Sekarang hari Minggu. Waktu yang tepat untuk mengistirahatkan tubuh lebih lama karena semalaman suntuk aku sibuk mengurus bisnis kecilku.
Gorden sengaja tidak kubuka setelah tadi mematikan alarm. Kunikmati waktu yang menenangkan ini..
"ADEK!"
Aku terlonjak kaget. Demi kerang ajaib, suara mamaku sungguh menggelegar di seisi kamar.
Ya jelas bisa kutebak, beliau pasti berdiri di pintu kamarku yang terbuka. Dan benar saja.
"Duh, gadis jam segini belum bangun! Ayo bangun!"
"Kenapa, sih, Ma?" responku lemah. Sungguh mata ini enggan membuka saking mengantuknya aku.
"Bangun! Beliin mama minyak goreng." Kata Mama sambil menarik selimutku dan mematikan pendingin ruangan.
"Kan ada Kak Yuta, dia aja deh. Aku baru tidur jam tiga tadi." Jawabku sambil menarik lagi selimut menutupi tubuhku.
"Kamu lupa kakakmu itu lagi hiking?" balas Mama.
Oh iya, benar juga.
Mama menyambung lagi ucapannya, "Mama cuma punya kamu sekarang. Ayo bangun! Bantu mama dulu."
Aku langsung bangun setelah mendengar ucapan Mama, bergegas masuk kamar mandi dan mencuci wajah. Sedangkan Mama keluar dari kamarku.
Setelahnya aku menghampiri Mama di dapur.
"Uangnya, Ma?" Kataku sambil menadahkan tangan kanan, sedangkan tangan kiriku sibuk membenarkan posisi masker.
Mama memperhatikanku dari atas ke bawah, tatapannya seperti seorang juri yang sedang menilai hasil karya kontestan fashion designer. Aku balik menatapnya penuh tanya.
"Pake piyama doang gak malu?" Aku kontan menggeleng.
Setelahnya Mama merogoh kantong dasternya dan mengeluarkan selembar uang warna biru.
"Minyak goreng dua liter merek Sanca."
"Terus?" Tanyaku.
"Udah itu aja."
Aku meraih uang tersebut dan langsung bergegas ke minimarket dekat rumah dengan berjalan kaki.
Semuanya baik-baik saja, sampai tiba di pertigaan jalan tiba-tiba seorang pengendara sepeda hampir menyerempetku kalau saja aku tidak segera lebih meminggirkan tubuhku.
"WOY!"
Si pengendara tidak berhenti. Aku yang telanjur kesal lekas melepas sebelah sandalku dan melempar pada Si pengendara, sayangnya itu meleset. Bersungut-sungut aku mengambil kembali sandal dan memakainya lalu melanjutkan jalanku.
Selesai membeli minyak goreng. Aku langsung keluar minimarket dan menemukan sepeda yang tadi hampir menyerempetku terparkir apik. Aku menghampiri sepedanya untuk memastikan.
"Siapa ya?"
Masih pagi dan sudah dua kali aku terlonjak kaget.
Aku langsung menoleh ke sumber suara.
"Lo yang punya sepeda?" Tanyaku langsung.
Dia mengangguk.
"Oh, jadi lo."
Kulihat dia mengernyitkan dahi, "Maksudnya?"
Aku tidak menjawabnya. Aku malah berjongkok dan membuka tutup ban depannya.
"Eh, mau ngapain lo?"
Perlahan kutekan hingga bunyi angin keluar dari ban.
Si empunya sepeda menarik tanganku, kurasa dia reflek.
KAMU SEDANG MEMBACA
NCT as
Fanfictionft. NCT Karena kita sama-sama suka halu. pict cr to owner. Start : 27 11 '19
