Ruby mempercepat langkahnya. Air matanya sudah menumpuk di pelupuk matanya. Ruby melangkah menuju pintu keluar festival itu sambil mengusap air matanya.
Casey terlihat tidak jauh dari pintu keluar. Ia sedang berbincang dengan beberapa panitia lainnya. Casey melihat Ruby berjalan dengan cepat sambil mengusap air mata di pipinya. Casey tahu ada sesuatu yang tidak beres dengan sahabatnya itu. Tanpa pikir panjang, ia pun segera menghampiri Ruby.
"Rubs! Ada apa denganmu? Kau mau kemana?" ujar Casey menghampiri Ruby dan memegang lengan sahabatnya itu.
Casey tampak cemas melihat sahabatnya itu. Ruby pun menghindari tatapan Casey. Ruby berusaha menutupi matanya yang sudah mulai memerah akibat menangis. Ia tidak ingin Casey melihatnya menangis.
"Maafkan aku, Case. Aku harus kembali ke asrama." ujar Ruby.
Walaupun Casey tampak kebingungan. Ia pun melepaskan genggamannya dan memeluk Ruby dengan erat. Ruby pun membalas perlukan Casey.
"Ada apa denganmu, Rubs?" ujar Casey keheranan.
Ruby menggelengkan kepalanya. Ia tampak tidak bisa berkata-kata. Ruby khawatir jika ia membuka mulut dan bercerita pada Casey, ia akan menangis lagi.
Casey menghela nafasnya dengan panjang. Ia berusaha memahami apa yang sedang terjadi pada sahabatnya itu. Casey mengusap punggung Ruby dengan lembut. Ia yakin, Ruby sedang butuh waktu untuk sendiri.
"Aku akan segera kembali ke asrama setelah festival ini selesai. Berhenti menangis, okay?" ujar Casey sambil tersenyum sambil mengusap air mata Ruby.
Ruby hanya mengangguk pelan. Ia pun berjalan ke arah pintu keluar, meninggalkan Casey yang masih menatapnya dari kejauhan. Casey tampak merasa bersalah telah mengajak Ruby ke festival lampion itu.
Tak lama berselang, seseorang menarik tangan Ruby. Gadis itu pun tersentak kaget dan langsung melihat siapa yang menarik tangannya.
"Kau mau kemana, Rubs?" ujar Jake. Ternyata lelaki itu mengejar Ruby hingga ke area parkir festival lampion.
"Maaf aku harus pulang, Jake. Aku ingin kembali ke asrama." ujar Ruby sambil menahan tangisnya.
Ruby pun melepaskan cengkraman tangan Jake di lengannya. Gadis itu memutar tubuhnya dan melanjutkan langkahnya. Ruby tidak peduli jika ia harus berjalan beberapa kilometer. Ia hanya ingin sendirian saat ini. Menumpahkan seluruh kekesalannya.
"Apakah kau masih menyukainya?" ujar Jake tiba-tiba.
Ruby berhenti melangkahkan kakinya. Ia tidak menyangka Jake akan mempertanyakan itu di situasi seperti ini. Ruby tampak terlihat berpikir keras untuk menjawab pertanyaan Jake. Ia tidak ingin memperpanjang percakapan diantara mereka.
"Aku tidak ingin membicarakannya sekarang, Jake. Aku hanya ini pulang." ujar Ruby sambil melirik Jake.
Ruby melanjutkan langkahnya. Ia ingin segera kembali ke asrama secepatnya. Mood-nya hancur berantakan setelah kejadian di festival lampion tadi. Namun, tiba-tiba, Jake mencengkram lengan Ruby lagi.
"Jawab pertanyaanku, Ruby Maxwell." ujar Jake dengan nada bicara yang cukup tinggi. "Apa kau masih menyukainya?"
Ruby tertegun lalu memutar tubuhnya sehingga ia dan Jake berhadap-hadapan. Ruby menatap mata Jake dalam-dalam. Jake tidak seperti biasanya.
"Lepaskan aku, Jake." ujar Ruby pelan. "Aku ingin pulang. Sekarang."
"Tidak, sampai kau menjawab pertanyaanku." ujar Jake tampak terlihat emosi.
"Ada apa denganmu, huh?" ujar Ruby sedikit ketakutan.
Jake tidak seperti biasanya. Ruby belum pernah melihat Jake seemosi itu. Terutama padanya. Jake selalu tersenyum dan ramah terhadap Ruby. Namun, malam ini pria itu begitu berbeda. Ruby seperti sedang berbicara dengan orang lain.
