(13) Dua-duanya lah!

4.2K 245 28
                                        

"Bagaimana nih? Gue harus ikut Akhtar atau Gavin? Arrghh bingung!" Jeritnya frustasi.

Akhirnya Glen memutuskan untuk memikirkannya di rumah saja sebab perutnya sudah meronta meminta makan. Ia pun melajukan motornya dengan kecepatan penuh agar cepat sampai. Disepanjang perjalanan Glen terus memikirkan hal tersebut. Sampai ia tak sadar bahwa kini motornya sudah memasuki halaman rumah. Ia pun turun kemudian melangkah masuk.

"Bagiamana nih Aktar atau Gavin? Gavin atau Akhtar? Arghh bingung!" raung Glen mengacak rambutnya.

"Habis mulung dimana lo?" tanya sang abang yang sedang duduk di depan televisi. Memang penampilan Glen bisa dibilang memprihatinkan. Rambut acak-acakan, baju berantakan, tidak ada sabuk maupun dasi yang tersemat di sana.

"Huaaa Bang Az!" Glen langsung berlari kearah sang abang dan memeluknya.

"Lo bau ih, main peluk-peluk aja!" ucap Azfer. Sontak Glen melepaskan pelukannya.

"Masa sih bau?" tanyanya sambil menciumi kedua ketiaknya secara bergantian.

"Iyah bau, bau tai kuda tahu." Azfer pura-pura menutup hidungnya.

"Nggak elah! Gue tuh habis sekolah, bukan ternak kuda!" sungut Glen kesal.

"Ya kan barangkali lo mungut tuh tahi kuda yang ada dijalan-jalan" sahut Azfer terkekeh.

"Please deh Bang! Gue tuh lagi bingung, cape juga. Lo jangan mulai dong!"

"Ulu ulu, Adek gue kenapa sih? Dihukum disekolah?" tanya Azfer melembut.

"Lah kalau itu mah makanan gue, bukan ih!"

"Terus apa? Digodain banci?"

"Bukan ih, mereka tuh takut sama gue. Lihat gue dijalan aja mereka langsung lari." Glen itu mempunyai kebiasaan yang sedikit aneh. Ia gemar menarik-narik rok mini semua banci yang ia temui di jalan. Membuat mahkluk jadi-jadian itu selalu berlari ketika melihatnya.

"Nggak dikasih uang sama Mael?"

"Bukan! Gue tuh lagi bingung...." sahut Glen lesu.

"Terus apa dong? Diserudug monyet?"

"Iya monyetnya lo!" seru Glen mulai kesal.

"Lah gue mah manusia, lo kali rajanya monyet, alias kingkong haha!" Azfer tertawa renyah tanpa menghiraukan ekspresi Glen yang kini merengut hampir menangis.

"Ih Abang mah...." ucap Glen merengek.

"Hahaha ya sudah mangkanya apa kasih tahu dong."

"Gue tuh diajak ke pesta sama Akhtar. Tapi gue juga diajak makan malam sama si Gavin, gue bingung harus pilih siapa huaaaaa...." ujar Glen menggulingkan tubuhnya di atas karpet.

"Lah si Ucrut gue kira apaan! Memang Apa susah nya sih? Iyain aja dua-dua nya." tanggap Azfer santai.

"Ya nggak bisa begitu dong Bang, gue nggak mau dicap fuckgirl." bantah Glen tak setuju.

"Bukannya lo memang sudah jadi fuckgirl yah?" tanya Azfer bingung.

"Nggak ih, pacaran aja nggak pernah. Amnesia lo?!" Azfer tertawa.

"Hahaha gue lupa, lo kan nggak laku yah," ucap Azfer tersenyum geli.

"Abang kunyuk!" ucap Glen menatap Azfer datar.

"Ey! tuh mulut yah, nggak sopan!"

"Bodoamat! Bicara sama lo tuh harusnya bawa batu, terus timpukin ke tuh mulut!" seru Glen kesal dan berlalu menuju kamar meninggalkan sang abang yang tergelak melihat adiknya menderita.

Naefa [Selesai]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang