15. | Keraguan

160 70 12
                                        

"Setidaknya lo mau menghargai walau hanya sekali."

~ Darrel Arkano Zavenander


"Happy Reading"

***

Brum... Brum...

Suara motor besar terdengar didepan rumah Clara. Clara yang sedang memasang dasinya langsung mengintip dari balik tirai kamarnya. Ia menghela nafasnya, ternyata orang itu adalah Darrel.

Clara mengambil tasnya dan memakainya, lalu ia turun ke bawah dan menemui bunda yang sedang memotong sayuran di dapur.

"Bun, Rara berangkat dulu ya. Itu Darrel udah jemput." Ucap Clara seraya menyalimi tangan bundanya.

"Iya, hati-hati ya nak."

"Iya..." Jawab Clara yang sudah berada di pintu rumah.

Darrel melihat Clara dengan seragam putih abunya, ada yang beda dengan Clara kali ini, ia mengikat rambutnya dan menggulungnya menjadi dua di kanan dan di kiri. Darrel membuka kaca helmnya dan menegur Clara yang sedang memakai sepatu diteras.

"Oy, imut banget sih itu rambutnya."

"Hah, imut? Lagi kangen aja rambutnya diginiin, hehehe." Jawab Clara yang terkekeh.

"Jangan cantik-cantik nanti kalo ada yang naksir gimana?"

"Ya nggak apa-apa kan gue masih jomblo, hehehe." Jawab Clara yang melirik kearah Darrel.

Darrel menganggukkan kepalanya sekilas dan segera menyalakan mesin motornya kembali.

"Mulai besok gue berangkat sama Kak Fero lagi ya? Tanya Clara hati-hati.

"Oke, kebetulan juga besok-besok gua mulai sibuk." Jawab Darrel santai, tapi ia jadi memikirkan ucapan Clara yang sepertinya ia tidak mau lagi diganggu olehnya.

Clara menaiki motor Darrel dan memasang helmnya. Selama perjalanan mereka hanya diam, Clara melihat Darrel dari kaca spion, ia diam dari tadi, biasanya ia akan mengajak Clara bicara.

Padahal Clara sudah bicara hati-hati tadi, tapi sepertinya Darrel mengaggap itu sebagai hal serius. Clara jadi tidak enak kalau begini, ia sendiri bingung. Ingin menghindar dari Darrel, tapi disisi lain ia tidak mau menyakiti perasaan Darrel.

"El? Nanti siang lo ke kantin nggak?" Tanya Clara yang membuka percakapan dan melihat kearah spion.

Lama Darrel terdiam, akhirnya ia menjawab pertanyaan Clara. "Iya, paling cuma sebentar." Jawab Darrel tanpa menoleh kearah spion.

Dua puluh menit berlalu, akhirnya mereka sampai di salah satu sekolah favorit di Jakarta, yaitu SMA Cakrawali. Siswi-siswi yang berada di parkiran melihat Darrel dengan tatapan memujanya, tapi sebaliknya ketika mereka melihat Clara, tatapan mereka menjadi tidak suka.

Clara turun dari atas motor, dan menaruh helmnya diatas motor Darrel.

"Btw, makasih ya El." Ucap Clara yang tersenyum.

"Iya, yaudah lo masuk gih. Gua mau ke ruang guru dulu ada perlu." Jawab Darrel.

"Oke."

Darrel melihat Clara dari belakang, ia berpikir akan sampai kapan ia memperjuangkan perasaannya demi Clara, tapi Clara tidak pernah merespon perasaannya. Darrel akan berpikir lebih nanti, apa ia harus menjauhi Clara dan bersikap dingin lagi seperti biasanya.

Darrel juga butuh respon, tidak mungkin ia akan seperti ini terus menerus, Darrel merasa sakit hati karena Clara tidak membalas perasaannya. "Setidaknya lo mau menghargai walau cuma sekali." Darrel bermonolog soal Clara, ia beranjak dari motornya dan berjalan menuju ruang guru.

DARREL [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang