10.00 PM
Setengah jam lalu Gerry terjun ke alam mimpi, sementara Celsea untuk menutup mata saja tidak bisa. Sesekali dia menatap Gerry, barangkali kantuknya tertular, tapi yang terjadi kesadarannya semakin terjaga. Beruntung kamar hotel yang dipesan pria itu memiliki jendela menghadap jalan raya sehingga Celsea bisa mengundang rasa kantuk dengan melamun; melihat-lihat suasana keramaian di luar sana.
Di tengah lamunan hipokampus memunculkan ingatan tentang percakapan di telepon siang tadi. Air mata merespons ingatan itu. Celsea pun menyandarkan kepala di meja, membuat air mata yang semula jatuh ke pipi beralih ke benda datar tersebut. Berulang kali jari tangan menghapus tangisan, tapi air mata tidak mau bekerja sama. Sekuat tenaga Celsea menangis dalam diam, mencegah Gerry terbangun dari tidurnya dan melihat hal ini.
Akhirnya, Celsea memutuskan pergi keluar, sekadar jalan-jalan tidak lebih satu jam lamanya. Memikirkan hal itu barulah tangisnya berhenti. Celsea beranjak dari kursi, mengendap ke pintu sambil memandangi Gerry yang tertidur dengan posisi tengkurap. Perlahan dia membuka pintu dan melesat keluar, kakinya berjalan cepat menyusuri lorong yang sepi nan mencekam.
Celsea terus berjalan tanpa menoleh ke belakang dan ke samping. Lukisan-lukisan kuno yang dipajang di dinding lorong baginya seakan hidup dan terus memandangi kepergiannya. Indra pendengaran Celsea menajam tatkala samar-samar terdengar suara obrolan dan tawa. Langkahnya kian melaju suara-suara itu kian keras.
Dan, ketemulah Celsea dengan sumber suara. Berasal dari sekumpulan remaja yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Mereka terdiri dari empat perempuan dan tiga laki-laki, topi ulang tahun menghiasi kepala mereka berikut balon-balon di tangan anak perempuan, tawa mereka tidak berhenti seakan yang dibicarakan sangatlah lucu.
Celsea merasa kikuk ketika langkah para remaja itu mulai mendekat. Entah dia harus menutup mata, memalingkan wajah, atau menunduk ketika mereka lewat karena para perempuan itu memakai bikini yang ternilai vulgar dan laki-laki yang bertelanjang dada. Handuk kimono yang seharusnya mereka pakai, tapi digantung di pundak begitu saja.
Tiba-tiba Celsea tersenyum miris. Aku merindukan tawa. Semoga semua ini cepat berakhir.
Tanpa dia sadari, langkahnya sudah mepet dengan dinding. Celsea segera mempercepat langkah dan menghilang di belokan ke arah lift, setelah sudut mata menangkap salah satu dari remaja itu meliriknya diam-diam. Tiba di lobi Celsea mengembus lega. Perjalanan dari kamar benar-benar penuh tekanan, seolah dirinya baru saja menyelesaikan rintangan di Hunger Games. Dia memutuskan segera keluar sebelum orang-orang hotel memandangnya aneh.
Celsea berbelok ke kiri dari pintu masuk samping menuju tempat parkir belakang hotel, setelah muncul sebuah ide. Jalan di belakang hotel sangat sepi, Celsea melangkah dengan penuh hati-hati. Jejeran toko-toko yang sudah tutup saat malam hari ini terlihat seperti bangunan yang sudah lama ditinggalkan.
Mata hijau gadis itu tiba-tiba membulat, kakinya langsung berlari membawa tubuhnya bersembunyi ke balik boks sampah. Di sana dia mengintip seorang pria yang sedang mengunci mobilnya. Ada alasan dia bersembunyi; bukan karena takut dicurigai kemudian diteriaki penjahat, tapi karena mobil Audi A3 berwarna putih milik pria itu yang tebar pesona di bawah langit malam. Gadis itu menarik sudut bibir.
Celsea keluar dari persembunyian, berjalan santai layaknya penginap hotel--tapi benar bukan?--yang baru pulang larut malam setelah banyak kegiatan di luar sana. Jarak ke pria itu kian mendekat, Celsea mempercepat langkah sambil sedikit menunduk, tampangnya dibuat gelisah seolah ada rasa akan orang jahat yang sedang membuntuti. Ditabraklah pria itu, keduanya sama-sama terkejut dan bertukar pandang.
"Maaf, Tuan. Aku sangat terburu-buru," mohon Celsea, dibuat-buat tentunya.
Pria itu tersenyum, tampaknya dia mengerti bagaimana kondisi perempuan bila sendiri di luar malam-malam seperti ini. "Tidak apa-apa. Kau tinggal di sini atau hendak pulang?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Denouement
ActionSuatu pagi, si tetangga bercerita kepada Celsea bahwa dia mempunyai sahabat pena dari Korea. Hal itu membuat Celsea penasaran seperti apa rasanya memiliki sahabat pena sehingga mencobalah dirinya membuat surat untuk seseorang yang didapatkannya dari...
