29. | Gagal Romantis

107 22 3
                                        

"Walaupun hati teriris, tapi wajah harus tetap tersenyum."

~ Darrel Arkano Zavenander

"Happy Reading"

***

Setelah kejadian itu, Darrel tidak langsung berangkat untuk menemui Clara. Ia mengendarai mobil kesayangannya, membelah jalanan ibu kota yang sudah lumayan ramai.

Sudah hampir setengah jam ia mengendarai mobil tanpa tujuan yang jelas. Kini pikirannya mulai kalut, perkataan Om Setya selalu membuatnya tidak bisa konsentrasi dalam mengemudi. Sesekali ada kendaraan lain yang mengklakson dirinya, beberapa orang juga ketahuan memakinya karena sedikit ugal-ugalan.

Ini adalah pertama kalinya Darrel sangat tidak fokus terhadap sesuatu. Akhirnya setelah dipikir-pikir, ia memilih untuk ke pantai terdekat. Selama kurang lebih satu jam setengah ia mengendarai mobil, akhirnya ia sampai di tempat parkiran.

Darrel turun dan langsung menuju salah satu kafe yang berada di kawasan pantai tersebut. Ia menurunkan topinya sedikit lebih ke bawah sampai menutupi sedikit matanya. Setelah sampai, Darrel langsung menduduki salah satu kursi kafe. Matanya memandang hamparan pasir pantai dan ombak dari balik kaca transparan di sampingnya. Suasana yang tenang membuatnya sedikit nyaman.

Karena kerongkongannya yang sedikit kering, akhirnya Darrel pergi menuju tempat barista untuk memesan segelas espresso machhiato. Dari kejauhan ia melihat Elsa yang berjalan sendirian di tepi pantai. Darrel tidak berniat untuk menghampiri perempuan itu, karena dialah sekarang hubungan pertemanannya dengan Irfan tidak begitu baik.

Setelah memesan minuman, ia kembali ke mejanya dan duduk disana. Pandangannya beralih lagi ke arah Elsa, matanya melihat seorang pria bertopi yang menghampiri Elsa dengan membawa sebuah es krim. Ia tidak begitu jelas melihat wajah pria itu, karena posisinya yang menghadap belakang, apakah itu adalah Irfan?

Darrel sedikit tercengang saat Elsa tiba-tiba memeluk pria tersebut. Alhasil, es krim yang dibawa pria itu jatuh kebawah. Pandangan Darrel beralih pada segelas espresso machhiato yang baru ditaruh oleh waiters. Sang waiters tersenyum hangat melihatnya, Darrel membalas senyuman kecil pada wanita yang umurnya terbilang jauh dari dirinya.

Mata Darrel kini memperhatikan segelas espresso macchiato yang menggugah kerongkongannya. Ia pun mulai meminum kopinya, setelah itu Darrel meletakkan gelas tersebut ke meja, beriringan dengan Elsa dan pria bertopi yang kini mulai memasuki pintu kafe.

Alis Darrel tertekuk sempurna saat melihat siapa pria bertopi tersebut. Ternyata benar dugaannya, ia adalah Irfan. Seketika Darrel langsung membuang pandangannya ke arah lain, ia sudah terlalu malas dengan Irfan.

Irfan yang baru saja memasuki kafe tidak sengaja melihat Darrel yang duduk di pojok kafe. Ia berinisiatif untuk duduk di sebelah meja pria itu. Dengan smirk di bibirnya, itu menunjukkan kalau ia masih tidak suka dengan Darrel.

Darrel yang sedang sibuk dengan ponselnya tidak mengetahui kalau Irfan sedang berjalan ke arahnya.

"Ekhem!" Irfan berdeham seraya menarik kursi di meja sebelah.

Mata Darrel melirik Irfan yang duduk di meja sebelahnya. Ia tidak menggubris pria itu dan kembali fokus pada ponselnya. Bagi Darrel, Irfan seperti sengaja menempati meja sebelah, padahal masih banyak meja-meja yang kosong.

DARREL [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang