Ruby Maxwell, seorang gadis dengan kehidupan yang rumit, berusaha untuk 'tidak terlihat' di kampusnya. Ia hanya ingin menyelesaikan studinya, sesuai dengan keinginan ibunya. Namun semua itu berubah ketika ia harus berurusan dengan lelaki populer di...
Alex tiba di kediamannya, sebuah bangunan dua lantai yang memiliki gaya arsitektur modern. Ia pun memarkirkan BMW 8 series coupe merah-nya di area drop off mansionnya.
Alex berjalan menaiki tangga besi menuju foyer rumahnya. Charlie, kepala pengurus rumah, sudah menyambut Alex di teras dan siap untuk membukakan pintu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sejak kakak dan adik bungsu Alex, James & Chris, tinggal di New York, ia hanya tinggal di mansion besar ini bersama ibu dan ayahnya, Dr. Camilla Archer dan Richard Archer.
Orang tua Alex cukup sibuk sehingga mereka jarang bertemu. Namun mereka selalu berusaha untuk menghabiskan waktu berkumpul bersama di akhir pekan. Hanya untuk sekedar bermain golf bersama atau pergi ke villa milik mereka di Hawaii.
"Mom dan Dad ada dirumah?" tanya Alex pada Charlie.
"Mereka sedang melakukan perjalanan bisnis ke Madrid selama satu minggu, Tuan." jawab Charlie.
"Ah, iya, aku lupa." ujar Alex sambil melangkah pergi ke kamarnya. Ia berjalan menaiki tangga kayu dan bergegas membuka pintu berwarna biru tua di lantai dua.
Alex melempar tasnya ke sofa dan merebahkan dirinya di kasur besar. Ia memejamkan mata sejenak. Sinar dari lampu kamarnya masih menembus matanya. Ia butuh keheningan.
Alex pun menutup sebagian wajah dengan lengannya. Menghela nafas panjang untuk melepas semua lelahnya. Teringat kembali adegan tadi siang, dimana ia melihat Ruby menangis.
Ia tidak pernah bermaksud untuk membuat gadis itu menangis. Alex juga berusaha mengingat genggaman tangannya pada lengan Ruby. Ia tidak merasa mencengkram lengan Ruby sekeras itu. Tapi iya yakin mendengar Ruby kesakitan.
'Apa aku menariknya terlalu keras? Apa dia menangis karena kesakitan?' batin Alex.
Alex beranjak ke balkon kamarnya. Membuka pintu kaca yang menghalangi ruang kamar dan balkon. Alex mengeluarkan sekotak Marlboro merahnya dan mengambil sebatang rokok. Kepalanya begitu pusing hari ini. Atau mungkin Ruby-lah yang membuatnya pusing.
--------------
Perpustakaan - 15.25
Mata Alex menyorot sekeliling perpustakaan besar itu, seperti berusaha mencari sesuatu….atau seseorang. Tiba-tiba saja ia sadar dari lamunannya. Tunggu, kenapa ia harus mencari Ruby? Yup, sudah dua hari ini Alex tidak melihat sosok Ruby.
“Mencariku, huh?” goda Ruby dari arah rak buku.
“Sudah gila kau. Aku mencari Ms. Jefferson. Ada yang perlu aku tanyakan.” ucap Alex berbohong.
“Jangan berbohong, Archer, kau terlihat gugup.” ujar Ruby datar.
Alex lalu berbalik meninggalkan Ruby sendirian. Dari jauh ia memperhatikan gadis itu. Tidak ada yang menarik secara fisik dari seorang Ruby Maxwell. Terlihat tomboy, selalu menggunakan pakaian tertutup, tidak terlihat seksi seperti Bianca Lewis. Walaupun benar apa yang dikatakan oleh teman-temannya, dilihat-lihat Ruby memang cukup cantik.