Chapter 36

383 37 1
                                        

Malam semakin larut namun festival lampion itu semakin ramai. Suasana semakin meriah. Dentuman musik semakin keras. Beberapa orang tampaknya sudah semakin mabuk. Mereka terlihat begitu menikmati festival ini. Namun, tidak dengan Alex.

Alex berjalan dengan cepat. Ia melangkah menuju halaman parkir festival lampion. Wajahnya terlihat begitu merah karena menahan amarahnya.

Alex menghentikan langkahnya di depan sebuah kafe yang terletak tidak jauh dari area parkir itu. Emosi Alex tampak memuncak. Alex pun melepaskan pukulannya ke dinding kafe itu berkali-kali. Berusaha untuk melepaskan amarahnya yang sudah ia tahan sejak tadi.

Alex begitu kesal dengan Jake. Ia begitu ingin memukuli pria itu. Jika saja Ruby tidak mencegahnya, Alex tentu sudah melancarkan bogem mentahnya pada Jake di festival itu.

Aaron mengikuti Alex dari belakang. Ia khawatir Alex akan melakukan hal gila, mengingat sahabatnya itu terlihat begitu emosi. Aaron pun segera menarik bahu dan menjauhkan Alex dari dinding kafe itu. Buku-buku tangan Alex tampak berdarah. 

"Jangan halangi aku, Aaron." ujar Alex dengan emosi. "Aku tidak ingin melukaimu." 

"Hei, apa kau gila? Atur emosimu, Alex." ujar Aaron sambil memegang kedua bahu Alex dengan erat. 

Nafas Alex terengah-engah. Ia menatap Aaron dengan tajam. Apa yang Aaron katakan benar. Ia harus bisa mengatur emosinya. Tiba-tiba, Alex berteriak dengan keras. Aaron melepas pegangannya pada bahu Alex. Ia ingin membiarkan Alex mengatur emosinya sendiri. 

Alex menyandarkan tubuhnya di dinding kafe itu. Pria itu pun menutup wajahnya lalu mengusapnya dengan keras. Alex juga menghela nafasnya dengan panjang.

Aaron menatap Alex dengan lekat. Ia belum pernah lihat Alex seperti itu karena seorang gadis. Alex menatap balik Aaron dengan wajah datar. Aaron pun menghampiri Alex dan menepuk bahu sahabatnya itu dengan perlahan. 

"Apa kau baik-baik saja, kawan?" ujar Aaron terlihat cemas.

Alex melempar tatapan jauh ke arah festival. Di satu sisi, Alex tidak ingin membuat Aaron khawatir. Namun, di sisi lain, ia tidak sanggup untuk menyembunyikan perasaannya.

"Tidak." ujar Alex sambil menatap jauh ke arah festival. "Sebaiknya aku pulang. Hari ini begitu melelahkan.”

“Kurasa itu ide yang bagus untuk saat ini. Sebaiknya kau pulang.” ujar Aaron. “Apa perlu aku antar?”

Alex membalas tepukan di bahu Aaron. Pria itu pun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum pahit. “Tidak perlu, Aaron. Terima kasih.”

"Apa kau yakin?" ujar Aaron benar-benar memastikannya pada Alex.

"Uh-huh." ujar Alex singkat.

Tanpa menunggu lama, Alex segera beranjak ke arah mobilnya, meninggalkan Aaron yang masih menatapnya dari kejauhan. Aaron terlihat begitu khawatir dengan Alex. Aaron tampak belum beranjak dari posisinya. Ia ingin memastikan sahabatnya itu benar-benar pulang dari festival lampion dengan selamat.

Alex melangkah lurus sambil menendang-nendang kecil kerikil. Ia berusaha mengatur emosinya. Alex berencana akan mampir ke Bucharest Bar, tempat favoritnya untuk mendapatkan keheningan sambil menenggak segelas minuman keras. Ia ingin menenangkan dirinya di bar itu sambil menyesap whiskey favoritnya. 

Tiba-tiba, Alex mendengar suara aneh di sekitarnya. Ia pun melihat ke kiri dan ke kanan untuk memeriksa keadaan sekitar. Namun, Alex tidak melihat apapun di sekitarnya. Pria itu begitu penasaran. Alex mengikuti arah suara itu dan berhenti melangkah ketika mendapati sebuah pemandangan yang seharusnya tak ia lihat.

Tubuh Alex terdiam kaku. Wajahnya terlihat begitu terkejut. Ia melihat Jake berada di atas Ruby. Gadis itu terlihat berusaha untuk melepaskan diri dari Jake. Ini adalah pemandangan yang mengerikan untuk Alex.

Tanpa pikir panjang, Alex menarik kerah baju Jake bagian belakang. Jake pun terjengkang jauh ke arah belakang. Alex mematung melihat Ruby. Air mata gadis itu membanjiri pipi merahnya. Bibirnya tampak berdarah. Tangan dan kaki Ruby juga tampak terluka. 

