Astrid memeluk Sammy erat, menjaga dari orang-orang itu jika berusaha menariknya dari jangkauan. Hatinya pilu sekaligus takut mendengar rengekan pelan Sammy yang terus mengeluhkan sesak napas. Bagaimana tidak, kain hitam yang menutupi kepala sedikit pun tidak masuk udara karena semua jendela mobil yang juga tertutup. Hanya suara-suara yang tidak jelas gambarannya yang dapat Astrid dengar. Semula suara itu terdengar ramai--deru mesin, klakson kendaraan, hingga orang bercakap--tapi kini sepi dan yang terdengar hanyalah suara napas Sammy yang pendek-pendek.
"Bu ... Sammy sesak," keluhnya untuk ke sekian kali.
Terdengar desahan dari arah belakang. "Bisakah kau menutup mulut bocah itu?!"
"Jangan membentaknya!" seru Astrid frustrasi, pelukannya pada Sammy kian erat.
"Bu ... Sammy takut," ucap bocah itu lirih.
Astrid terisak di sela bisikan, "Ibu di sini, Nak."
Terdengar desahan kasar lagi, masih dari arah yang sama, Liora buru-buru menengahi. "Ivan, sudahlah."
Setelah perjalanan panjang, mobil berhenti diikuti suara hantaman keras. Dapat Astrid rasakan perbedaannya, kini tidak ada lagi cahaya yang masuk menembus kain. Terasa berada di tempat gelap dan sepi. Pintu mobil terbuka, para penumpang turun dan yang terakhir memerintahkan Astrid untuk turun juga. Wanita itu pun melepaskan pelukannya yang langsung disambut rengekan Sammy.
"Tenang Sammy, Ibu turun dulu. Ibu tidak bisa membawamu turun kalau mata Ibu ditutup," jelas Astrid.
"Jangan tinggalin Sammy ...," rengek bocah itu lagi.
"Tidak akan, Sammy. Ibu tidak akan meninggalkanmu," balas Astrid lembut.
Astrid turun dengan perlahan sekaligus hati-hati, tangannya meraba pintu--mencari pegangan agar tidak terjatuh--sambil mendaratkan kaki. Seperti jalanan beraspal, itulah yang Astrid rasakan. Segera, dia menarik Sammy untuk turun. Kepala bocah itu dilindunginya agar tidak terbentur.
"Hati-hati," ucap Astrid pelan.
Kaki kecil Sammy memijak di aspal, orang yang terakhir turun langsung mendorong ibu dan anak itu untuk berjalan. Cahaya kembali menembus kain, tapi seiring langkah mereka cahaya itu perlahan hilang. Derap langkah kian terdengar keras ketika memasuki lingkungan tanpa cahaya. Astrid mendengar salah satu dari mereka terbatuk-batuk, meyakini bahwa tempat itu pastilah berdebu.
Tiba ketika ibu dan anak itu dijatuhkan ke matras. Sammy langsung menjerit dan Astrid respons menggerak-gerakkan tangannya, mencari bocah itu. Kain ditarik, sekarang jelaslah seperti apa tempat itu. Garasi tua yang sudah lama ditinggalkan, cahaya menyorot masuk di ujung ruangan; berasal dari atap yang bolong, dan beberapa perkakas terbuang di pinggir-pinggirnya.
Astrid menarik Sammy kembali ke pelukan. "Apa yang kalian lakukan?"
"Tinggalkan mereka!"
Suara bariton muncul dari arah kegelapan, Astrid menoleh ke arah suara sambil mempererat pelukan dengan Sammy. Perlahan sosok itu menunjukkan batang hidungnya. Seorang pria kira-kira berusia 40 tahunan, rambut coklat, di tubuhnya terbalut dengan sempurna jas berwarna abu metalik. Astrid menatap pria itu horor, Sammy disembunyikannya ke dalam dekapan. Pria itu kemudian berlutut di depan Astrid, ketakutan di wajah wanita itu menarik sudut bibirnya.
Dengan bibir gemetar Astrid bertanya, "Si-siapa kau?"
"Tenang saja, kami tidak akan menyakitimu dan juga dia," balasnya.
"Ibu, siapa itu?" Sammy bertanya dari dalam dekapan.
"Tidak apa-apa, Sayang," jawab Astrid dengan suara tercekat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Denouement
ActionSuatu pagi, si tetangga bercerita kepada Celsea bahwa dia mempunyai sahabat pena dari Korea. Hal itu membuat Celsea penasaran seperti apa rasanya memiliki sahabat pena sehingga mencobalah dirinya membuat surat untuk seseorang yang didapatkannya dari...
