"Happy Reading."
***
Clara memasuki rumahnya dan langsung masuk kedalam kamarnya, Kak Fero yang sedang menonton tv melihatnya dengan dahi yang berkerut. Kak Fero sudah tau ia habis menangis, sangat terlihat sekali dengan matanya yang sembab. Ia akan bertanya nanti, jika keadaan Clara sudah baikan.
Clara melempar tasnya dengan asal, dan langsung tiduran di atas kasur tanpa melepas seragam sekolahnya terlebih dahulu. Ia mengambil ponselnya dan melihat foto-fotonya bersama Devi dan Feli, ia tidak mau jika suatu hari nanti, mereka berpisah.
Akhirnya untuk mengusir rasa bosannya, ia memainkan Cello dengan lagu lovely - Billie Eilish, tanpa sadar ia meneteskan air matanya dan menyelesaikan lagu tersebut, setelah selesai bermain Cello ia mencoba menutup matanya untuk tidur.
***
Sebuah mobil SUV hitam berhenti di depan rumah minimalis bercat biru, seorang laki-laki yang berusia sekitar tiga puluhan memencet bel yang berada didepan pintu rumah tersebut.
Tidak berselang lama, Devi membuka pintu rumah dan menyalimi tangan lelaki itu. Devi tersenyum dan menyuruhnya masuk.
Nenek Devi keluar dari kamarnya dan menyapa anaknya dengan senyum hangatnya.
Setya menyalimi tangan ibunya, dan mereka mengobrol biasa. Setya memperhatikan putrinya yang sepertinya sepantaran dengan Darrel, calon anak tirinya nanti. Ia menyuruh Devi masuk ke kamar untuk belajar.
Setya berbicara pada ibunya perihal pernikahannya dengan Miranti yang tiga bulan lagi, yang mungkin akan dihadiri oleh kerabat dekatnya saja.
Devi tidak benar-benar masuk kamar, ia mendengarkan semua perkataan yang ayahnya katakan dibalik tembok. Ia tidak bisa membayangkan, bagaimana nanti jika ia mempunyai ibu tiri.
Devi bahagia, kalau nantinya ayahnya akan menikah. Tapi di satu sisi, Devi ingin sekali ibunya berada disini disamping ayahnya, sehingga kami menjadi keluarga yang harmonis, tapi sayangnya ibunya meninggal saat melahirkan Devi.
Devi sengaja keluar dari balik tembok dan duduk kembali di ruang tamu bersama ayah dan neneknya.
"Ayah, Devi nggak mau punya ibu tiri yang galak." Ucap Devi dengan polosnya.
"Namanya Miranti nak, dia perempuan yang baik" jawab ayahnya sembari tersenyum.
Devi hanya menganggukkan kepalanya sejenak, dan ia meminta melihat foto wanita tersebut pada ayahnya. Dari foto tersebut Devi bisa melihat, perempuan itu wajahnya sangat keibuan, dan wajahnya agak mirip dengan seseorang, tapi Devi lupa. Mungkin suatu hari nanti ia bisa bertemu dengan calon ibunya itu.
Setengah jam berlalu, dan ayahnya izin pulang ke apartemennya di dekat kantor, Devi tidak ikut tinggal bersama ayahnya, karena jarak apartemen ayahnya ke sekolahnya cukup jauh. Jadi, ia tinggal dirumah neneknya untuk saat ini.
Devi melambaikan tangan pada mobil ayahnya yang kian menjauh. Ia tersenyum miris, karena tidak memiliki keluarga yang utuh seperti Clara dan Feli.
Devi menutup pintu rumahnya dan kembali ke kamar, lagi-lagi ia teringat dengan Darrel. Bagaimana caranya agar ia bisa melupakan laki-laki itu. Ia tahu, memang banyak perempuan diluar sana yang menyukai Darrel, tapi kenapa tidak dirinya kali ini yang beruntung.
Devi bosan dan membuka ponselnya yang sedari tadi bergetar karena ada notifikasi yang masuk dari grup.
Feli : Oy
Feli : Oyyy
Feli : Gue gabut nih:(
Feli : Ah pada nggak on, nggak asik nih:(
KAMU SEDANG MEMBACA
DARREL [ON GOING]
Teen Fiction[Cerita ini akan aku revisi setelah tamat. Jangan lupa follow sebelum membaca.] *** Darrel Arkano Zavenander si manusia tampan dan gamers sejati, tidak luput juga dari sifatnya yang keras kepala. Satu lagi, dia dingin dengan setiap wanita, kecuali i...
![DARREL [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/190760486-64-k935592.jpg)