Tiba-tiba, emosi Alex kembali memuncak. Kini, giliran Jake yang ditatap olehnya. Alex menatap jake dengan tatapan membunuh. Ia menarik kerah baju Jake dan memukuli wajahnya berkali-kali.

Jake tidak tinggal diam. Ia berusaha membalas pukulan Alex. Jake mendorong tubuh Alex dengan kuat hingga pria itu terpental. Lalu, Jake pun memukul wajah Alex dengan keras. Alex terdiam sejenak sambil mengusap darah yang keluar dari mulutnya.

"Hanya itu kemampuanmu, huh?" tantang Alex sambil tersenyum sinis.

"Brengsek kau, Archer!" teriak Jake sambil bergerak menerjang Alex.

Emosi Jake terpicu akibat ucapan Alex. Ia pun melancarkan pukulannya ke wajah Alex, namun sayang, pukulannya meleset. Alex membalas pukulan Jake tanpa ampun. Jake terlihat tak kuasa menahan pukulan dari Alex. Pria itu pun oleng lalu ia pun tersungkur ke batu kerikil.

Alex pun melepaskan Jake. Ia membiarkan Jake tersungkur tak berdaya. Alex hanya berdiri sambil menatap Jake dengan tatapan jijik.

“Aku sudah memperingatkanmu, McKinsey. Jangan pernah menyentuhnya.” ujar Alex sambil meludah kan darah dari mulutnya. 

Alex menghampiri Ruby. Gadis itu masih dalam posisi setengah terlentang di halaman parkir yang ditutupi oleh batu kerikil. Alex berjongkok di sebelah Ruby sambil mengusap darah dari bibirnya.

"Apa kau baik-baik saja?" ujar Alex.

Tatapan pria itu berubah. Dari tatapan ingin membunuh, kini sorot matanya begitu sendu. Ruby menatap mata Alex. Mata keduanya pun saling bertemu. Tiba-tiba, air mata Ruby mengalir lagi. 

Alex mendekap Ruby dengan erat. Seakan tidak mau melepas gadis itu lagi. Tangisan Ruby semakin pecah di pelukan Alex. Gadis itu pun membenamkan wajahnya di dada bidang Alex yang hangat.

"Mari kita pulang." bisik Alex pada Ruby.

Tak lama kemudian, Alex pun menggendong tubuh Ruby ala bridal style. Ruby masih membenamkan wajahnya di dada bidang Alex. Ruby tampak kesulitan untuk menghentikan tangisannya. Gadis itu begitu ketakutan dengan ulah Jake.

"Rubs..." ujar Jake pelan.

Tiba-tiba, Jake memanggil Ruby dengan suara yang begitu pelan, namun Alex dan Ruby dapat mendengarnya. Wajah Jake dipenuhi dengan luka dan lebam akibat pukulan dari Alex.

Jake berusaha untuk duduk. Ia terlihat begitu payah menyeimbangkan tubuhnya. Tubuh Jake  terasa begitu sakit. Tampaknya, Alex memukul tubuhnya sangat keras. Jake meringis sambil menyentuh beberapa bagian tubuhnya.

"Dengarkan penjelasanku, Rubs." ujar Jake. "Aku mohon."

Ruby menoleh ke arah Jake dan menatap pria itu dengan tajam. Ia begitu membenci Jake saat ini. Ruby kira selama ini, ia mengenal Jake dengan baik. Pria yang Ruby kenal dengan sifatnya yang begitu baik dan hangat. Berubah menjadi beringas dalam semalam. Ruby pun menggelengkan kepalanya demgan pelan.

"Menjauh dariku, Jake." ujar Ruby.

Jake tampak terkejut mendengar ucapan singkat  namun menusuk dari mulut Ruby. Jake tidak menyangka semuanya begitu berantakan ketika ia tidak sanggup mengontrol emosinya. Ia hanya ingin menunjukkan perasaannya pada Ruby.

"Tapi, Rubs..." ujar Jake, namun perkataannya dipotong oleh Alex.

"Apa kau tuli? Dia bilang menjauhlah darinya." ujar Alex dengan sinis.

Alex pun memutar tubuhnya dan berjalan meninggalkan Jake, sambil menggendong Ruby. Jake hanya berdiri mematung. Menatap Alex dan Ruby yang berjalan semakin menjauh. Perasaannya begitu campur aduk saat ini.

Tanpa tersadar, air mata Jake menetes. Tubuhnya terasa begitu lemas. Jake pun menjatuhkan tubuhnya di atas bebatuan kerikil itu. Jake menundukkan kepalanya, membiarkan air matanya jatuh dengan bebas dan lebih deras lagi.

'Maafkan aku, Rubs.' ujar Jake dalam hati.

----------

To be continued

Jangan lupa Vote & Comment yaaa
Thank you 💕💕💕

The Stars and YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang