16. | Kembali dingin

159 64 10
                                        

"Happy Reading"

***


Darrel kini sudah berada di rooftop sekolahnya, bagian paling atas dari sekolah ini yang sangat sunyi dan tentram. Mungkin ini tempat yang tepat untuk dijadikan pelarian saat ia bingung seperti ini.

Ia menaruh minuman kaleng di sebuah meja yang sudah terlihat kusam dan mulai rapuh itu. Darrel memandang langit keatas, walaupun ia sudah berada di rooftop, tapi langit tetap saja masih berada jauh diatasnya. Sama halnya dengan Clara, sedekat apapun Darrel dengannya, tetap saja ia menjaga jarak jauh kalau soal hati. Sampai kapanpun juga sepertinya ia tidak bisa bersama dengan Clara.

Darrel yakin perempuan itu pasti tidak akan membukakan hati untuknya. Ia menghela nafasnya sejenak, memikirkan semua ini ia jadi ikut teringat tentang Devi yang sedang sakit.

Sebenarnya Darrel mau menerima Devi, tapi apa daya ia tidak bisa mencintai Devi, entah kenapa hatinya selalu tertuju pada Clara saja. Tapi Clara malah tidak mau menerimanya.

Darrel segera menghabiskan minuman kalengnya, dan ia menginjak kaleng tersebut dengan sepatu hitamnya hingga kaleng itu terlihat penyok dan tak terbentuk seperti semula.

Lama Darrel terdiam memperhatikan kaleng tersebut, namun tiba-tiba ada yang meneleponnya. Darrel mengambil ponselnya dengan kesal, ia melihat siapa yang meneleponnya. Dan ternyata yang meneleponnya adalah nomor orang iseng yang tadi pagi.

Darrel masih kesal dengan Clara dan kini orang asing itu meneleponnya lagi, sebenarnya apa yang orang ini mau darinya. Darrel mengangkat telepon tersebut, dan berbicara dengan nada kesalnya pada si penelepon.

"Lo sebenarnya siapa sih!" Darrel menghardik si penelepon.

Si penelepon tidak menjawab pertanyaan Darrel, ia hanya diam saja tidak mengeluarkan suara sama sekali.

"Gua tanya sekali lagi, kalo lo nggak jawab gua blokir nomor lo!?" Tanya Darrel sekali lagi dengan suara kerasnya.

"Saya kangen kamu. Kamu akan tahu suatu saat nanti." Ucap wanita itu di seberang sana.

Darrel mengernyitkan dahinya heran, ia tidak mengerti apa yang di bicarakan si penelepon. Dan tiba-tiba saja sambungan telepon dimatikan dengan si penelepon. Darrel melihat nomor tersebut, ia tampak berpikir keras, sebenarnya siapa wanita ini.

Darrel akan menyuruh salah satu rekan kerja mamanya untuk melacak nomor ini, ia ingin tahu si penelepon ini. Ia semakin dibuat penasaran sekarang, apalagi wanita itu mengatakan kalau Darrel akan mengetahuinya suatu saat nanti.

Ia bangkit dari meja kusam yang di dudukinya barusan, Darrel berjalan meninggalkan rooftop dengan tatapan dinginnya kembali. Sudah lama ia menutupi wajah dinginnya, tapi sekarang, mulai hari ini Darrel akan kembali dingin dengan setiap orang kecuali orang tua. Karena Darrel masih punya rasa sopan terhadap orang yang lebih tua darinya.

Ia menuruni tangga rooftop dan berjalan lurus menuju kelasnya, tapi saat dipersimpangan ia melihat Luna yang dari kejauhan. Darrel segera mempercepat jalannya, Darrel tidak mau bertemu si nenek lampir saat ini.

Tapi sepertinya keberuntungan saat ini sedang tidak berpihak kepadanya. Ketika ia mempercepat jalannya, tiba-tiba Luna yang berlari dibelakangnya kini langsung mencegatnya di depan.

Darrel menghela nafasnya kasar, ia membuang muka kearah lain. Luna kini menatap dengan tatapan memujanya, lama mereka terdiam, kini Luna malah memegang tangan kanan Darrel.

Darrel mengeraskan rahangnya dan menepis tangan Luna yang memegangnya. Ia menatap Luna tajam, Luna tetap saja tersenyum manis padanya. Padahal Darrel sudah mengeluarkan tatapan menusuknya pada Luna.

DARREL [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang