Chapter 11

786 80 0
                                        

Jam menunjukkan pukul 15.30, sudah waktunya Ruby menjalani hukumannya merapikan perpustakaan akibat kekacauan yang ditimbulkannya bersama Alex. Sejak tragedi ciumannya dengan Alex, Ruby kesulitan untuk tidur. Jantungnya masih berdebar ketika mengingat kejadian itu.

Tidak pernah terpikirkan sebelumnya, ia akan berciuman dengan Alex Archer. Ya, seorang Alex Archer.

Keluarga Archer memang terkenal sebagai salah satu donatur terbesar Brown University. Ibunya, Camilla Archer, adalah seorang dokter ternama di Amerika. Begitu pula dengan ayahnya, Richard Archer adalah seorang pengusaha ternama. Bisa disimpulkan bahwa Alexander Archer adalah seorang pemuda yang kaya raya, tampan, kharismatik, populer, dan terkenal pintar. Walaupun ia sering berkelahi dengan beberapa siswa lain.

Ruby menghempaskan pikirannya tentang Alex. Ia hanya tidak mau terbawa suasana. Setelah tragedi ciuman itu, Ruby hanya bisa berusaha meyakinkan dirinya bahwa Alex hanyalah seorang teman yang sedang mabuk, karena terlalu banyak minum bir malam itu. Sekian. Tidak lebih. Ruby juga yakin bahwa ciuman itu hanya sekedar angin lalu bagi Alex.

"Hello??? Maxwell! Di mana aku harus meletakkan tumpukkan buku sejarah ini?"ujar Alex menyadarkan Ruby dari lamunan nya. Seketika Ruby tersadar bahwa ia sudah melamun cukup lama.

"Ngg..di sebelah sana. Di deretan dekat dengan ensiklopedia." ujarnya. Ruby langsung berpura-pura untuk sibuk, agar tidak terjangkau oleh pandangan Alex.

Sejak perdebatannya di perpustakaan tempo hari, intensitas berbicara Ruby dan Alex menjadi lebih sedikit. Mereka tampak saling menghindari satu sama lain. Walaupun, terkadang Ruby dan Alex saling mencuri pandang.

"Apa yang sedang kau pikirkan? Kau banyak melamun hari ini."ujar Alex.

"Entahlah, mungkin aku kurang enak badan." ujar Ruby berbohong.

Tidak ada lagi alasan yang melintas di pikirannya, untuk menutupi semua kecanggungan ini. Rasanya ia ingin segera kembali ke asrama secepatnya untuk menghindari Alex.

"Apa kau sakit?" tanya Alex. Ada sedikit terselip nada kecemasan dikalimatnya.

"Aku baik-baik saja, sungguh." ujar Ruby yang mulai merapikan tumpukkan buku yang berceceran di lantai marmer berwarna coklat itu. Seketika saja Alex melontarkan pertanyaan yang mengejutkan Ruby.

"Ada apa dengan dahimu?" Alex melihat luka lebam dan goresan darah yang belum mengering dari celah poni depan milik Ruby.

Ruby sedikit panik. Ia langsung memperbaiki poninya agar menutupi luka di dahinya. "Huh? Apa maksudmu?" ujar Ruby berpura-pura tidak tahu.

Alex bergegas menghampiri Ruby dan berusaha menyingkap poni depannya. Ruby pun berusaha untuk menghindar dan menutupinya. Namun kekuatan Alex tentu lebih besar, sehingga Ruby hanya bisa pasrah ketika Alex menyingkap poninya dan melihat dahinya lebam serta berdarah.

"Apa ini?" tanya Alex terdengar serius sambil menyingkap poni milik Ruby. Ia melihat ada luka yang cukup besar di dahi gadis itu.

"Luka..." ujar Ruby gugup. Ia tidak suka Alex mengetahui luka ditubuhnya. Namun, Ruby lebih tidak menyukai mata biru itu menyorotkan kemarahan.

"Aku tahu itu adalah luka. Kenapa bisa terluka? Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Alex memandangi luka di dahi Ruby.

Ingin sekali rasanya Ruby mengatakan bahwa luka ini disebabkan oleh ulah Hendry, ayah tirinya. Namun Ruby teringat ancaman Hendry, jika saja ia mengatakan apapun kepada siapa saja, nyawa Austin dan dirinya lah yang menjadi taruhannya. Sehingga Ruby pun mengurungkan niatnya untuk memberitahu Alex.

"Apa ini termasuk dalam permainan 'lima pertanyaan'?" ujar Ruby datar, berusaha mengalihkan pembicaraan. Ruby menunduk, berusaha untuk menghindari tatapan mata biru Alex yang tajam.

The Stars and YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang