Hingar bingar suara banyak orang dan musik yang sayup-sayup terdengar, tak langsung membuatku hilang fokus, malah membuat fokusku semakin bertambah saat satu persatu orang datang kepadaku entah untuk bertanya apapun pasal Pensi yang sedang berlangsung di sekolah kami.
Aku menarik napas panjang, mengambil HT di saku lalu berbicara di sana sambil berjalan untuk mengecek lagi panggung yang digunakan untuk acara inti pada sore nanti.
"Tes. Ada masalah di depan, tolong ketua ke sini ya."
"Iya, Dam, gua langsung ke sana."
Memasukkan lagi HT pada saku, aku yang hendak berlari menjadi agak tersentak saat sesuatu menahan tanganku. Dan sebotol air disodorkan di depanku.
"Kakak pasti capek, minum dulu, deh."
"Ji? Oh ya, makasih."
Aku membuka tutup botol itu dengan segenap tenaga yang tersisa. Meneguk isinya hingga sisa setengah. Sebenarnya aku lelah, tapi semua yang sedang berlangsung di sekolah kami masih jadi tanggung jawabku sebagai ketua pelaksana.
"Kakak mau ke mana lagi?"
"Ke depan, kata Adam ada masalah." Jawabku tanpa melihatnya karena sibuk menutup botol yang sialnya sulit ditutup.
Jisung mengambil alih botol yang kupegang untuk membantuku.
"Kakak duduk situ aja," katanya sambil menunjuk teras koridor depan kelas 10 yang posisinya menghadap belakang panggung.
Aku jelas menggeleng, "Kerjaan kakak banyak, Ji. Gak sempet istirahat."
Jisung mengernyit, tatapannya jadi agak tajam dari balik matanya yang sipit.
"Biar aku aja yang urus, kakak istirahat dulu."
"Enggak, ini tanggung jawab kakak. Udah ya, kakak mau ke depan dulu."
Lagi, tanganku ditahannya.
"Ji-"
Jisung berjongkok di depanku sontak membuatku melotot.
"Kamu ngapain?!" Kataku panik dan ikut berjongkok bersamanya.
"Benerin tali sepatu kakak, bahaya kalo lepas." Jawabnya tanpa menatapku.
Setelah selesai menalikan tali sepatuku, ia mendongak lalu tersenyum dan melepas topinya yang sejak tadi bertengger di kepalanya untuk dipasangkan di kepalaku.
"Pake, ya. Lagi panas banget."
Aku mengerjap, "Ji?"
"Dah! Yuk, ke depan bareng!" Katanya sambil memegang tanganku. Posisi kami masih berjongkok.
"Kakak bisa sendiri." Kataku sembari menarik pelan tanganku dari genggamannya.
Jisung tersenyum lagi, "Gakpapa, aku mau nemenin kamu juga. Tugasnya wakil ketua kan gitu."
Aku yang pasrah hanya bisa mengangguk.
Kami berdiri lalu berjalan cepat masih sambil bergandengan. Lalu entah sial yang keberapa kali, topi yang bertengger di kepalaku malah menyulitkanku karena sangat longgar di kepalaku.
Jisung menghentikan langkahnya yang sontak membuat aku berhenti juga. Dia membenarkan posisi topi, dan mengecilkan ukurannya agar pas di kepalaku.
"Ternyata kepala pacarku kecil juga, ya." Katanya sambil terkekeh kecil lalu menggandeng aku lagi.
"Tapi masih gemesin, jadi makin sayang." Katanya lagi yang kontan membuat pipiku panas.
****
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dear, apa kabar? Kangen kalian banget huhu T.T
Terima kasih masih di sini ya. Walaupun saya gak update dalam waktu lama tapi saya selalu memantau, kok. Dan.. komenan kalian tuh tetap jadi moodbooster saya >.< Aaa sayangggg <3
Btw, ini special comeback saya ya. Secepatnya saya selesaikan 21 member, dan bisa bebas menerima reques. Ayo dong kalian reques, saya nungguin loh. Psst.. tapi reques buat member yang belum ada chapternya ya! Yuk, isi reques box di atas sana!