Ruby melangkah mundur, sedikit demi sedikit. Jake membuat Ruby ketakutan. Jake pun melangkah maju dan menarik tubuh Ruby dengan cepat. Tanpa basa-basi, Jake merengkuh tubuh Ruby dan mencium bibir gadis itu.
Tubuh Ruby membeku. Matanya membulat penuh. Ia terkejut akan perlakuan Jake yang tiba-tiba. Belum pernah Jake melakukan hal ini pada Ruby. Seingat Ruby, Jake bukan pria yang ramah dan sopan.
Ruby berusaha menjauhkan tubuh Jake darinya, namun tampaknya sia-sia. Jake mencengkram Ruby dengan cukup kuat. Ruby mencoba mendorong tubuh Jake sekali lagi dengan kuat. Akhirnya, ciuman Jake terlepas dari bibirnya.
Ruby mendaratkan sebuah tamparan keras di pipi Jake. Pria itu membisu, begitu juga dengan Ruby. Gadis itu menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia berusaha mengatur nafasnya. Emosi Ruby bercampur antara marah, sedih, kecewa, dan terkejut.
Wajah Jake berubah merah. Jake terlihat sangat marah saat ini. Pria itu terengah-engah lalu mendenguskan nafas keras.
"Apa kau tidak menikmatinya, Rubs? Apa kau tidak menyukaiku?" ujar Jake sambil menatap Ruby. Sorot matanya terlihat begitu sendu dan sedih.
"Kau sudah gila, Jake." ujar Ruby sambil mengerutkan dahinya.
Ruby berniat untuk menjauh dari Jake. Gadis itu pun melangkah mundur lagi secara perlahan. Sayangnya, Jake segera melangkah maju lalu mencengkram Ruby kembali dengan kuat.
Jake kembali berusaha mendekap dan mencium bibir Ruby dengan paksa. Pria itu pun mendorong tubuh Ruby dengan keras ke jendela mobil yang sedang terparkir di sana. Gadis itu berusaha melepaskan diri namun dekapan Jake terlalu kuat. Ruby mengerang, ia berusaha berteriak. Tanpa terasa, air mata Ruby mengalir di pipinya.
"Le...paskan...a..ku!" ujar Ruby berusaha teriak.
Jake tidak berhenti mencium Ruby. Ia terlihat seperti kerasukan. Ruby mengumpulkan segenap tenaganya. Ia pun menendang kaki Jake dengan keras. Pria itu tampak begitu kesakitan. Ruby segera melarikan diri. Gadis itu berlari dengan sekuat tenaganya.
Sialnya, Ruby tersandung batu besar sehingga tersungkur ke halaman parkir yang dipenuhi dengan batu kerikil. Gadis itu pun berusaha bangun namun tangan dan kakinya terasa begitu sakit.
Jake berjalan mendekati Ruby. Pria itu tampak tertatih-tatih akibat tendangan gadis itu. Ruby berusaha menyeret tubuhnya mundur dan menjauh dari Jake.
"Jake, tolong jangan lakukan ini." ujar Ruby sambil memohon.
Jake tampak tidak peduli dengan ucapan Ruby. Ia terus berjalan mendekati Ruby. Jake pun duduk di atas tubuh Ruby dan memegang kedua pergelangan tangan gadis itu.
Jake mencium bibir Ruby lagi dengan kasar. Ruby berusaha mendorong tubuh Jake namun tampaknya tenaga Ruby sudah hampir habis. Tubuh Ruby terasa begitu lemas.
Suasana di halaman parkir itu begitu sepi. Suara gaduh dan dentuman musik terdengar sayup-sayup dari arah pantai. Tidak ada satu orang pun di sana yang dapat Ruby mintai bantuan. Posisi Jake dan Ruby memang cukup jauh dari area festival lampion itu.
Air mata Ruby kembali mengalir dengan deras. Ruby tidak percaya Jake melakukan ini terhadapnya. Ruby bisa merasakan, tidak hanya lukanya yang begitu perih akibat tersungkur di halaman parkir tadi. Namun juga pergelangannya kini sangat sakit karena Jake mencengkramnya begitu keras.
Ruby hanya bisa menangis. Ia hanya berdoa pada Tuhan dan berujar dalam hati.
'Tuhan, tolong selamatkan aku lagi kali ini.' batin Ruby.
----------
To be continued
Jangan lupa vote dan comment yaaaa
Thank you 💕💕💕
KAMU SEDANG MEMBACA
The Stars and You
RomanceRuby Maxwell, seorang gadis dengan kehidupan yang rumit, berusaha untuk 'tidak terlihat' di kampusnya. Ia hanya ingin menyelesaikan studinya, sesuai dengan keinginan ibunya. Namun semua itu berubah ketika ia harus berurusan dengan lelaki populer di...
