Chapter 32

391 40 2
                                        

Kampus - 09.30

Alex keluar dari mobil sport-nya dan menutup pintunya dengan perlahan. Kacamata hitam itu membingkai wajah tampannya dengan sempurna. Para gadis menatap Alex dengan kagum. Sudah tidak mengherankan lagi, bila Alex berjalan akan menjadi sebuah tontonan untuk para gadis.

Alex tampak begitu bahagia. Selama ini, Alex merasa jika ia hanya menyukai Ruby, tidak lebih. Namun sejak kejadian di rooftop malam itu, Alex mengakui pada dirinya sendiri bahwa ia sudah jatuh lebih dalam pada Ruby. Perasaannya seperti tidak terbendung lagi.

Alex melangkahkan kakinya menuju kafetaria. Ia pun berjalan masuk menuju ruangan besar itu dan duduk di bangku yang menjadi spot favorit ia dan teman-temannya. Di sana terlihat Aaron yang sudah duduk terlebih dahulu di bangku itu sambil menyantap sandwich.

"Dimana Nick dan Lucas? Apa mereka belum tiba juga?" ujar Alex sambil membuka kacamata hitamnya. Ia pun segera duduk di hadapan Aaron dan meneguk kopi milik sahabatnya itu.

"Entahlah, tampaknya mereka masih ada kelas. Mungkin sebentar lagi akan menyusul kita kemari." ujar Aaron sambil lanjut melahap sandwich-nya.

Alex mengeluarkan telepon genggamnya. Ia pun mengirimkan chat untuk Ruby. Mereka berjanji untuk bertemu di kafetaria setelah Ruby menyelesaikan seluruh urusannya di perpustakaan. Alex menyunggingkan senyumnya. Sudah beberapa hari ini, Alex selalu tersenyum ketika melihat telepon genggamnya. Aaron pun kebingungan melihat sahabatnya itu.

"Ada apa denganmu?" ujar Aaron dengan ekspresi heran sekaligus geli.

Alex tersadar dan kembali dengan ekspresi datarnya. "Apa maksudmu?"

"Jatuh cinta memang bisa membuat seseorang menjadi gila." ujar Aaron. " Dimana Ruby? Apa kau tidak akan bertemu dengannya?"

"Dia akan kemari nanti. Ia harus pergi ke perpustakaan terlebih dahulu." ujar Alex. Ia pun melanjutkan kesibukan dengan telepon genggamnya.

Aaron pun menggelengkan kepalanya. Ia tidak pernah melihat Alex kasmaran seperti ini. Rasanya begitu aneh melihat lelaki yang selalu terlihat keren itu, tiba-tiba berubah menjadi seseorang lelaki yang...entahlah, Aaron bahkan tidak bisa mendeskripsikannya.

"Tolong jaga sandwich-ku. Jangan macam-macam dengan sandwich-ku. Aku ingin membeli segelas kopi lagi karena seseorang telah mencuri kopiku." ujar Aaron berjalan menuju konter minuman dan meninggalkan Alex sendirian di meja itu. Alex pun tertawa melihat Aaron menyindirnya.

Tak lama kemudian, bangku di hadapan Alex ditarik oleh seseorang. Orang itu pun duduk dengan santai di bangku itu. Alex menatap ke arah depan dan mendongakan wajahnya dengan sinis. Ia pun meletakkan telepon genggamnya di atas meja.

"Kita bertemu lagi, Archer." ujar Jake duduk di hadapan Alex. Pria itu terlihat sangat tenang.

Alex menatap mata Jake dengan lekat. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Ia tidak mengerti mengapa Jake tiba-tiba duduk di hadapannya. Belum pernah ada mahasiswa lain yang berani duduk di bangku itu selain Alex dan teman-temannya.

"Kulihat kau dan Ruby masih bersama. Aku sudah memperingatkanmu bahwa aku akan mengambil kembali Ruby darimu. Kupikir dengan ancamanku, kau akan segera meninggalkan Ruby." ujar Jake sambil meneguk sodanya.

Alex tidak mengalihkan tatapannya dari Jake. Ia begitu membenci lelaki ini. Sejak awal pertemuannya dengan Jake, Alex merasa ada yang aneh.

"Kau tidak berhak mengaturku, McKinsey." ujar Alex dengan nada rendah.

"Benarkah? Mungkin aku tidak berhak, namun aku bisa mengaturmu." ujar Jake sambil menyunggingkan senyumnya.

----------

The Stars and YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang