Chapter 14

760 77 0
                                        

Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Kelas pertama baru saja usai. Lorong kelas mulai  dipenuhi oleh mahasiswa yang hendak berganti kelas. Alex dan Nick berjalan keluar dari kelas. Sedangkan Aaron dan Lucas sudah menunggu mereka di depan deretan loker. 

"Bagaimana kalau kita membeli kopi di kafetaria sebelum kelas selanjutnya dimulai?" ujar Nick.

"Ide bagus. Mataku terasa berat sejak kelas Mr. Green dimulai." ujar Lucas sambil menguap.

"Hmm..Alex, kurasa ada seseorang yang mencarimu." ujar Aaron melihat Ruby berjalan menghampiri mereka. 

Ruby membawa paper bag hitam berisi sweater milik Alex yang ia pinjam tempo hari. Ia berniat akan mengembalikan sweater itu. Walaupun Alex berkata Ruby dapat menyimpan sweater-nya. 

"Terimakasih atas pinjaman sweater-nya, Alex. Ini ku kembalikan." ujar Ruby sambil tersenyum.

Alex tampak terkejut melihat Ruby menghampirinya. Pipinya terlihat memerah. Aaron, Nick, dan Lucas terdiam melihat momen ini, menunggu reaksi sahabatnya itu. 

"Ah, iya." jawab Alex singkat sambil menerima paper bag hitam yang diberikan oleh Ruby. 

Ruby pun berlalu meninggalkan keempat lelaki itu yang masih dalam keadaan diam. Mata mereka masih memandangi punggung Ruby yang mulai berjalan menjauh. Kini, Aaron, Nick, dan Lucas melihat Alex dengan tatapan tidak percaya.

"Apa-apaan tadi? Kau meminjamkan sweater-mu pada Ruby?" ujar Aaron.

"Kau berhutang cerita pada kami." ujar Nick sambil merangkul Alex. 

Alex menatap ketiga sahabatnya dengan ekspresi datar. Ia pun beranjak menuju kafetaria, meninggalkan Aaron, Nick dan Lucas, tanpa menggubris ketiganya. Tak lama, mereka pun mengejar Alex untuk mendengar cerita dari sahabatnya itu.

Perpustakaan - 15.25

Ruby datang lebih awal dari jam yang ditentukan. Ia meletakkan tas dan barang-barangnya di meja. Sedangkan batang hidung Alex belum tampak di perpustakaan. Ruby pun langsung memulai merapikan rak buku. 

"Ruby, bisakah kau mengambil tumpukkan buku dari ruang kelas Mr. Green? Dan tolong letakkan di rak buku sebelah sana." ujar Ms. Jefferson. 

"Baiklah, Ms. Jefferson." ujar Ruby.

Ruby segera beranjak menuju ruang kelas Mr. Green dan tak lama kemudian, ia berjalan kembali menuju perpustakaan dengan membawa beberapa buku di tangannya. Ia pun melewati lapangan football untuk mempersingkat perjalanannya. Namun, tiba-tiba seseorang menghalangi langkahnya. 

"Mau kemana, Maxwell?" ujar Jason Wright dengan senyum nakalnya. 

Ruby memandangnya dengan heran. Jason tidak pernah berinteraksi dengannya, bahkan di dalam kelas sekalipun. "Perpustakaan. Permisi, kau menghalangi jalanku."

Jason pun kembali menghalangi jalan Ruby. "Tidak bisakah kita di sini bersenang-senang terlebih dahulu, Ruby?"

Ruby mengerutkan alisnya. Jason sudah bertingkah aneh dan membuatnya tidak nyaman. "Apa yang kau inginkan, Jason? Aku sedang terburu-buru. Ms. Jefferson menungguku."

Jason mendorong Ruby hingga bersandar pada dinding. Buku-buku yang dibawa Ruby pun jatuh berantakan. Jarak antara mereka semakin dekat dan Ruby semakin tidak nyaman akan itu.

Ia mencoba menahan Jason tapi tampaknya lelaki itu lebih kuat darinya. "Aku ingin mengenalmu lebih jauh, Ruby. Aku penasaran, apa yang membuatmu menjadi mainan seorang Alex Archer?"

"Aku bukan mainannya." Ruby mengerutkan dahi dan menyorotkan amarah dari matanya. 

"Wow, ternyata kau cantik juga. Bahkan lebih cantik dari Bianca. Pantas saja Archer lebih memilih berada di dekatmu." Jason semakin mendekatkan diri pada Ruby.

"Menjauh dariku, Jason." Ruby mengumpulkan segenap tenaganya dan mendorong Jason dengan keras. Lelaki itu pun mundur beberapa langkah darinya. 

Plak.

Jason menampar Ruby dengan punggung tangan hingga pipinya memar. "Ternyata Archer senang dengan gadis yang galak. Menarik. Kau penuh tantangan. Asal kau tahu, aku tidak suka penolakan, Ruby."

Jason kembali mendorong tubuh Ruby ke dinding dan mengangkat kembali tangannya untuk menampar Ruby kedua kalinya. Jason merasa dipermalukan dengan penolakan itu. Belum pernah dalam hidupnya ia ditolak oleh seorang gadis. 

Tak lama, Alex muncul dan melayangkan bogem mentahnya ke arah Jason. Ia pun menarik kerah baju Jason dan memukulnya sekali lagi. Jason  membalas pukulan Alex dan mengenai wajahnya. Lalu, Alex kembali memukul Jason hingga lelaki itu tersungkur. 

"Brengsek kau, Archer!" ujar Jason sambil meludahkan darah dari mulutnya.

"Enyah kau dari hadapanku, Jason." ucap Alex.

Jason yang masih tersungkur berusaha membersihkan darah dari bibirnya. Lalu ia mulai terkekeh. "Mainan barumu ternyata sangat cantik, Alex. Aku hanya ingin mencobanya sekali saja." 

Sorot mata Alex semakin tajam. Ia melancarkan bogem lagi pada Jason tanpa ampun. Ruby yang berdiri di situ berusaha menarik Alex menjauh dari Jason. "Sudah, Alex. Cukup, kau akan membunuhnya."

"Jangan sekali-sekali kau menyentuhnya lagi, bajingan. Kau dengar?" ujar Alex sambil berdiri menjauh dari Jason.

Alex menarik tangan Ruby dan beranjak pergi dari tempat itu. Mereka pun bergegas menuju mobil sport Alex. Ia mendudukkan Ruby di kursi penumpang dan dengan segera Alex menancapkan gas nya, meninggalkan parkiran kampus. 

Tak lama kemudian, Alex pun memarkirkan mobilnya di pelataran minimarket. Alex memandangi wajah Ruby dengan seksama.

"Holy shit, bajingan itu memukulmu dengan keras. Pipimu memar dan bibirmu berdarah." ujar Alex sambil menyingkap dan menyelipkan rambut Ruby di belakang telinganya. 

Ruby menyentuh bibir dan pipinya. Ia pun meringis kesakitan. Ruby berusaha membersihkan darah dari bibirnya. 

"Tunggu sebentar di sini." Alex keluar dari mobilnya dan melangkah menuju minimarket. Hanya berselang beberapa menit, Alex sudah kembali ke dalam mobil dengan membawa beberapa minuman kaleng dingin dan sekotak plester. 

"Kompres pipimu dengan ini." Alex menempelkan kaleng dingin di pipi Ruby yang membuatnya meringis. 

"Ouch! Terima kasih." ujar Ruby, mengambil kaleng soda itu dari tangan Alex.

Alex menatap Ruby. Tamparan Jason sangat keras hingga begitu melukai wajah gadis itu. Entah mengapa seketika Alex begitu geram terhadap Jason. Alex mengusap kecil luka di bibir Ruby dengan jarinya hingga gadis itu meringis. 

"Seharusnya aku memukul si brengsek itu lebih keras." Mata Alex begitu sendu. Ruby hanya terdiam lalu membalas tatapan Alex. Mereka saling bertatapan dan terdiam untuk beberapa saat. 

"Kau juga terluka." ujar Ruby. Ia menyentuh luka pada hidung dan buku-buku tangan Alex yang berdarah.

Alex mendekat diri pada Ruby. Wajah mereka hanya berjarak beberapa centimeter saja. Ruby dapat merasakan hangatnya nafas Alex. Begitu juga dengan Alex, yang dapat menghirup aroma white musk dari tubuh Ruby. 

Ruby mematung. Alex sudah mendaratkan kecupan pada bagian bibir nya yang tidak terluka. Ia seperti terhipnotis oleh lelaki itu. Kalau saja itu lelaki lain, mungkin Ruby sudah menghajarnya habis-habisan. Entah kenapa, tubuhnya terasa kaku. Ia menerima ciuman itu begitu saja.

"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, Ruby. Pasang sabuk pengamanmu. Kita akan berkendara cukup jauh." ujar Alex.

----------

To be continue

Jangan lupa Vote & Comment nya ya guys 💕

The Stars and YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang