Serena merasa aneh dengan Rehan setelah beberapa hari lalu terakhir ia melepon laki-laki tersebut dan sekarang Rehan sekarang tak pernah lagi memunculkan batang hidungnya di rumahnya. Bukan apa-apa, Serena masih penasaran tentang tentang kenapa Rehan menghubunginya waktu itu. Beberapa hari yang lalu saat Rehan menelponnya ia tidak sengaja mereject panggilan itu ketika ia merogoh ponselnya dalam tas. Namun saat ia menghubungi Rehan balik ia harus membantu Diaz membawa beberapa belanjaan karena saat pulang Diaz memaksa untuk menemani gadis tersebut membeli beberapa peralatan mandinya yang sudah habis, Farah juga melakukan hal yang sama.
Sesaat sampai rumah nomor Rehan tidak aktif lagi, dan dua hari ini ia mencoba menghubungi laki-laki tersebut, namun tak pernah dijawab oleh Rehan. Ditambah lagi Ghea sudah mengatakan kebohongan bahwa ia keluar dengan seorang laki-laki walaupun tidak sepenuh bohong tapi tetap saja Ghea tak mengatakan siapa laki-laki yang dimaksud. Serena kemudian mengernyit atas pemikirannya sendiri.
Kenapa aku jadi merasa harus menjelaskan semuanya kepada Pak Bos. Aneh! Tudingnya kepada diri sendiri. Ia melempar ponselnya di atas tempat tidur, meninggalkan benda pipih tersebut kemudian turun ke lantai bawah untuk melihat Uminya sedang apa.
Serena memeluk Fatmah dari belakang dan merasakan keterkejutan wanita itu. Ia mengelus perut Uminya yang mulai terlihat membuncit. Tidak tahu kenapa, Serena selalu senang mengelus perut buncit Uminya saat tidak sengaja ia memegangnya ketika ia menjadikan paha Fatmah bantal tidurannya.
"Lama-lama, kamu mirip Abi, Rena. Senang sekali mengusap perut Umi." Protes Fatmah karena tidak jarang Ayah dan anak tersebut berdebat tang siapa yang lebih dulu menguasai perut Fatmah, menjadikan wanita itu risih karena tak ada yang mau mengalah.
Serena terkekeh, "itu artinya aku anak Abi, kan, Umi?" Tanya Serena Retorik. Fatmah hanya menggeleng tak habis pikir dengan anaknya tersebut.
"Kamu mau adik kamu cewek atau cowok, nak?" Tanya Fatmah iseng.
"Apa saja, Umi, yang tidak akan membuat Umi dan Abi mengurangi kasih sayangnya kepadaku." Jawab Serena sambil menyeret kursi di meja makan untuk ia duduki.
Fatmah tersenyum haru, anaknya akhir-akhir tidak segan-segan menunjukkan sikap posesifnya. Serena akhirnya menunjukkanbahwa gadis itu membutuhkannya, menginnginkan kasih sayang darinya. Maka tugasnya sekarang adalah memenuhi keinginan anak pertamanya tersebut. Tariw datang dari belakang, mencuri cium di sudut bibir istrinya. Kemudian mencium kepala Serena mengusapnya penuh sayang kepada anak gadisnya tersebut.
"Abi, ih." Kata Fatmah saat suaminya dengan sembarangan menunjukkan kemesraan mereka di depan Serena. Jujur saja, sekalipun ia sudah tidak muda, ia masih malu. Sementara Serena terkikik geli melihat tingkah dua orang tersebut seperti pasangan remaja yang baru saja menikah.
"Ghea mana, Umi?" Tanya Tariq kepada istrinya karena tak melihat gadis itu setengah hari ini.
"Katanya dia hari ini ada wawancara kerja, Abi." Jawab Fatmah.
"Loh? Dia emang ngelamar dimana?" Tanya Tariq heran, ia tidak tahu sama sekali karena ia hendak menawari gadis itu untuk bekerja di tokonya. Jangan kira toko yang di maksud Tariq adalah toko kecil. Karena laki-laki tersebut punya toko ritel besar dan sudah buka di beberapa cabang di beberapa daerah tentu saja penawaran yang akan di berikan kepada Ghea adalah untuk bekerja di kantornya. Cita-cita Tariq adalah membuat pesantren untuk investasi akhirat mereka kelak. Dan sekarang pesantren itu sedang dalam proses pembangunan.
"Tidak tahu, Abi. Dia bilang, dia akan beritahu kalau dia udah diterima. Aneh-aneh saja." Jawab Fatmah lagi.
"Aku juga mau kerja, Abi." Kata Serena pelan menyampaikan keinginannya. Spontan kegiatan tangan Tariq yang baru akan membuka piringnya dan Fatmah yang mengangkat tempat nasi terhenti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jangan Buang Aku, Ayah!
Ficción GeneralSeperti halnya uang. Bahkan ketika lusuh sekalipun kau akan tetap berharga. Sekalipun dibuang oleh keluarganya, Serena menemukan keluarga baru sebagai pelipur lara. Gadis bernama lengkap Serena Latifa tersebut memliki keterbatasan dalam bicaranya. H...
