Bab 8

61 40 34
                                        

"Astaga!" Celsea menjerit dalam posisi menangkup, kedua tangan di atas kepala; melindunginya. Keringat membanjiri wajah, air mata tak kuasa dikeluarkan sekalipun mata sudah terasa panas. "Aku tidak mau mati!"

"Celsea, tenanglah!" seru Gerry dengan napas tercekat.

Ketegangan terjadi di jalur 44 pagi itu. Sebuah mobil SUV abu, yang tidak lain kendaraan Gerry, tengah dikepung mobil-mobil polisi. Mobil SUV hitam yang tadi menabrak dan mobil van hitam pun turut mengepung. Para polisi keluar dari mobil dan menodong pistol di belakang pintu terbuka, sementara sepasukan lain keluar dari mobil van beserta alat berat yang siap memecahkan kaca mobil.

Gerry memikirkan strategi melarikan diri selagi pasukan itu sedang mempersiapkan alatnya. Mengetahui mobilnya bukanlah kendaraan berkeamanan tinggi, sudah dipastikan alat itu dapat semakin menghancurkan badan samping mobil yang telah dihantam sebelumnya, hanya dengan sekali serangan.

"Siap! Dalam hitungan ketiga!"

Celsea memejam erat. "Gerry, apa yang mereka lakukan?"

"Menghancurkan kaca mobil," jawab Gerry sambil memandang ngeri alat tersebut.

"Tidak!" jerit Celsea, membuat suaranya semakin tercekat. "Tidak, tidak, tidak. Aku tidak mau mati."

"Celsea, kau bisa mepet ke kanan?" tanya Gerry.

Celsea mengangguk cepat--meski dia tahu Gerry tidak mungkin melihat--kemudian menuruti perkataan pria itu, menggeser ke kanan sampai mepet ke pintu. Telinga gadis itu meradang ketika anggota pasukan berseru, membuatnya semakin tertekan hingga detak jantung tidak beraturan. Gerry mengembus pelan setelah otaknya berputar mencari strategi, kepungan para polisi bersama orang-orangnya benar-benar tidak memberi celah sedikit pun. Di tangan kanan sudah dipegang pistol.

"Tiga, hancurkan!"

Sekali hantaman, alat itu berhasil memecahkan kaca, kepingannya menyembur hingga ke tubuh Celsea. Dia berteriak sekencang-kencangnya, merasakan hantaman yang membuat mobil miring ke kanan.

Para polisi bersiap menembak setelah pasukan bergerak mundur. Pasukan bergerak, Gerry melepaskan tembakan ke arah tanah sebagai pengecohan, kemudian ke arah para polisi. Beberapa yang tumbang, memberi sedikit celah untuk melarikan diri. Gerry dengan cekatan tancap gas, membawa mobilnya menuju celah, menghindari tembakan-tembakan yang balas meluncur akibat perbuatannya.

Celsea tidak berani membuka mata, suara-suara tembakan membuatnya terbujur kaku. Merasakan mobil laju kembali, dia bertanya, "Gerry, apa yang terjadi?"

Gerry tidak menjawab, terlalu fokus membawa kendaraan dengan kecepatan tinggi. Celsea ingin sekali bangun dari tangkupan karena punggungnya sudah sakit, tapi mengingat bahaya yang mungkin saja datang kembali dia mengurung niat tersebut. Suara-suara klakson bersahutan, semuanya dilemparkan ke arah mobil yang dikendarai Gerry.

Sementara waktu, tidak terjadi tembakan. Namun, hal itu tentu tidak berlaku untuk waktu lama. Gerry melajukan mobil lebih kencang, berusaha sejauh mungkin dengan mobil kelompok tadi yang pasti mengejar. Celsea hanya bisa mengatur napas, tubuh tegangnya menimbulkan sakit di seluruh otot.

Di belakang sana, polisi yang tersisa dengan penuh amarah mengejar target mereka. Perlahan jaraknya kian menipis dengan mobil SUV abu. Meskipun jarak masih 30 meter ke mobil incaran, polisi sudah melepaskan tembakan, memunculkan respons panik dari pengguna jalan lain. Banyak pengemudi sampai menghentikan mobil mereka secara mendadak.

Akibat hujan peluru, jendela mobil Gerry berhasil meninggalkan jejak berupa lubang-lubang dan retakan. Celsea terus menjerit histeris, masa bodoh dengan sakit di tenggorokan dan suara yang mungkin mengganggu konsentrasi Gerry. Di kursi kemudi Gerry merapatkan punggung ke sandaran, menghindari peluru-peluru yang melesat lewat jendela samping. Tembakan berhenti ketika sang polisi mengisi amunisi, Gerry pun membalas; dua peluru berhasil bersarang di dada si penembak dan tangan si pengemudi. Mobil itu oleng, menyerempet mobil lain.

DenouementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang