
"Tapi ma, aku--"
"Aish, gak ada tapi tapian! Kayak di sinetron aja!"
Lalu serta merta mama membawa langkah kakinya menuju kamar tanpa mau mendengar pembelaanku.
Aku mendudukan diri di sofa ruang tengah. Pikirku masih melambung ke kejadian tadi, saat wali kelasku menelpon mama dan mengadukan nilai akademisku yang terus merosot, padahal aku sudah belajar semampuku.
Kulirik pigura foto di atas nakas dekat televisi, lalu tersenyum kecil.
"Pa, aku harus apa? Aku mau kuliah di sana kayak papa dulu, Pa."
Menarik napas panjang, aku beranjak ingin kembali ke kamarku sendiri, hingga suara decit pintu mengalihkan atensiku.
"Ma?"
"Kamu harus ikut les!"
Aku menunduk, mau tak mau hanya mengangguk. Kata guru agamaku, melawan orangtua itu dosa besar.
"Yaudah, gitu aja."
Mama kembali lagi masuk dalam kamarnya. Menutup pintu meninggalkan debuman yang lumayan mengagetkanku.
***
"
Mama udah dapet guru les kamu, dia anaknya teman mama."
Aku yang sedang menyendokkan nasi ke dalam mulut hanya mengangguk.
Setelah selesai menelan kunyahan terakhir makananku, aku meraih gelas di samping piringku lalu meminum air di dalamnya.
"Tapi kan lagi pandemi gini, Ma. Gimana mau les nya?"
Mama berdecak pelan, "Sekarang itu udah serba canggih. Wong sekolahmu aja online, kok. Perkara gampang itu,"
Meraih gelas, mama minum dengan pelan setelahnya, "Lagian buat apa mama bayar wi-fi tiap bulan kalo cuma kamu pake buat nonton oppa oppamu itu?!"
Lagi lagi aku hanya mengangguk, "Iya, ma."
Memangnya aku bisa apa selain mengangguk?!
***
Aku duduk agak kaku di kasurku. Di depanku laptop menyala dan sedang terhubung dengan tutor lesku, tapi orangnya belum muncul di layar. Tadi ia pamit mengambil minum sebentar sesaat setelah menerima panggilan videoku. Dari suaranya aku yakin tutorku pasti laki-laki.
Di layar hanya menampilkan ruangan yang sepertinya itu kamar tutorku. Eh, tapi kok ada pianonya ya? Dia suka musik juga?
Ah, bukan urusanku! Ingat, tujuanmu itu hanya belajar, bukan kepo dengan kamar orang!
"Maaf lama."
Suara baritone tegas itu menghancurkan dunia lamunanku. Atensiku langsung fokus pada sang tutor di layar. Kuperbaiki letak kacamataku yang agak melorot.
Masya Allah, nikmat Tuhan mana lagi yang mau kau dustakan wahai manusia?
"Hey! Hallo! Tolong fokus ya!"
KAMU SEDANG MEMBACA
NCT as
Fiksi Penggemarft. NCT Karena kita sama-sama suka halu. pict cr to owner. Start : 27 11 '19
