WARNING❗SEDANG DIREVISI SECARA BRUTAL❗
15+
"Akhh...akhh" Nata
"jangan mendesah didepan gue!!" Reyfefa
"akh akh akhh..." Nata
"gue bilang jangan mendesah didepan gue,lo tuli?!!" reyfefa
"itu nama depan loh ogeb!!" Nata
...
"Pagiku cerahku matahari tenggelam kugendong tas hitamku di depan...." Glen turun dari kamarnyaa menuju meja makan sambil bernyanyi riang.
"Beh, bagus banget nyanyian lo De." ujar Azfer terkagum-kagum.
"Aaaa terhura akutuh." Glen yang merasa senang karena dipuji pun langsung berlari dan hendak memeluk sang Abang.
"Tapi lebih bagus enggak usah nyanyi deh, seriusan Ab--"
Bugh!
"Adik laknat lo!" Pekik Azfer ketika Glen menghantamkan tas hitamnya ke wajahnya.
"Gue kira lo mau kasih pujian ternyata hinaan. Dasar pemberi harapan pulsa!" jawab Glen ketus. Ia langsung mengambil duduk di kursi seberang.
"Palsu ogeb."
"Diem lo kutil anoa!" balas Glen menatap sang Abang tajam.
"Daki gajah!" Glen yang tidak terima dikatai daki gajah pun melempar sendok yang ada di atas meja makan.
"Enggak kena wle...." Azfer menjulurkan lidahnya ke arah Glen saat sendok itu terjatuh ke lantai tanpa mengenai dirinya.
"Awas lo Bang!" Dengan cepat Glen meraih tempat tisu lalu melemparnya dan yah! Tepat sasaran. "Kena juga kan lo! Hahaha...." Tawa Glen dan Sang papa mengudara. Ya sedari tadi Reynald memang di sana. Karena sudah terbiasa dengan pertengkaran keduanya, ia tidak melerai. Ia malah merasa terhibur akan hal itu.
Muka azfer menjadi masam, ia melempar dua roti tawar kearah Glen yang langsung mengenai wajah sang adik. Akhirnya terjadilah aksi saling melempar benda apa saja yang ada di atas meja makan.
"Ayo! Ayo Semangat Glen papa membelamu!" teriak Parey. "Azfer kamu juga ayo jangan mau kalah sama adikmu. Kamu itu laki-laki harus menang hahaha..." lanjutnya membuat Glen maupun Azfer semakin genjar melakukan aksinya.
"Eh Glen apa yang kamu lakukan!" Tiba-tiba suara Elyana terdengar arah dapur saat melihat Glen memegang sebuah pisau dan hendak melayangkannya.
"Ayo Glen lanjutkan! Hahaha...." ujar Parey bersorak. Ia belum menyadari keberadaan sang istri. Sedangkan Glen dan Azfer diam membeku melihat tatapan sangar dari sang Mama.
"Sstt Bang! Ayo berangkat." Glen berucap tanpa suara.
Azfer yang paham langsung mengangguk. "Pah Mah kita berangkat." Pamitnya kemudian berlari keluar bersama Glen.
"Eh De, btw tas lo isinya apa sih? Keras banget, sakit nih jidat gue. Batu ya?" Tebak Azfer asal sambil memegangi kepalanya yang masih terasa nyeri.
"Memang, nih lihat." Glen membuka tasnya dan benar saja ada beberapa batu di sana.
"Eh buset, buat apa lo bawa batu hah?"
"Buat nahan berak Bang. Abang mau minta batunya? Barangkali abang kepepet gitu." sahut Glen ringan.
"Jorok loh! Sudah lah ayo berangkat." Glen hanya terkekeh melihat ekspresi jiji sang Abang. Akhirnya mereka melajukan kendaraannya masing-masing. Glen dengan motor kesayangannya dan Azfer dengan mobilnya.
Saat diperjalanan, Glen melihat sebuah mobil menepi dan keluar seorang laki-laki yang mengenakan seragam sama dengan miliknya. Merasa mengenal, Glen memutuskan untuk berhenti didekat mobil tersebut.
"Woy Bro! Mobil lo kenapa?" tanya Glen pada pemuda yang kini tengah berjongkok membelakanginya.
"Bukan urusan lo!" sahut si pemuda ketus.
"Etdah jutek bener. Eh lo Akhtar kan?" Akhtar yang mendengar namanya disebut pun menolehkan kepalanya.
"Cewe mesum! Ngapain lo!" pekiknya terkejut.
"Mobil lo bocor ya? Ulu-ulu kasian banget Bebebnya gue. Mau bonceng motor eneng enggak?"
"Jiji gue."
"Idih muka emping! Untung aja gue nawarin, sinis amat!" Sembur Glen kembali menyalakan mesin motornya. "jadi mau enggak nih? Lima menit lagi bel masuk, pasti terlambat lo. Itu sih terserah yah."
"Serius lo mau bantu gue? Ikhlas enggak lo? Nanti minta yang aneh-aneh." ucap Akhtar merasa curiga.
"Eh dengar ya emping, begini-begini gue masih punya rasa belas kasih mau bantu sesama!"
"Iya oke gue ikut lo." Akhtar hendak naik kemotor namun Glen menahannya.
"Eh mau apa lo? Gue di depan, lo bonceng." ucap Glen. Sungguh ia tidak akan rela motor kesayangannya ini dibawa oleh orang lain sekalipun itu sang Papah.
"Dih, malu-maluin banget gue dibonceng cewe kaya lo."
"Sstt! Banyak omong deh, tinggal naik apa susahnya sih." Akhirnya dengan terpaksa Akhtar menaiki motor milik Glen. Sebelum menjalankan motornya, gadis itu memindahkan tasnya ke depan yang mampu membuat Akhtar mengernyit bingung.
"Agar tidak ada penghalang diantara aku dan kamu Beb." ujar Glen saat melihat ekspresi Akhtar dari kaca spion.
"Najis gue jadi Bebeb lo."
"Gila sadis banget tuh mulut."
"Sudah cepat jalan!" ucap Akhtar menepuk pundak Glen.
"Woi ingat posisi, lo cuma numpang." sahut Glen ketus. Ia pun menjalankan motornya pelan.
"Motor lo lambat bener, sudah sini biar gue yang bawa." tawar Akhtar yang mulai geram karena Glen tak kunjung menambah kecepatan motornya. Ia tidak mau terkena hukuman lagi gara-gara gadis itu. Cukup yang kemarin.
"Protes mulu lo, sudah numpang juga."
"Gue juga terpaksa yah numpang di motor lo ini."
"Enggak tahu diri banget nih cowo, sudah numpang, bawelnya enggak ketulungan. Gue kerjain juga lo." batin Glen tersenyum licik.
Brum!Tanpa memberi aba-aja Glen langsung meng-gas motornya. Membuat Akhtar yang tidak siap pun hampir terjungkal.
"Gila lo! Mau buat gue celaka?!"
"Iya gue pengin lo mati." sahut Glen tersenyum geli. Ia melajukan motornya menerobos lampu merah, menyelip kendaraan-kendaraan besar dengan ugal-ugalan. Menimbulkan keributan disepanjang jalan. Aksinya ini sudah seperti seorang berandalan.
"Hebat juga lo." decak Akhtar kagum.
"Iya lah, Glenata gitu loh."
"Nyesel gue muji lo."Glen hanya tertawa sumbang mendengar sahutan Akhtar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.