23. | Apa akan tetap dekat?

129 39 9
                                        

"Mungkin sekarang gua masih bisa lihat lo dengan jarak dekat. Tapi kita semua nggak ada yang tahu, kalau mungkin suatu hari nanti kita nggak akan sedekat ini"

~ Darrel Arkano Zavenander

"Happy Reading"

***

Devi baru saja turun dari taksi, ia berjalan memasuki rumahnya yang terlihat sepi dari luar. Baru saja ia menutup pintu rumah, kini sudah terdengar ada yang mengetuk pintu rumahnya keras. Ia membuka gorden jendela rumah untuk melihat siapa yang datang, seketika Devi terkejut melihat dua orang rentenir yang datang kerumahnya beberapa minggu yang lalu.

Devi harus berkata apa sekarang? Ia bingung, siang hari seperti ini neneknya pasti sedang tidur. Devi segera merogoh sakunya dan mengambil ponselnya, ia mencoba untuk telepon ayahnya, tapi ponsel ayahnya tidak kunjung terangkat juga.

Dengan terpaksa, ia membuka pintu rumahnya dan menatap dua rentenir tersebut dengan awas.

"Dimana Setya!?" tanya salah satu rentenir yang memakai kaca mata.

"Ayah lagi nggak ada di rumah. Sebaiknya om kembali kesini saja besok." jawab Devi sesopan mungkin.

"Hei anak muda... Waktu itu kamu sudah berjanji untuk membayarnya sekarang, kenapa selalu ada alasan!" gertak rentenir satunya lagi yang berkepala plontos.

Devi kaget saat ia di gertak barusan, ia mencoba menutupi rasa takutnya di depan dua rentenir ini. Harus apa lagi yang ia katakan pada mereka? Bahkan uang bulanannya pun semakin menipis sekarang.

"Saya nggak punya uang untuk melunasi semua hutang ayah." ucap Devi yang memelas. "Tolong pak... Kasih saya keringanan untuk kali ini." lanjut Devi yang kini memohon pada dua rentenir di depannya.

"Kamu ini! Awas kamu ya, besok kami akan kembali lagi kesini." ucapnya dengan mata yang melotot. "DAN JANGAN CARI ALASAN!!." lanjut salah satu rentenir itu dengan suara kerasnya. Setelah itu ia melangkahkan kakinya meninggalkan rumah Devi.

"Dasar orang miskin!" hardik sang rentenir yang berkepala plontos dan setelah itu ia ikut meninggalkan rumah Devi.

Hati Devi sakit mendengar perkataan kedua rentenir itu. Ia mengeluarkan air matanya yang sejak tadi sudah ia tahan. Devi hanya bisa pasrah, ayahnya sangat susah di hubungi semenjak ia dekat dengan Tante Miranti. Devi harus bagaimana besok, tidak mungkin ia akan mencari alasan lagi pada para rentenir itu.

Devi menutup pintu rumahnya pelan. Ia menghapus air mata yang berada di wajahnya. Setelah ini ia harus menemui ayahnya dan membicarakan persoalan ini. Saat ia ingin melangkahkan kakinya, seseorang mengetuk pintu rumahnya lagi, tapi kali ini dengan pelan.

Tok tok tok ...

Devi lantas membuka pintu rumah lagi dan melihat siapa yang datang. Devi mengelap air mata yang masih membekas di wajahnya. Ia memberikan senyum semampunya pada Steven yang menatapnya was-was.

"Lo nggak apa-apa kan?" tanya Steven dengan nada cemasnya.

"Iya." jawabnya sembari menganggukkan kepala.

"Gue lihat orang-orang tadi kayak preman." ucapnya dengan menatap Devi serius. "Gua tahu, lo pasti lagi ada masalah kan?" tanya Steven yang meminta penjelasan.

DARREL [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang